logo


Benih Padi Hibrida Indonesia Sembada Mengungguli Padi dari Negara Lainnya

"Sembada B9 yang ditanam di ladang padi Wasan menghasilkan lebih banyak padi. Dan itu berbanding dengan Sembada 168"

1 September 2016 13:16 WIB

Bapak Nasikin, pihak padi hibrida Sembada 168
Bapak Nasikin, pihak padi hibrida Sembada 168 dok. Jitunews

BRUNEI DARUSSALAM, JITUNEWS.COM- Selasa kemarin, 30 Agustus 2016, Menteri Pertanian (Mentan) Brunei, Dato Paduka Awang Haji Ali bin Haji Apong menghadiri acara “Panen Padi Unggul Varietas Sembada B9” di Kawasan Pertanian, Distrik Wasan, Brunei Darusalam.

Dalam gelaran panen padi itu Indonesia patut berbangga. Sebab, padi yang digunakan merupakan varietas asal Indonesia yang dihasilkan oleh PT Biogene Plantation. Bukan sembarang varietas padi, padi itu merupakan varietas padi hibrida dengan tingkat produktivitas yang tinggi.


Kerja Sama Lintas Sektor, Kunci Sukses Gapai Swasembada Pangan

Dalam kesempatan itu, Wakil Dirut PT Biogene Plantation, Nasikin mengungkapkan bahwa pihaknya menanam tiga jenis varietas padi hibrida. Ketiga varietas itu terdiri dari Sembada B9, Sembada 168, dan Sembada 188.

"Sembada B9 yang ditanam di ladang padi Wasan menghasilkan lebih banyak padi. Dan itu berbanding dengan Sembada 168. Ini percobaan pertama. Meski tanahnya masam dan banyak penyakit-penyakit yang menonjol, tapi kami sanggup mencegahnya," terang Nasikin.

Nasikin meyakini bahwa produk yang dihasilkannya memiliki potensi yang baik. Sebab, untuk di Indonesia, sambung Nasikin, pihaknya sudah beberapa kali melakukan panen raya menggunakan varietas padi hibrida.

"Sudah kami lakukan di beberapa wilayah Indonesia. Seperti di Trenggalek, Kalimantan, hingga Jawa Barat. Semua menunjukkan peningkatan yang baik," ungkap Nasikin, ketika dihubungi jitunews.

Masih dalam kesempatan yang sama, Mentan Brunei mengungkapkan bahwa PT Biogene Plantation telah diberi kepercayaan untuk mencoba benih padi mereka. Menurutnya, dari tiga jenis padi yang diperkenalkan PT Biogen di Brunei, salah satunya mampu menghasilkan 9 ton gabah kering panen (GKP) per hektar lahan.

“Sembilan ton itu sebagai percobaan pertama, setelah percobaan kedua dan ketiga barulah kita akan mengetahui jumlah panen sebenarnya dari varietas itu," ungkap Mentan Brunei.

Bukan tanpa alasan, percobaan penanaman padi asal Indonesia ini dilakukan lantaran pemerintah Brunei membutuhkan benih padi yang memiliki nilai produktivitas tinggi, sehingga sanggup mengurangi kuota impor negara.

"Brunei sedang berusaha mendapatkan berbagai jenis benih padi baru yang mampu menghasilkan lebih dari 12-13 ton GKP per hektare seperti prestasi yang pernah dicapai oleh padi hibrida Biogene di provinsi Kalimantan Timur. Ini juga untuk menambah keuntungan kepada para petani," ungkap Mentan Brunei.

Strategi Kementan Hadapi Dominasi Musim Kering di NTT

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro