logo


Mengintip Potensi Peternakan di Papua Barat

Sub sektor peternakan di Kabupaten Raja Ampat diibaratkan masih dalam bentuk kertas putih

16 Mei 2016 14:08 WIB

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian, Muladno (kiri) saat berkunjung ke Provinsi Papua Barat.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian, Muladno (kiri) saat berkunjung ke Provinsi Papua Barat. Humas Ditjen PKH Kementan

PAPUA, JITUNEWS.COM- Pemerintah terus mendorong pengembangan potensi peternakan di Provinsi Papua Barat. Hal ini terlihat dari keseriusan lembaga legislatif dan eksekutif pada kunjungan kerja Komisi IV DPR RI, yang membidangi fungsi pertanian, pangan, maritim, dan kehutanan di Provinsi Papua Barat.

Kunjungan kerja telah dilakukan di Kabupaten Raja Ampat dan Kabupaten Sorong oleh anggota Komisi IV DPR bersama perwakilan dari Kementerian teknis terkait yakni Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Bulog, dan instansi terkait lainnya.

Pada kesempatan itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian, Muladno, berpendapat bahwa pengembangan sub sektor peternakan di Kabupaten Raja Ampat diibaratkan masih dalam bentuk kertas putih, yang masih perlu dirancang pengembangannya.

“Peternakan di Kabupaten Raja Ampat kalau diibaratkan bagaikan kertas putih, perlu didesain pengembangannya secara tepat untuk mendorong industri pariwisata,” jelas Muladno, dalam keterangan tertulisnya, Senin (16/5).


NasDem Minta Pemerintah Perhatikan Petani Ternak Sapi Perah

Muladno menambahkan, komoditas peternakan yang sesuai untuk dikembangkan di Kabupaten Raja Ampat adalah ternak lokal yakni sapi Bali dan ayam kampung. Kendati demikian, perlu diseleksi masyarakat yang mau berusaha di bidang peternakan. Hal ini perlu dilakukan, mengingat sebagian besar penduduk Raja Ampat berprofesi sebagai nelayan, sehingga diharapkan tidak akan merusak kearifan lokal di wilayah ini.

Sementara itu, untuk sub sektor peternakan di Kabupaten Sorong, ujar Muladno, terutama pengembangan sapi potong, lebih banyak dikembangkan dengan pola pemeliharaan ekstensif. Yakni dengan memanfaatkan padang pengembalaan atau sistem ranch.

"Ada baiknya, pola pemanfaatan padang penggembalaan itu dilakukan melalui model Sentra Peternakan Rakyat (SPR). Sebab lewat SPR, bisa dilakukan pendampingan oleh perguruan tinggi untuk penerapan teknologi di bidang peternakan, seperti pengolahan pakan dan manajemen pemeliharaan yang baik,” tandas Muladno.

 

Jajaki Bisnis Peternakan, Mayjen (Purn) Suharno Belajar Hingga ke Negeri Orang

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro