logo


Selamatkan Petani Tembakau, Selamatkan Indonesia

Kunci untuk menyelamatkan petani tembakau yang jumlahnya mencapai 6,3 juta adalah secepatnya membatasi impor.

31 Juli 2016 14:34 WIB

Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mendesak Pemerintah dan DPR RI segera mengesahkan RUU Pertembakauan sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan petani tembakau Indonesia. Pasalnya, kata Yenny, kedaulatan petani tembakau saat ini terancam seiring dengan maraknya tembakau impor yang menyerbu Indonesia, utamanya dari Tiongkok.
Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mendesak Pemerintah dan DPR RI segera mengesahkan RUU Pertembakauan sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan petani tembakau Indonesia. Pasalnya, kata Yenny, kedaulatan petani tembakau saat ini terancam seiring dengan maraknya tembakau impor yang menyerbu Indonesia, utamanya dari Tiongkok. istimewa

TEMANGGUNG, JITUNEWS.COM – Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mendesak Pemerintah dan DPR RI segera mengesahkan RUU Pertembakauan sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan petani tembakau Indonesia.

Pasalnya, kata Yenny, kedaulatan petani tembakau saat ini terancam seiring dengan maraknya tembakau impor yang menyerbu Indonesia, utamanya dari Tiongkok.

"Tembakau merupakan aset bangsa Indonesia. Karena itu, negara harus segera membuat undang-undang yang memayungi kepentingan petani tembakau dan bertumpu pada nilai-nilai kesejahteraan," ujar Yenny Wahid, saat menghadiri acara 'Songsong Negeri Tembakau', prosesi petik perdana panen tembakau 2016 bersama petani tembakau Dusun Seman, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Sabtu (30/7).
 
Kedatangan Yenny, yang didampingi Ketua DPD Jawa Tengah Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Wisnu Brata, disambut oleh ibu-ibu petani tembakau. Mereka kemudian mengiring putri presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid itu ke lahan perkebunan, dan bersama-sama petani memetik daun tembakau sebagai penanda diawalinya musim panen 2016. Sesudahnya, acara diisi dengan pergelaran kesenian tari Negeri Tembakau, dilanjutkan dengan arak-arakan tumpeng dan ambeng-ambengan (semacam sesaji berupa makanan aneka rupa) sebelum ditutup dengan doa.
 
Menurut Yenny, prosesi petik perdana tembakau di Temanggung merupakan momentum untuk melakukan refleksi atas eksistensi petani tembakau dalam konteks budaya bercocok tanam. Karenanya, momen panen harus mencerminkan sikap optimistik bahwa ke depan budaya bercocok tanam tembakau masih akan berlangsung dengan membanggakan bagi komunitas petani penanamnya.
 
"Hal ini mengingat, berkah alam yang diberikan telah menjadikan tembakau memiliki keunggulan dan dapat memberikan kesejahteraan kepada petani tembakau, di samping efek menetes yang luar biasa. Itu yang membedakan tembakau dengan tanaman lain," kata Yenny, yang menyengaja datang ke Temanggung untuk memberikan dukungan kepada petani tembakau.
 
Yenny mengaku melihat dan mendengar sendiri, para petani tembakau saat ini terancam 'kehilangan dapur' akibat serbuan tembakau impor. Padahal, tidak ada tanaman yang menjadi andalan ekonomi sekaligus tulang punggung penghidupan masyarakat, kecuali tembakau.


Kementan: Tak Ada lagi Impor Benih Jagung

"Selama ini, para petani tembakau terbukti mampu menghidupi keluarga, menyekolahkan anak, hingga membangun masjid dan melestarikan seni tradisi. Indikasi lain, tidak ada warga di daerah ekonomi tembakau yang menerima BLT (bantuan langsung tunai). Itu semua yang terancam oleh tembakau impor," lanjutnya.
 
Yenny Wahid menambahkan, kunci untuk menyelamatkan petani tembakau yang jumlahnya mencapai 6,3 juta itu, tidak bisa tidak, adalah secepatnya membatasi impor tembakau.

"Melihat data impor tembakau yang masuk ke negeri ini, jumlahnya sudah melebihi batas toleransi. Menyelamatkan petani tembakau sama dengan menyelamatkan Indonesia," tuturnya.

Regulasi impor tembakau, diakui Yenny, memang masih longgar. Akibatnya, jumlah tembakau impor selalu meningkat. Hal ini mengakibatkan terjadinya pengalihan kebutuhan industri. Jika dulu menggunakan bahan baku lokal, kini cenderung beralih ke tembakau impor. Lebih jauh, tembakau impor juga berpotensi memicu ambruknya pondasi perekonomian petani lokal di daerah sentra pertembakauan, yang notabene memiliki spesifikasi tanah, cuaca, dan posisi geografis tersendiri.

"Di sini pentingnya pemerintah hadir melalui regulasi yang lebih melindungi petani tembakau. Bukan malah membunuhnya," tegas Yenny.

Kemloko Vs Kemloci
 
Sementara itu, Kepala Desa Wonosari Agus Pamuji mengatakan, petani di desanya memang was-was menghadapi serbuan tembakau impor yang belakangan makin meningkat. Kata Agus, Temanggung merupakan sentra tembakau varietas unggul dengan nama Kemloko. Persoalan muncul, karena saat ini petani Tiongkok telah menanam dan mengembangkan tembakau dengan varietas yang kurang lebih sama.

Mengutip informasi, lanjut Agus Pamuji, petani Tiongkok dewasa ini telah menanam tembakau dengan varietas serupa di atas lahan seluas 200.000 hektar dan sudah panen.

"Mereka (Tiongkok) mengekspornya dengan harga setara Rp 50.000 perkilo. Nama varietasnya diubah menjadi Kemloci, singkatan Kemloko Cina," cetusnya.

Kades Agus meyakini, Kemloci akan menghancurkan tembakau Indonesia. Sebab, harga tembakau Kemloko Temanggung berada di kisaran Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta perkilo, tergantung kualitas.

Serbuan produk pertanian Tiongkok, diakui Agus, pernah memukul petani Temanggung. Itu terjadi ketika terjadi serbuan produk bawang putih impor dari Tiongkok dengan harga murah. Saat itu, bawang putih merupakan tanaman sela yang ditanam petani tembakau Temanggung. Akibat serbuan bawang impor, saat ini tidak ada lagi petani yang mau menanam bawang impor.

"Karenanya, kami berharap, Ibu Yenny Wahid mau menjadi tokoh, Srikandi, yang membela kepentingan petani tembakau," ujar Agus Pamuji

Peran Pemuda Majukan Pertanian di Indonesia Makin Nyata

Halaman: 
Penulis : Syukron Fadillah