logo


Indonesia Sudah Punya PP 109 Tidak Perlu Ratifikasi FCTC

Kehadiran FCTC juga dinilai dapat menyebabkan timbulnya kartel-kartel pertembakauan.

14 Juni 2016 13:34 WIB

Petani menyiram bibit tembakau, di Desa Jarin, Pamekasan Jawa Timur, Senin (11/5/2015).
Petani menyiram bibit tembakau, di Desa Jarin, Pamekasan Jawa Timur, Senin (11/5/2015). Antara

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Ratifikasi kerangka kerja pengendalian tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang dirancang oleh World Health Organization (WHO) dinilai sejumlah pihak sebagai sesuatu yang tidak penting. Pasalnya, untuk mengendalikan produksi tembakau di Indonesia sudah ada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 yang lebih ketat.

"Jika diperhatikan beberapa ketentuan di dalam PP 109 sebenarnya lebih ketat daripada apa yang diatur dalam FCTC. Untuk itu, Pemerintah sebaiknya fokus pada penerapan dan penegakan PP Nomor 109. Tidak serta merta peraturan internasional lebih efektif dalam mengatur pengendalian tembakau," ujar Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional, Universitas Indonesia di Jakarta, Selasa (14/6).

Menurutnya, pemerintah juga tidak perlu khawatir bila memutuskan untuk tidak meratifikasi FCTC, sebab bila itu terjadi, negara ini bukanlah satu-satunya negara yang menolak kerangka aturan tersebut. Kita hanya mengikuti langkah negara-negara besar lain seperti Amerika Serikat, Swiss, Kuba, dan Argentina.


Kementan: Tak Ada lagi Impor Benih Jagung

Kehadiran FCTC juga dinilai dapat menyebabkan timbulnya kartel-kartel pertembakauan, karena sebenarnya kerangka acuan ini tidak dimaksudkan untuk mengurangi jumlah perokok di suatu negara. FCTC, sebagaimana diungkap dalam mukadimahnya, bertujuan untuk (mengendalikan) produksi tembakau, yang dimulai dari hulu atau pertanian tembakau sampai dengan produk jadi atau rokoknya.

"Pengendalian produksi tembakau cenderung memunculkan kartel, karena kuota tembakau yang dihasilkan di suatu negara akan diatur. Bila di suatu negara jumlah perokok tidak sebanding dengan produksi tembakau yang dihasilkan, ini akan berakibat pada negara tersebut mengimpor daun tembakau atau rokok yang telah jadi. Bagi Indonesia, ini merepotkan, jika jumlah perokok tidak mampu ditekan, namun produksi daun tembakau berdasarkan FCTC telah dikurangi secara signifikan," tukas Hikmahanto.

Peran Pemuda Majukan Pertanian di Indonesia Makin Nyata

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Syukron Fadillah