logo


Ikut KKN di Mojokerto, Kaesang ‘Risih’ dengan Pengamanan Paspamres

Terkait keterlibatan Kaesang, Herri mengatakan pihaknya tidak akan memberikan perlakuan yang berbeda dengan mahasiswa lain

14 Juli 2016 07:30 WIB

Kaesang berinisiatif mengajak ayahnya, Jokowi, nimbrung masuk dalam vlog-nya.
Kaesang berinisiatif mengajak ayahnya, Jokowi, nimbrung masuk dalam vlog-nya. Youtube

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang merupakan mahasiswa SIM University-Singapore itu, diketahui sedang mengikuti "Community Outreach Program" (COP) alias KKN (kuliah kerja nyata) yang diadakan Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya di Mojokerto, Jawa Timur. Kegiatan KKN itu dimulai dari tanggal 14 Juli hingga 3 Agustus 2016.

"SIM University Singapura memang mitra baru kami dalam COP atau KKN (kuliah kerja nyata) tahunan itu, sehingga sekarang ada sembilan negara yang terlibat COP 2016 yakni dua negara dari Eropa dan tujuh dari Asia," papar Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat UKP, Herri Christian Palit, di Surabaya, Rabu (13/7), dikutip dari Antara.

Ditemui di sela pelepasan peserta COP ke Mojokerto, Herri menjelaskan peserta COP 2016 ada 201 mahasiswa, yang meliputi 141 mahasiswa asing (8 negara) dan 60 mahasiswa Indonesia.


Minta JoMan Tak Polisikan Ubedillah Badrun, Gibran: Saya Tidak Merasa Tercemar

"Ke-60 mahasiswa Indonesia itu tercatat 51 mahasiswa UKP dan 9 mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira-Kupang NTT. Untuk 8 negara itu memang ada 2 negara baru, yakni Singapura dan Inggris, nah anak Presiden itu menjadi peserta dari SIM University. Kolaborasi sembilan negara itu sesuai dengan visi UK Petra untuk menjadi global university," lanjut Herri.

Menurut Herri, peserta COP dari kalangan mahasiswa asing memang terbanyak untuk tahun ini, karena biasanya hanya 100-an mahasiswa asing, namun tahun ini mencapai 141 mahasiswa asing, sehingga kemungkinan ada 3-4 rumah warga Mojokerto yang hanya akan diinapi mahasiswa asing.

Terkait keterlibatan anak Presiden itu, Herri mengatakan pihaknya tidak akan memberikan perlakuan yang berbeda dengan mahasiswa lain, karena tujuan COP bisa tidak tercapai untuk mengubah pola pikir, belajar mensyukuri diri, berinteraksi dengan masyarakat yang berbeda budaya dengan dirinya, dan sebagainya.

"Karena itu, kami tidak memberi perlakuan berbeda agar tujuan COP tercapai, namun perbedaan yang mungkin teknis adalah pengamanan dari Paspamres yang sudah beberapa hari ini di Surabaya dan bahkan meninjau lokasi COP di Mojokerto juga. Kalau soal pengamanan yang berbeda itu kami dapat memahami, meski Kaesang sendiri nggak suka itu," tutur Herri.

Herri menambahkan, COP 2016 yang bertema "Keep Blessing The Nations" itu akan diisi berbagai kegiatan, diantaranya mengajar anak-anak desa, bantuan fisik seperti mengecat sekolah atau mendirikan fasilitas tenaga listrik solar cell, dan atraksi budaya seperti tari dan makanan untuk masyarakat desa.

"Pada akhir kegiatan akan ada refleksi dari para peserta terkait proses COP yang diikuti dan pengalaman hidup bersama masyarakat desa. Biasanya acara ini diwarnai dengan isak tangis karena harus berpisah dengan masyarakat desa. Inilah yang kami sebut dengan bahasa kasih yang universal dengan target menjadi lebih peduli, inter-religious understanding dan sebagainya," pungkas Herri.

 

Ubedillah Dilaporkan JoMan, Demokrat: Tolonglah yang Laporkan Kasus Korupsi Itu Dilindungi

Halaman: 
Penulis : Riana