logo


Kurangnya Infrastruktur Jadi Penyebab Adanya Kesenjangan Akses Kesehatan

Kolaborasi antara pemerintah dengan sektor swasta untuk meningkatkan akses, kualitas dan ketersediaan fasilitas menjadi syarat mutlak bagi Indonesia untuk mengurangi kesenjangan akses kesehatan

1 Juni 2016 09:23 WIB

Kampanye edukasi publik bertema Inovasi yang Peduli.
Kampanye edukasi publik bertema Inovasi yang Peduli. JITUNEWS/Suciati

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Indonesia masih memiliki kesenjangan besar dalam sistem kesehatan, termasuk dalam hal ketersediaan infrastruktur dan tenaga kesehatannya. Berdasarkan data terakhir dari laman Bina Usaha Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Indonesia hanya memiliki 1.979 Rumah Sakit Umum dan 544 Rumah Sakit Khusus untuk melayani lebih dari 240 juta orang yang tersebar di 17.000 pulau yang berarti hanya ada sekitar 1,07 tempat tidur di rumah sakit per 1.000 jumlah populasi dan 36,1 dokter per 100.000 jumlah populasi.

Sejalan dengan jumlah penduduk kelas menengah yang diprediksi akan tumbuh dua kali lipat pada tahun 2020, dan target pemerintah untuk mencapai 100% penduduk yang terlindung oleh asuransi kesehatan BPJS, kolaborasi antara pemerintah dengan sektor swasta untuk meningkatkan akses, kualitas dan ketersediaan fasilitas menjadi syarat mutlak bagi Indonesia.

Data tersebut menggambarkan bahwa ekuitas menjadi tantangan tersendiri di tengah upaya pemerintah mencapai status kesehatan universal bagi seluruh warga negara dan memperluas kepesertaan asuransi kesehatan BPJS karena ketidakmerataan akses terhadap layanan kesehatan. Disparitas ini terjadi antar daerah, untuk itu dibutuhkan dukungan lintas sektor untuk menjembatani kesenjangan ini.


Harga Tes PCR Turun Jadi Rp 275 Ribu, Wagub DKI: Nggak Mungkin Pemilik Usaha Bandel

Program "Inovasi yang Peduli" hadir sebagai salah satu contoh nyata kerjasama pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan, termasuk di tataran rumah sakit rujukan di Indonesia.

Dikatakan oleh Ketua Umum Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) Pusat, dr. Heru Aryadi, MPH, seiring dengan implementasi jaminan kesehatan nasional, terjadi peningkatan kebutuhan dan tuntutan yang begitu signifikan akan layanan kesehatan yang baik, terutama di kota-kota di luar Jakarta.

"Rumah sakit daerah memiliki peran yang sangat strategis untuk menjawab kebutuhan ini, serta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya upaya pencegahan penyakit. Oleh karenanya, ARSADA menyambut baik program yang dilihatnya tepat dalam mengekspos pusat pelayanan dan para tenaga kesehatannya dengan pengetahuan, teknologi kesehatan dan praktik medis terkini," kata dr. Heru kepada Jitunews di Wijaya, Jakarta Selatan, Selasa (31/5).

Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen GE Healthcare untuk mendukung program layanan kesehatan universal pemerintah Republik Indonesia, melalui peningkatan kapasitas tenaga medis dan penyedia layanan kesehatan, utamanya mereka yang bekerja di rumah sakit tipe C dan D.

"Program ini juga menekankan pada pentingnya pemanfaatan teknologi kesehatan dalam meningkatkan kualitas layanan. Di samping itu, kampanye ini juga dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan upaya preventif dalam memelihara kesehatan melalui terapan gaya hidup sehat dan aktif," ujar dr. Heru.

Rachel Vennya Beri Rp40 Juta Agar Lolos Karantina, Kemenkes Serahkan ke Aparat Hukum

Halaman: 
Penulis : Suciati, Vicky Anggriawan