logo


Pengamat: Penggunaan Padi Hibrida Terkendala Sosialisasi Pemerintah

petani sebagai pengguna, mengalami berbagai kendala dalam memanfaatkan benih unggul.

1 September 2016 15:52 WIB

Petani memegang hasil panen padi hibrida.
Petani memegang hasil panen padi hibrida. dok. Jitunews

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pengamat Pertanian Khudori mengatakan bahwa masih kurangnya pemanfaatan padi unggul jenis hibrida di tanah air lebih dikarenakan masih kurangnya langkah sosialisasi dari pemerintah dan para penyuluh di lapangan.

"Pemerintah pada saat ini tengah mengupayakan langkah pengembangan jenis padi hibrida kepada para petani, namun kesulitannya para petani masih nyaman dengan varietas lokal yang ada dan belum ada langkah sosialisasi yang baik dari pihak pemerintah terkait dengan pemanfaatan jenis padi tersebut,” demikian kata Khudori, saat dihubungi Jitunews.com, Kamis (1/9).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa komoditas berass adalah komoditas strategis dalam pembangunan pertanian Indonesia. Pada saat ini banyak upaya untuk meningkatkan produksi beras nasional, salah satunya dengan peningkatan produktivitas dan pemanfaatan teknologi berupa varietas unggul padi hibrida.


Akibatkan Kerugian Besar, Bupati Bekasi Dukung Mentan Pidanakan Pelaku Disfungsi Lahan Pertanian

Ia juga menjelaskan bahwa faktor utama yang menjadi pertimbangan dalam pengembangan varietas unggul padi adalah preferensi dan keinginan petani untuk memilih dan menggunakan benih unggul yang sesuai. Namun, petani sebagai pengguna, mengalami berbagai kendala dalam memanfaatkan benih unggul.

"Petani masih tidak terlalu paham bagaimana memanfaatkan jenis padi varietas unggul hibrida, bagaimana proses pengolahannya, perawatannya, maka perlu melakukan langkah sosialisasi yang baik kepada para petani," demikian katanya.

Ia juga mengatakan bahwa di samping masih kurangnya langkah sosialisasi, harga benih yang dianggap mahal bagi petani masih menjadi masalah sehingga agak kesulitan dalam perbanyak benih padi.

"Di beberapa tempat kan harga jenis padi varietas unggul ini masih cukup mahal, mungkin itu juga menjadi kendala," ujarnya.

Selain karena masih kurangnya minat petani dari setiap jenis varietas-varietas unggul baru yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun perusahaan multinasional, jenis varietas unggul yang dihasilkan pun ada kendala pada kondisi demografis, ekonomi, sosial, budaya, keluarga, psikologis dan faktor-faktor lainnya.

Untuk itu Khudori menegaskan, pemerintah perlu menggalakkan sosialisasi penggunaan padi hibrida terhadap para petani di seluruh pelosok negeri guna meningkatkan pemanfaatan padi hibrida di tanah air. Peningkatan penggunaan benih padi hibrida tersebut jelas bakal meningkatkan hasil produksi beras nasional dan meminimalisir kebijakan impor beras.

Untuk diketahui, saat ini pemanfaatan padi hibrida di Indonesia baru mencapai 1 hingga 2 persen saja dari total lahan persawahan Indonesia yang mencapai 12 juta hektare. Hal itu jauh lebih kecil dengan pemanfaatan padi hibrida di negara lain seperti China dan Vietnam yang kini sudah mencapai 60 persen. Menurut Khudori, dengan catatan statistik tersebut, tidak ada cara lain bagi pemerintah selain menggalakkan pemanfaatan padi hibrida bila pemerintah Indonesia serius untuk tidak lagi melakukan kebijakan impor beras.

Kementan: Pupuk 2020 Cukup

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Syukron Fadillah