logo


Brunei Darussalam Butuh Bibit Padi Produktivitas Tinggi

PT Biogene telah diberi kepercayaan untuk mencobakan benih padi mereka yang sukses menghasilkan rata-rata 13 ton GKP di tiap hektar lahan tanam di Indonesia

1 September 2016 15:44 WIB

Menteri Pertanian Dato Seri Setia Haji Ali bin Haji Apong.
Menteri Pertanian Dato Seri Setia Haji Ali bin Haji Apong. Puspen TNI

BRUNEI DARUSSALAM, JITUNEWS.COM- Untuk meningkatkan pasokan beras di dalam negeri serta mengurangi kuota impor beras, negara Brunei Darussalam membutuhkan bibit padi dengan tingkat produktivitas yang tinggi.

Hal itu diungkapkan oleh Menteri Sumber-sumber Utama dan Pelancongan (Menteri Pertanian) Dato Seri Setia Haji Ali bin Haji Apong.

Brunei, terang Menteri Pertanian (Mentan) Dato Seri, sedang berusaha memperoleh berbagai jenis bibit padi baru yang sanggup menghasilkan lebih dari 12-13 ton gabah kering panen (GKP) di tiap hektar lahan tanam.


Biogene Plantation Targetkan Sentralisasi Benih Padi Hibrida di Lahan 600 Ha

“Sekarang kita punya beras yang mampu hasilkan 8 ton per hektar. Jadi, belum mencapai sasaran target yang sebesar 13 ton per hektar,” kata Dato Seri, dalam acara Penuaian Padi Tanaman Produk Biogene dari Indonesia dengan kerjasama Kementerian Sumber-sumber Utama dan Pelancongan di ladang padi, Kampung Wasan, Brunei Darussalam.

Menurut Dato Seri, PT Biogene telah diberi kepercayaan untuk mencobakan benih padi mereka yang sukses menghasilkan rata-rata 13 ton GKP di tiap hektar lahan tanam di Indonesia. Setidaknya ada tiga jenis benih padi milik PT Biogen telah diperkenalkan di Brunei.

Salah satu dari tiga benih padi itu mampu menghasilkan 9 ton GKP per hektar dalam penanaman percobaan pertamanya. “Ini sebagai percobaan pertama dulu, selepas percobaan dua atau tiga kali, kita akan tahu produktivitas rata-rata yang diperoleh dari benih itu,” ujar Dato Seri.

Dato Seri menilai bahwa penanaman bibit padi PT Biogene terbilang menarik. Sebab, tanah di Brunei dan Indonesia jelas berbeda. Menurutnya, Brunei memiliki jenis tanah berbeda dengan tingkat keasaman yang lebih tinggi dibanding tanah di Indonesia. Ia kemudian membandingkan dengan tanah di Surabaya. "Berbeda pastinya, Surabaya mempunyai tanah gunung berapi yang subur, sehingga bisa hasilkan 13 ton per hektar," jelasnya.

“Oleh karena itu, kami buka peluang kepada produsen-produsen yang mampu memberi bibit padi produktivitas tinggi. Kami akan sediakan tanah seluas 500 hektar untuk tanam padi. Sebanyak 150 hektar, dibuka di Kampung Panchor Murai dan diperuntukan untuk siapa saja. Dengan syarat, bisa panen sekurang-kurangnya 8 ton per hektar,” tandas Dato Seri.

Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Brunei Darussalam, Nurul Qomar mengatakan bahwa kerja sama dalam pertanian itu dijalankan untuk pertama kalinya oleh PT Biogene.

Walaupun berlainan tanah, menurut Nurul, Indonesia mempunyai teknologi yang bisa digunakan untuk menyuburkan tanah di Brunei Darussalam. Seperti percobaan penanaman padi di Kalimantan yang juga mempunyai masalah yang sama seperti di Brunei. Namun dengan berbagai teknologi terbukti berhasil.

Dari pihak PT Biogene, Nasikin menjelaskan bahwa ada tiga varietas padi yang ditanam di Brunei. Ketiganya merupakan varietas padi hibrida yang terdiri dari Sembada B9, Sembada 168, dan Sembada 989.

"Saat ini kami belum mencapai hasil panen yang maksimal karena tanah yang berbeda dan beberapa penyakit yang menyerang. Tapi seiring berjalannya waktu, kami yakin sanggup mencegahnya. Sembada B9 yang ditanam menghasilkan lebih banyak padi dibanding dengan Sembada 168. Kalau secara umum, ketiga produk kami ini mempunyai potensi baik," ujar Nasikin.

 

Benih Padi Unggul Sembada Dukung Kedaulatan Pangan Dunia

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro