logo


Atasi Kebakaran Hutan, BPPT dan TNI AU Bakal Lakukan Modifikasi Cuaca

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT melaksanakan pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)

30 Agustus 2016 15:49 WIB

Pembukaan kegiatan TMC.
Pembukaan kegiatan TMC. Dispen AU

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kebakaran lahan dan hutan di musim kemarau sering terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Di Kalimantan Barat, kebakaran lahan dan hutan sudah biasa terjadi setiap tahun pada musim kemarau. Pemerintah pusat dan daerah dibantu pihak-pihak berkompeten serta masyarakat bahu-membahu melaksanakan pencegahan dan pemadaman lahan yang terbakar.

Untuk menanggulangi bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT melaksanakan pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Bertempat di Graha Teddy Kustari Lanud Supadio, hari Selasa, tanggal 30 Agustus 2016 dilaksanakan pembukaan kegiatan TMC yang diikuti Komandan Lanud Supadio, Marsma TNI Tatang Harlyansyah; Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA), Prof. Ir. Wimpie Agoeng Noegroho A; BPBD Kalbar; BMKG; PT. Angkasa Pura II Bandara Supadio; Airnav Pontianak; dan puluhan anggota gabungan Lanud Supadio baik Skadron Udara 1, Skadron Udara 51, Batalyon 465 Paskhas dan Denhanud 473 Paskhas.

Danlanud Supadio mengatakan, salah satu tugas pokok TNI dalam masa damai adalah operasi militer selain perang atau OMSP. Termasuk di dalamnya antara lain turut membantu menanggulangi dampak bencana alam dan pemberian bantuan kemanusiaan yang merupakan salah satu tugas perbantuan yang harus dilaksanakan oleh TNI sebagai implementasi OMSP.


APRIL Umumkan Periode Bahaya Kebakaran

“Dengan amanat tersebut, TNI selalu berupaya tampil dan terlibat langsung dalam setiap penanggulangan bencana, termasuk pencegahan dan pengendalian kebakaran lahan dan hutan. Atas dasar pemahaman ini, maka peran TNI dalam turut serta menanggulangi setiap bencana, selalu diupayakan secara optimal dengan menciptakan keselarasan dan keserasian dengan instansi lain.

Prof. Ir. Wimpie Agoeng Noegroho menambahkan, bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan selama tahun 2015 menyisakan trauma yang dalam bagi masyarakat Sumatera dan Kalimantan khususnya serta Indonesia pada umumnya.

”Pada tahun 2015, beberapa lembaga riset dunia dan badan-badan meteorologi beberapa negara di dunia menyatakan adanya kejadian El Nino kuat, bahkan kondisi ini berlangsung hingga triwulan pertama tahun 2016 dan baru mulai menurun pada bulan April 2016,” katanya.

Ia menambahkan, adanya kejadian El Nino tersebut secara umum telah mengurangi intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia termasuk Sumatera dan Kalimantan. Berdasarkan lembaga riset dunia, sejak bulan Juni 2015 peluang terjadinya El Nino semakin menurun berbalik menjadi kondisi netral dan bahkan ada kecenderungan La-nina.

”Namun berdasarkan data yang ada di lapangan tampak bahwa sejak awal bulan Maret hingga April 2016 mulai muncul hotspot di wilayah Kalimantan dan memasuki bulan Mei hingga Agustus 2016 jumlah hotspot yang terdeteksi meningkat di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Dengan kondisi ini, pemerintah tidak berani ambil resiko, upaya antisipasi harus tetap dilaksanakan untuk menghindari timbulnya ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan di beberapa provinsi rawan kebakaran hutan dan lahan seperti Sumatera dan Kalimantan,” jelas Deputi Kepala BPPT bidang TPSA.

APRIL Group Berkomitmen Cegah Kebakaran Hutan di Indonesia

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan