logo


Permintaan Tinggi, Prospek Bibit Cengkeh Moncer

Derasnya permintaan membuat banyak petani cengkeh masih berharap cuan yang tinggi

6 November 2014 08:57 WIB

ISTIMEWA
ISTIMEWA

CENGKEH masih menjadi komoditas yang menarik untuk dibudidayakan. Pasalnya hingga kini permintaan terhadap bibit cengkeh masih tinggi dan ini menandakan kalau prospek cengkeh kian cerah di 2015.

Derasnya permintaanmembuat banyak petani cengkeh masih berharap cuan yang tinggi. Maklumlah, cengkah termasuk salah satu primadona komoditas unggulan di negeri ini.

Di Indonesia, cengkeh banyak dibudidayakan di kepulauan Banda, dan sekitarnya. Namun kini cengkeh sudah makin tersebar ke seluruh wilayah Indonesia. Cengkeh memiliki banyak kegunaan seperti sebagai bahan campuran bumbu makanan, sebagai bahan baku minyak cengkeh, dan juga campuran rokok kretek.


Peluang Ekspor Akar Gingseng Jepang (Gobo) Terbuka Lebar

Ada tiga jenis cengkeh yang biasa dibudidayakan di Indonesia. Ketiga jenis itu adalah Zanzibar, Sikotok, dan cengkeh Siputih. Ketiganya memiiki keunggulan dan perbedaan. Dari tiga jenis itu, jenis zanzibar dan siputih yang paling banyak dibudidayakan. Hal ini dikarenakan produktivitasnya termasuk tinggi.

Bahkan pada panen pertama, jika pohon cengkeh memiliki perawatan yang baik, bisa menghasilkan hasil panen yang bagus, sekitar setengah kilo cengkeh basah per pohon. Sedangkan jenis cengkeh Siputih atau Putih, memang kurang dalam hal produktivitas jika dibandingkan dengan Zanzibar, namun cengkeh jenis ini cukup tahan akan hama dan penyakit.

Saat ini harga cengkeh kering di kisaran Rp 150.000 per kg. Berdasarkan data Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI) di awal tahun 2014 harga cengkeh sempat menyentuh Rp 170.000 per kg. Adapun musim panen cengkeh adalah pada bulan Juli sampai Oktober. “Untuk produksi cengkeh di tahun 2014 diperkirakan hanya sebesar 80.000 ton atau lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang menembus 100.000 ton,” kata Dahlan Said, Sekjen Asosiasi Petani Cengkih Indonesia (APCI).

Penurunan produksi cengkeh terjadi karena banyaknya penyakit yang menyerang pohon cengkeh. Soalnya dari 400.000 hektar (ha) lahan cengkeh potensial, hanya sekitar 300.000 ha yang potensial menghasilkan.

Tak ayal dengan harga yang gurih itu, sejumlah petani kembali bertanam cengkeh. Akibat tingginya animo petani yang bertanam cengkeh membuat persediaan bibit cengkeh menjadi sulit di pasaran. Petani Kuningan, Ismail juga mengakui sulitnya memperoleh bibit cengkeh.

“Sejak tiga tahun lalu, kami tidak kesulitan dalam pemasaran malah sering kekurangan. Pembelinya selain datang dari Kuningan, juga tak sedikit yang datang dari daerah Ciamis dan Tasikmalaya,” tutur Ismail, saat memeriksa tanamannya di Ciarja, Jawa Barat.

Hampir tiap hari, menurut Ismail, selalu ada orang yang datang untuk membeli bibit cengkeh. Umumnya, mereka membeli satu hingga sepuluh untuk menyulam perkebunan cengkeh. Namun tak sedikit pula yang datang dan kemudian memborong bibit cengkeh milik Ismail .

“Untuk omset yang dihasilkan dari wirausaha pembibitan cengkeh jenis zanzibar ini, alhamdulilah cukup untuk saya dan keluarga. Saat ini, kebanyakan orang memang mulai beralih ke cengkeh jenis ini, karena produktivitasnya yang tinggi, serta masa produknya yang lama.” katanya.

Memanfaatkan lahan berukuran sekitar 15 x 30 meter persegi di daerah Situ Ciarja Kelurahan Cirendang Kuningan, Ismail mampu menyemai bibit cengkeh sampai 4000 pohon dan setelah berumur dua tahun masa tanaman dengan rata-rata memiliki ketinggian 1 meter sampai 1,5 meter, maka bibit tanaman cengkih baru dijualnya.

Ismail mengaku mampu menghasilkan dua kuintal cengkeh kereing atau setara dengan harga 26,6 juta sekali panen. “Saya sudah tiga kali panen bibit, rata-rata menjual 4.000 pohon setiap panen dengan harga antara Rp 40.000 sampai Rp 50.000 per pohon. Menguntungkan bila dibanding tanaman lain,” paparnya.

 

Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kab. Kuningan, Ir. H. Dodi Nurochmatudin, MP, produk komoditi cengkeh selalu berhadapan dengan masalah naik dan turunnya harga dan hal itu sepenuhnya adalah mekanisme pasar.

“Kami hanya bisa menganjurkan kepada para petani untuk berusaha sesuai dengan komoditas yang memberikan keuntungan yang paling besar dan sesuai dengan agroklimatnya. Apabila secara teknis petani membutuhkan bimbingan, BP4K siap membantu dan bahkan kalaupun tidak diminta apabila diketahui secara teknis kurang tepat, maka penyuluh akan meluruskan agar berhasil,” tuturnya.

Selain harganya yang tinggi, ada beberapa keuntungan membudidayakan cengkeh. Salah satunya adalah tidak perlu menunggu musim panen cengkeh untuk mendapatkan cengkeh. Meski demikian untuk mendapatkan cengkeh yang bermutu baik haruslah pandai dalam memilih bibit cengkeh.

Umumnya, bibit yang bagus dan siap tanam memiliki tinggi sekitar 40 – 80 cm. Sehat, dan tidah diserang penyakit serta kekurangan hara. Memiliki akar tunggang yang lurus serta sehat, batang yang tumbuh tunggal dan juga sehat.

Biasanya bibit cengkeh berasal dari biji bermutu baik. Cirinya adalah berwarna kuning mudah hingga ungu kehitaman. Selain itu biji juga tidak boleh ada cacat, tidak berlendir, dan ciri biji yang bagus akan bersemai tepat tiga minggu.

Setelah dua bulan, biji cengkeh tersebut akan tumbuh dan memiliki 4 hingga 7 helai daun. Tunas cengkeh ini kemudian siap dipindahkan ke polibag. Namun demikian, jangan terlalu tergesa-gesa untuk segera menjual, karena agar menghasilkan pohon, cengkeh Zanzibar masih memerlukan beberapa tahapan lagi.

Sebelum dijual ke pasar, bibit cengkeh umur dua bulan ini lebih baik diseleksi dulu. Pilihlah bibit cengkeh dengan daun berwarna hijau hingga hijau mengkilap. Selain itu, untuk bibit yang ada bercak di permukaan daun, segera diambil dan di karantina. Sedangkan untuk penyemaian bibit cengkeh ini hindari pupuk kimia. Gunakan kompos dan rajin menyiram agar tidak kering tanahnya

Ismail kemudian menjelaskan, untuk bibit yang sudah cukup umur bisa dipindah ke polibag yang lebih biesar. Biasanya tinggi pohon sudah 60 cm. Jangan lupa untuk lakukan penyiraman, penggemburan tanah di polibag, dan setelah usia 4 bulan bisa dilakukan pemupukan dengan kompos atau NPK.

Adapun kendala dalam budidaya cengkeh ini adalah pada saat pembibitan pohon cengkeh sangat rentan layu, jika tidak dirawat dengan benar atau posisi bibit terkena cahaya matahari langsung. Selain itu, kendala lain yang dihadapi adalah rayap.

“Biasanya bibit cengkeh diberi naungan berupa paranet di atasnya agar cahaya matahari terserap. Untuk masalah rayap, biasanya menyemprot bibit cengkeh dengan pupuk cair organik.” katanya.

Melon Granat, Primadona Baru Buah Melon?

Halaman: 
Penulis : Ali Hamid