logo


Prospek Industri Pakan Ternak Menunggu Gejolak Dolar

Ada dua jenis bahan baku pakan ternak yang masih diimpor, yaitu yang berasal dari hewan dan tumbuhan.

4 November 2014 09:15 WIB

ISTIMEWA
ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pakan ternak merupakan salah satu komponen penting dalam usaha peternakan. Bagaimana tidak, sekitar 70% biaya produksi peternakan sangat tergantung dari penggunaan pakan ternak tersebut. Meski prospek industri pakan ternak cukup bagus namun pertumbuhan industri ini sangat bergantung dari fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Saat ini nilai tukar rupiah terhadap dollar AS bertengger di posisi Rp 12.247. Dengan pelemahan tersebut tentu akan sangat mempengaruhi pembelian bahan baku pakan ternak bagi konsumsi industri peternakan dalam negeri.

Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Kementerian Perindustrian, Faiz Achmad, memperkirakan dengan pelemahan rupiah tersebut maka kinerja pertumbuhan industri pakan ternak bisa terkoreksi dari 15 % menjadi 12 %. “Saat ini ketergantungan terhadap pakan ternak impor bisa mencapai 80 %,” katanya beberapa waktu lalu.


Peluang Ekspor Akar Gingseng Jepang (Gobo) Terbuka Lebar

Hal tersebut cukup beralasan mengingat saat ini bahan baku pakan ternak untuk unggas saja masih didominasi impor seperti kedelai dan jagung yang mesti diimpor dari Brasil dan Amerika. Dengan kondisi rupiah yang semakin melemah, harga bahan baku pakan juga akan naik dan berimbas pada naiknya harga pakan di tingkat konsumen.

Sampai saat ini ada dua jenis bahan baku pakan ternak yang masih diimpor, yaitu yang berasal dari hewan dan tumbuhan.Untuk bahan baku dari hewan seperti fishmeal, sebenarnya sudah dapat diproduksi dalam negeri, akan tetapi jumlahnya tidak mencukupi untuk kebutuhan industri pakan dalam negeri. sehingga masih dibutuhkan impor sekitar 17.000 ton untuk memenuhinya.

Kemudian bahan baku impor yang berasal dari tumbuhan didominasi oleh jagung. Hingga bulan Juli tahun ini impor jagung mencapai lebih dari 2 juta ton. Bahkan 50 % dari pakan ternak itu berupa jagung.

Berdasarkan data Gabungan Produsen Makanan Ternak (GPMT) komsumsi pakan ternak sepanjang tahun 2014 diprediksi mencapai 14,7 juta ton. Konsumsi pakan ternak itu mengalami kenaikan 10 % bila dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 13,7 juta ton. Tahun depan diprediksikan pertumbuhan industri juga tidak akan berbeda jauh dengan 2014.

Industri pakan ternak dibagi menjadi dua. Pertama pakan ternak untuk perunggasan. Kontribusi dari bahan baku jagung dan kedelai untuk pakan unggas tahun 2014 meningkat 7 juta ton, dari tahun lalu sebesar 6,5 juta ton. Kedua pakan ternak untuk perikanan budidaya yang mencapai 1,4 juta ton tahun 2014. Konsumsi pakan ikan dan pakan udang mengalami peningkatan hingga 20 % bila dibandingkan tahun 2013.

Denny D Indradjaja, Ketua Pakan Aquakultur GPMT, menambahkan, penjualan pakan ikan dan pakan udang pada tahun ini juga diproyeksikan meningkat. Penjualan pakan ikan diprediksi naik 15%, sedangkan pakan udang tumbuh hingga 30%. Program revitalisasi tambak udang oleh pemerintah yang dimulai pada akhir tahun lalu cukup memberi harapan bagi penjualan pakan udang.

Meski dihadapkan pada masalah impor bahan baku, namun peluang investasi di bisnis pakan ternak terutama unggas masih terbuka lebar. Hal ini antara lain terlihat dari populasi ayam yang ditargetkan tumbuh populasinya. Berdasarkan data Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) produksi DOC boiler (ayam potong) diperkirakan akan menembus angka 2,5 miliar ekor. Lalu populasi layer (ayam petelur) bakal menembus angka 114 juta ekor sepanjang tahun ini.

Data tersebut mengisyaratkan bahwa konsumsi ternak unggas di Indonesia cukup tinggi. Namun hal ini tidak dibarengi dengan peningkatan pasokan pakan ternak nasional ke para peternak. Karena itu produsen pakan ternak diharapkan bisa memproduksi pakan ternak dengan memanfaatkan bahan baku jagung lokal.

Selain itu produsen pakan ternak juga perlu melakukan perluasn pabrik sehingga bisa menambah kapasitas produksi. Catatan GPMT, tahun ini ada empat hingga lima pabrik pakan baru yang mulai beroperasi. Kapasitas terpasang dari masing-masing perusahaan mencapai 15.000 ton per bulan hingga 25.000 ton per bulan. Secara keseluruhan, kapasitas terpasang dari pabrik yang ada saat ini mencapai 16,5 juta ton.

Menurut data dari GPMT di Indonesia terdapat 42 pabrik pakan ternak yang masih aktif hingga 2008. Sebelumnya terdapat 50 perusahaan, namun 8 diantaranya sudah menghentkan operasionalnya.  

Hingga kini industri pakan ternak nasional masih didominasi asing seperti Charoen Pokphand, Japfa Comfeed, Sierad Produce, CJ Feed, Gold Coin, dan Sentra Profeed. Produsen besar tersebut umumnya terintegrasi dengan industri peternakan dan pengolahan produk ternak.

Sedangkann untuk sebaran industri pakan ternak berskala besar tersebar di Indonesia terdapat di delapan provinsi.  Sumatera Utara memiliki 8 pabrik, Lampung ada 4 pabrik, Banten ada10 pabrik dan DKI Jakarta empat pabrik. Di Jawa Barat terdapat empat pabrik dan  Sulawesi Selatan dua pabrik. Produsen pakan ternak paling banyak terdapat di Jawa Timur mencapai 15 pabrik.

Wilayah Jawa Timur merupakan sentra industri pakan ternak dan peternakan terbesar di Indonesia. Lingkup agribisnis Jatim cukup kuat dengan dukungan tak kurang dari 15 pabrik besar pakan ternak, 52 industri rumahan pakan ternak, 4 pabrik pengolah susu, 201 pasar hewan, 99 TPA, 8 RPA, 1 RPH-A, 33 RPH-C dan 49 RPH-D. Di samping itu masih ada 11 perusahaan daging olahan, 50 KUD koperasi persusuan dan potensi yang sangat prospektif yaitu BBIB (Balai Besar Inseminasi Buatan) di Singosari.

Peternakan ayam di Jatim terdiri dari ayam potong dengan sentra produksi (Jombang, Malang, Gresik dan Mojokerto). Daerah yang berpotensi untuk pengembangan adalah Sidoarjo, Pasuruan, Lamongan, Nganjuk dan Kediri. Untuk jenis ayam buras/ayam kampung  banyak dibudidayakan oleh peternak di daerah pedesaan. Sentra produksi ayam buras terdapat di Lamongan, Malang, Blitar, Probolinggo, Tulungagung dan Trenggalek. Sedangkan daerah yang berpotensi untuk pengembangannya adalah Jombang, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, Pacitan dan Bangkalan.

Untuk jenis ayam petelur dengan sentra produksi (Malang, Blitar, Kediri, Pasuruan dan Mojokerto). Sedangkan daerah yang berpotensi untuk pengembangannya adalah Jombang, Nganjuk, Tulungagung dan Jember. Keunggulan Jatim didukung oleh melimpahnya produksi jagung sebagai bahan baku industri pakan ternak. Salah satu sentra jagung adalah Kediri rata-rata luas panen adalah 22.354 ha pada 2005. Dengan produksi jagung per tahun rata-rata 3,3 juta kuintal. Sementara lahan potensial jagung di Kediri mencapai 54.650 ha/tahun.

 

 

 

Melon Granat, Primadona Baru Buah Melon?

Halaman: 
Penulis : Ali Hamid