logo


Cegah Flu Burung, Kementan dan FAO Tingkatkan Langkah Pengawasan

Saat ini, Indonesia masih tercatat sebagai salah satu hotspot atau titik rawan untuk penyebaran virus Avian Influenza (AI).

17 Mei 2016 12:20 WIB

Ilustrasi, ayam yang terjangkit virus flu burung.
Ilustrasi, ayam yang terjangkit virus flu burung. npr.org

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Hingga saat ini pihak Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) dan juga FAO terus mengupayakan sejumlah langkah strategis guna melakukan langkah pencegahan penyebaran flu burung di Tanah Air.

Pasalnya, langkah ini dilakukan oleh pihak Kementan dan FAO, mengingat Indonesia masih tercatat sebagai salah satu hotspot atau titik rawan untuk penyebaran virus Avian Influenza (AI).

Langkah cepat yang dilakukan oleh pihak Kementan dan FAO ini sudah dilakukan sejak kembali maraknya kasus AI atau yang lebih dikenal dengan nama flu burung kembali dilaporkan dari kematian unggas di Indonesia sejak Februari 2016. 


Mentan Syahrul Operasi Pasar Bawang Putih dan Cabai di Solo

Kasus pertama yang kemudian ditemukan oleh pihak Kementan dan FAO adaalah kematian 224 ekor itik di Kabupaten Bekasi yang diikuti dengan kematian puluhan bahkan ribuan ekor ayam kampung, entog, itik pedaging, burung puyuh, ayam broiler dan ayam layer (peternak) di Cilandak, beberapa Kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.

Untuk memberikan langkah antisipasi kepada masyarakat, Direktur Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita, pun setiap awal tahun menerbitkan Surat Edaran peningkatan kewaspadaan dan pengendalian penyakit AI.  

Surat Edaran terbaru adalah Surat Edaran Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 12141 tanggal 12 Februari 2016 tentang peningkatan kewaspadaan dan pengendalian AI yang dijabarkan melalui 8 tindakan kewaspadaan yang perlu dilakukan masyarakat.

"Delapan tindakan kewaspadaan tersebut adalah meningkatkan penyuluhan dan himbauan untuk segera melapor jika menemukan unggas mati, melakukan tindakan 3-Cepat (deteksi, lapor dan respon), menerapkan biosekuriti efektif (biosekuriti 3-Zona), melaksanakan vaksinasi dengan pola vaksinasi 3-Tepat, menerapkan sanitasi di sepanjang rantai pemasaran unggas, membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), meningkatkan surveilans dan investigasi, serta pengadaan DOC (day old chick/anak ayam yang berumur satu hari) dari peternakan yang telah mempunyai sertifikat kompartemen bebas AI," kata Diarmita, seperti dalam keterangan tertulisnya kepada JITUNEWS.COM, Selasa (17/5).

Diarmita juga menyampaikan bahwa selain adanya ke 8 tindakan kewaspadaan tersebut, dari pihak Kementan juga terbantu dengan adanya kecepatan laporan via I-SIKHNAS dan SMS Gateway dan tindakan Tim Respon Cepat Terpadu (URC Kab/Kota, Prov, Pusat, BBV/BV, Dinas Kesehatan/Puskesmas) Pengendalian AI pada unggas dapat dilakukan cukup efektif, berdampak positif terhadap meminimalisir risiko penyebaran virus AI pada unggas maupun Flu Burung pada manusia.

“Sehingga selama ini setiap kali ada kasus flu burung ditemukan langsung direspon secara cepat oleh tim yang sudah terbentuk,” pungkas Diarmita.

Agar Distribusi Pupuk Lancar, Kementan Ingatkan Pemda Segera Percepat Realisasi

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Riana