logo


Kemanunggalan TNI, Ulama dan Santri Merupakan Kekuatan Bangsa

"Saya titipkan keutuhan NKRI kepada para ulama," ujar Panglima TNI.

19 Juli 2016 14:16 WIB

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo pada Muktamar III Wahdah Islamiyah di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin (18/7).
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo pada Muktamar III Wahdah Islamiyah di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin (18/7). Puspen TNI

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ancaman bangsa Indonesia sangat luar biasa. Sedari itu Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak mampu melakukannya sendiri. Tetapi kini TNI sudah menemukan yang merupakan kekuatan bangsa, yakni Kemanunggalan TNI, ulama dan santri. Demikian dikatakan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, di hadapan 2.500 ulama dan santri pada Muktamar III Wahdah Islamiyah di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin (18/7).

"Para kyai, ulama dan santri telah menjadi soko guru dan pelaku perjuangan. Sebesar apa pun kekuatan TNI tidak akan sanggup melawan kekuatan musuh tanpa dukungan dari rakyat Indonesia, termasuk di dalamnya para kyai atau ulama," tegas Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Panglima TNI juga menyampaikan bahwa, sejarah telah membuktikan makna yang bisa dipetik dari peristiwa 10 November 1945, contohnya adalah bahwa perjuangan dan kepentingan mempertahankan kedaulatan negara berdimensi lintas etnis dan lintas wilayah.

"Siapa pun dan di mana pun kita berada, kita mempunyai kewajiban yang sama untuk membela bangsa dan Negara Republik Indonesia," ujarnya.

Kyai memiliki andil yang sangat besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan Resolusi Jihad yang dikumandangkan KH Hasyim Asyari pada tanggal 22 Oktober 1945. Karena Resolusi Jihad menghasilkan perlawanan yang heroik pada tanggal 10 November 1945 yang kemudian disebut Hari Pahlawan.


Peristiwa Polwan Dipukul Prajurit TNI Disebut Ada Kesalahpahaman

"Seandainya tidak ada Resolusi Jihad, maka tidak ada perlawanan heroik, berarti tidak ada Hari Pahlawan, jika tidak ada perlawanan rakyat Surabaya saat itu, tidak mungkin ada perjalanan bangsa seperti saat ini," kata Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Pada kesempatan tersebut, Panglima TNI mengingatkan para Ulama tentang Strategi Dakwah sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah SAW, yaitu tebarkan salam, jalin silaturahmi atau persaudaraan, saling menasehati, berbuat kebajikan dan cegah kemungkaran.

"Tidak ada kata-kata yang keras, tidak ada kata-kata provokator dan tidak ada kata-kata menjelekkan orang lain, apalagi menjelekkan pemerintah," ujarnya.

Acara Muktamar III Wahdah Islamiyah, ketika para kyai dan da’i berkumpul dengan mengusung tema 'Sejuta Cinta Untuk Indonesia' sama halnya seperti yang terjadi dengan para Wali Songo pada abad ke-15. Saat itu, mereka  berada di Linggar Jati (tempat singgahnya Sunan Gunung Jati) dan merupakan tempat disebarkannya Ilmu Sejati.

Para Wali Songo bermusyawarah untuk seirama dan sependapat serta satu langkah dalam menyebarkan ajaran Agama Islam dan Ilmu Sejati.

"Ilmu Sejati Agama Islam yaitu ilmu yang diturunkan dari Allah SWT lewat Al-Quran, itu Ilmu Sejati yang tidak akan punah sampai kapan pun juga, dan yang menyebarluaskan ya para ulama," katanya.

"Para Ulama pasti mengajarkan kebaikan, tidak ada namanya Ulama mengajarkan untuk berbuat ketidakbaikan, kalau demikian, pasti hidup kita akan aman. Bahkan Panglima TNI pada waktu itu, Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah seorang Ulama dan menjadi guru di Pondok Pesantren," pungkas Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Di akhir ceramahnya, Panglima TNI menyampaikan pesan kepada 2.500 kyai dan da’i agar dalam melaksanakan dakwahnya selalu mengusung kepentingan Bela Negara dan Bangsa.

"Saya titipkan keutuhan NKRI kepada para ulama," ujar Panglima TNI.

Polwan Dipukul Prajurit TNI, PKS: Hukum Perlu Ditegakkan

Halaman: 
Penulis : Syukron Fadillah