logo


Majelis Buhuts Al Islamiyah dan HTI Serukan Tolak Kepemimpinan Kafir di Indonesia

Diskusi itu sendiri ialah mengenai tentang haramnya kepemimpinan kafir bagi umat Islam.

25 Agustus 2016 15:33 WIB

Diskusi dan dialog antara Majelis Buhuts Al Islamiyah dengan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang membahas tentang haramnya kepemimpinan kafir bagi umat Islam di Aula Masjid Baiturrahman Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (25/8).
Diskusi dan dialog antara Majelis Buhuts Al Islamiyah dengan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang membahas tentang haramnya kepemimpinan kafir bagi umat Islam di Aula Masjid Baiturrahman Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (25/8). Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kamis, 25 Agustus 2016 bertempat di Aula Masjid Baiturrahman Tebet Jaksel, para alim ulama Jakarta dan sekitarnya peserta Majelis Buhuts Al Islamiyah bersepakat menolak orang kafir dipilih dan diangkat menjadi pemimpin.
 
Pertemuan itu sendiri adalah bersifat diskusi dan dialog antara Majelis Buhuts Al Islamiyah dengan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Adapun perwakilan HTI yang datang dalam diskusi tersebut ialah Ketua DPP HTI Rokhmat S. Labib, Jubir HTI M. Ismail Yusanto,  Ketua DPD HTI DKI Jakarta Tisna As-Sirbuni.
 
Diskusi itu sendiri ialah mengenai tentang haramnya kepemimpinan kafir bagi umat Islam. Dalam forum diskusi tersebut, para alim ulama menghasilkan kesepakatan, yakni menolak orang kafir dipilih dan diangkat sebagai pemimpin, menyerukan kepada segenap kaum muslimin untuk benar-benar memperhatikan ketentuan syariat tentang kepemimpinan termasuk haramnya memilih pemimpin kafir, mengajak seluruh umat Islam untuk bersama-sama berjuang dengan sungguh-sungguh menegakkan syariat secara total dalam naungan khilafah rasyidah.
 
"Kewajiban ulama sebagai warasatul anbiya' adalah menyampaikan yang haq dan menolak yang bathil, amar ma'ruf nahi munkar dan mengkoreksi penguasa (muhasabah lilhukkaam), dan selalu memperhatikan urusan-urusan kaum muslimin (ihtimam biamri al muslimin). Dan dalam pandangan Islam haram memilih dan mengangkat orang kafir menjadi pemimpin bagi kaum muslimin sebagaimana firman Allah SWT "Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman" (QS An-Nisaa: 141)," jelas KH M. Shoffar Mawardi, Khadimul Ma'had Daarul Muwahid, Srengseng Jakarta Barat.
 
 
Rokhmat Labib menegaskan bahwa, "Haramnya mengangkat orang kafir menjadi pemimpin telah menjadi ijma' (kesepakatan) para ulama, Ibnu Hazm (456 H) berkata 'Dan mereka (para ulama) telah sepakat bahwa kepemimpinan tidak diperbolehkan! bagi perempuan, orang kafir, anak kecil yang belum baligh dan juga tidak diperbolehkan bagi orang gila' (maratib al-ijmaa hal. 208).".
 
"Islam sebagai sistem kehidupan dari Allah SWT adalah satu-satunya sistem kehidupan yang terbaik dan tidak ada sistem yang lebih baik darinya. Untuk mewujudkan Islam rahmat bagi segenap alam dan seisinya termasuk manusianya, maka syaratnya Islam harus diterapkan secara total menyeluruh (kaffah), dan agar dapat kaffah maka harus ada pemimpin yang menerapkannya, sebagaimana Al-Imam al-Nawawi dalam Rawdhat al-Thalibin wa Umdatu al Muftin: 'menjadi keharusan bagi umat adanya seorang imam yang bertugas menegakkan agama, menolong sunnah, membela orang yang dizhalimi, menunaikan hak dan menempatkan hak pada tempatnya'. Oleh karenanya syarat penting pemimpin adalah seorang muslim; dan bila dia bukan muslim, bagaimana mungkin dia dapat menerapkan syariat Islam dan menegakkan amar ma'ruf nahi munkar?", ujar M. Ismail Yusanto.

Seorang Taruna Diduga Pendukung HTI, Fahri: Habis #BersihDiriPKI Terbitlah #TerpaparHTI

Halaman: 
Penulis : Syukron Fadillah