logo


Slamet Soebjakto: Budidaya Lele Metode Bioflok Terbukti Dongkrak Produksi Ikan

Budidaya lele ini menjadi lebih ramah lingkungan, hemat dalam penggunaan air dan pakan serta dapat dilakukan di lahan yang terbatas

27 Agustus 2016 16:15 WIB

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto. dok. Jitunews

BANDUNGAN, JITUNEWS.COM - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), mendorong penyebaran teknologi bioflok untuk budidaya lele. Pasalnya, budidaya lele dengan menggunakan teknologi bioflok telah terbukti mendorong peningkatan produksi ikan lele.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan percontohan budidaya lele sistem bioflok di Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) Karya Mina Sejahtera Bersama di Desa Duren, Kec. Bandungan, Kab. Semarang, Jawa Tengah.

“Teknologi bioflok telah terbukti meningkatkan produksi lele di lahan yang terbatas. Di samping itu, budidaya lele menjadi lebih ramah lingkungan, hemat dalam penggunaan air dan pakan serta dapat dilakukan di lahan yang terbatas,” tutur Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada saat melakukan penebaran benih lele, sebagai tanda dimulainya percontohan budidaya lele sistem bioflok di Desa Duren, Kec. Bandungan, Kab. Semarang, beberapa waktu lalu.


KKP-AAUI Luncurkan Asuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil

Lebih lanjut Slamet menambahkan bahwa budidaya lele dengan sistem bioflok ini efektif dan mampu mendongkrak produktivitas lahan.

“Dengan lahan yang terbatas, produksi lele masih dapat di tingkatkan, di samping itu biaya produksi juga dapat di tekan dan waktu budidaya juga lebih singkat, jika dibandingkan dengan budidaya lele dengan cara konvensional,” tambah Slamet.

“Sebagai gambaran, satu lubang atau satu kolam bioflok dengan kapasitas air 10 m3, dengan modal kurang lebih Rp 5 juta rupiah, dapat di panen lele kurang lebih sebanyak 1 ton secara parsial selama kurun waktu 2,5 bulan. Apabila harga lele konsumsi adalah Rp 15 ribu per kilogramnya, maka akan dapat diperoleh hasil kurang lebih Rp 15 juta. Jadi pembudidaya akan mendapatkan keuntungan sekitar Rp 10 juta, selama kurun waktu 2,5 bulan untuk wadah satu lubang,”papar Slamet.

Dikatakan Slamet, produksi lele secara nasional dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2011-2015) mengalami peningkatan 21,31 % per tahun. Dari 337.577 ton pada tahun 2011, menjadi 722.623 ton pada 2015.

“Peningkatan produksi lele per tahun yang mencapai 21,31 % ini merupakan kenaikan terbesar di bandingkan dengan komoditas air tawar lainnya seperti nila, mas, patin dan gurame. Ini juga menjadi bukti bahwa pemanfaatan teknologi yang ramah lingkungan serta efisien, mampu meningkatkan produksi ikan,” pungkas Slamet.

 

Beredar Surat Mengatasnamakan KKP Minta Transfer, Slamet Soebjakto: Hoaks

Halaman: 
Penulis : Riana