logo


Prospek Kakao 2015 Cerah Namun Produksinya Seret

Wabah Ebola di Ghana dan Pantai Gading sebabkan harga kakao dunia melonjak

3 November 2014 11:01 WIB

ISTIMEWA
ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM - M Yusuf Ibrahim (60) sumringah manakala menyaksikan tanaman kakao yang ditanamnya mulai berbuah. Petani asal Desa Negeri Ratu Baru Kecamatan Bunga Mayang Aceh itu sudah membayangkan gambaran keuntungan di depan mata. Jerih payahnya selama ini bakal terbayar lunas.

“Aku mantap memilih budidaya kakao daripada karet, kopi atau mungkin yang lain. Alasannya perawatan tanaman kakao tidak rumit dan hasilnya juga pasti. Buahnya tidak pernah putus, sekali dipetik lalu dikupas terus dijemur sudah jadi duit,” katanya seperti dikutip portal dataaceh.com.

Bahkan Yusuf juga tidak perlu repot ke pasar untuk menjual kakao karena pengepul datang sendiri ke kebun. “Terkadang baru sehari dijemur para pengepul sudah membelinya. Jadi kita semakin bersemangat untuk membudidayakan coklat ini. Coba kalau karet pukul 04.00 pagi kita sudah sibuk melakukan penyadapan dan bila hari hujan aktivitas penyadapan pohon karet terpaksa berhenti,: katanya.


Tahun 2015, Ujian Sektor Tambang Masih Berlanjut

Dibanding karet, coklat berbuah kapan saja dan tidak tergantung pada faktor cuaca. Harga jual coklat cenderung stabil di pasaran. JIka musimnya lagi tidak bagus harganya paling banter Rp 10.000 per kg. Namun jika musim lagi bagus, harga bisa menembus Rp 200.000 per kg. Jika dijual di pengepul dalam kondisi setengah kering (kadar air normal) pengepul berani membeli Rp 14.000. Hargan ya bisa lebih mahal lagi jika coklat benar-benar kering.

Ranumnya  budidaya tanaman kakao ini rupanya tidak mendorong para petani untuk mengikuti langkah Yusuf tersebut. Para petani masih belum berani membudidayakan tanaman itu dikarenakan masih belum tahu prospek bisnis kakao.  Sebagian lagi menganggap bahwa budidaya kakao itu cenderung eksklusif.

Usut punya usut para petani kakao tidak terlalu mengenal banyak perusahaan yang mengolah kakao. Pasalnya mereka selama ini hanya berhubungan dengan para pengepul untuk menjual hasil panennya tersebut. Dari pengepul kemudian dijual lagi kepada perusahaan pengolahan.

Padahal sejatinya pabrik pengolahan kakao di Indonesia itu ada sekitar 16 perusahaan. Namun yang dikenal oleh petani kakao hanya satu atau dua perusahaan saja. Syarif, petani kakao di Bone, Sulsel, mengaku hanya mengenal Bumi Tangerang, perusahaan grinding kakao. Ketika disebutkan beberapa nama perusahaan lainnya, si petani menggelengkan kepala. Demikian dengan Muslimin, petani kakao di Jembrana, Bali. Ia hanya mengenal Bumi Tangerang karena pernah menjual ke perusahaan tersebut. Lalu bagaimana dengan perusahaan lain, ia mengaku tidak mengenal.Sedangkan Syamsuddin, petani di Polman, Sulbar, mengaku hanya mengenal Bumi Tangerang dan sebuah perusahaan dari Jepang.

Kondisi ini jelas tidak sehat. Akibatnya petani kakao Indonesia malas untuk kualitas biji kakao karena selama ini hanya berhubungan dengan pengepul. Bahkan pengepul juga tidak mampu membedakan harga antara biji yang baik dengan yang tidak. Mereka hanya cenderung melihat pada kuantitas dari hasil panen petani. Padahal soal kualitas ini juga tidak bisa dikesampingkan mengingat semakin baik kualitas biji kakao maka produknya juga akan semakin baik seperti halnya biji kopi.

Itu baru permasalahan di tingkat pengepul. Masalah lainnya yang dihadapi petani adalah pada saat kebun kakao terkena serangan hama dan penyakit, tidak ada bantuan yang dapat diberikan baik itu dari pemerintah maupun korporasi. Hal ini tentu saja membuat petani menebang tanaman kakao itu dan menggantinya dengan tanaman lain karena tidak menguntungkan. Hal inilah yang membuat pasokan biji kakao ke industri menjadi seret karena bahan baku jadi sulit didapat.

Misalkan saja ada program kemitraan antara perusahaan dengan petani maka masalah-masalah yang terjadi pada produksi biji kakao dapat teratasi. Perusahaan pun  bisa mendapatkan pasokan kakao yang lebih pasti dan lancar dan yang terpenting lagi petani akan bergairah menanam kakao. Untuk dapat menerapkan itu perushaan mau tidak mau harus  mau mengeluarkan kocek untuk program pembinaan petani.  
Ketua  Asosiasi Industri Kakao Indonesia Pieter Jasman, juga memikirkan tingkat produksi yang cenderung menurun. Karena itu pihaknya mencoba untuk menghidupkan kembali geranak nasional  menanam kakao pada pemerintahan mendatang. “Tahun depan akan kami hidupkan,” katanya.

Menurutnya, gerakan nasional menanam kakao itu harus dihidupkan karena minat investasi pada komoditas kakao itu cukup tinggi. Jika gerakan tersebut berhasil diwujudkan maka produksi kakao bisa menembus angka 2 juta ton per tahun. Sementara tahun ini produksi kakao baru mencapai 500.000 ton per tahun.

Walau demikian, hal itu juga harus didorong dengan meningkatkan konsumsi kakao di dalam negeri yang masih sebesasr 1 kg per kapita. Bandingkan dengan negara Eropa yang tingkat konsumsinya mencapai 7 kg sampai 9 kg  per kapita. Hal ini pulalah yang membuat Indonesia tertinggal dalam hal industi olahan kakao dari negara Malaysia, dan Singapura. “Selama ini kita hanya fokus mengejar kebutuhan luar negeri,” katanya.

Pieter berharap investor yang mau membangun pabrik kakao di Indonesia juga bertambah banyak. Sebab dengan keberadaan pabrik pengolahan kakao tersebut akan meningkatkan pendapatan petani menjadi 90 %. Bahkan multiplier effect dari keberadaan  pabrik itu juga akan dirasakan dengan kehadiran indsutri pengemasan dan transportasi.

Sejauh ini tercatat sudah ada tiga investor yang akan membangun pabrik kakao di Indonesia. Mereka adalah Olam International Limited (Olam) asal Singapura dengan nilai investasi ditaksi mencapai US $ 61 juta. Lalu, JB Cacao dan Asia Caco Indonesia yang keduanya berasal dari Malaysia. Keduanya membangun pabrik pada tahun ini dengan nilai investasi masing-masing pabrik berkisar antara US $ 20 juta sampai US $ 30 juta.

Pabrik akan menghasilkan cocoa butter, cocoa cake, dan bubuk kakao kualitas tinggi. Nantinya, Olam akan mengandalkan 32.000 petani yang memasok bahan baku. Plus bahan baku kacang-kacangan dari Afrika. Sedangkan JB Cacao dan Asia Caco Indonesia yang keduanya berasal dari Malaysia mulai membangun pabrik tahun ini.

Sementara dari dalam negeri tidak ketinggalan April lalu Group Kalla telah mengoperasikan pabrik biji kakao. “Tingginya minat investor asing menanamkan modal di Indonesia karena prospek kakao dinilai masih tinggi. Sekalipun saat ini dari segi kualitas biji kakao tanah air masih rendah. Namun peluang bisnis kakao secara jangka panjang masih cerah. Karena secara kualitas produksi meski saat ini masih kurang tapi kan bisa diperbaiki,” tukasnya
Secara umum meski Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia di bawah Ghana dan Pantai Gading namun produksi kakao di dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan industri olahan kakao lokal. Akibatnya Indonesia mengimpor kakao.

Terkait dengan kendala produksi ini, Kementerian Pertanian berupaya menjaga agar harga kakao di tingkat petani tidak jatuh sehingga petani tidak khawatir. JIka terjadi harga jatuh maka pemerintah akan memberlakukan bea masuk impor kakao.

Selanjutnya, pemerintah juga akan melarang industri untuk tidak mengekspor kakao dalam bentuk mentah. Caranya adalah dengan memberlakukan bea keluar untuk biji kakao. Pemerintah akan mendorong agar biji kakao itu diolah menjadi produk olahan seperti cocoa powder, fermented beans dan cocoa butter.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Kakao Indonesia, target produksi kakao di 2014 ini diperkirakan mencapai 500.000 ton. Di 2015 produksi kakao diperkirakan kebutuhan industri terhadap kakao mencapai 600.000 ton. Dengan begitu kekurangan 100.000 ton akan dicukupi dari impor biji kakao.

 Dari perdagangan komoditas dunia, harga kakao cenderung menguat signifikan. Pada penutupan perdagangan Selasa 14 Oktober 2014 di bursa ICE Futures US, untuk kontrak Desember 2014 ditutup naik 1,41% ke tingkat harga $3.102/ton atau menguat $43/ton. Penguatan harga kakao terjadi karena sentiment wabah Ebola.

Laporan dari WHO terkait perkembangan virus Ebola terpantau semakin memicu harga kakao untuk menguat di bursa ICE Futures US. Laporan dari WHO pada Selasa yang menyatakan Ebola masih dalam proses penyebaran dengan perkiraan jumlah kasus akan mencapai lebih dari 9000 sepanjang pekan ini, membuat kekhawatiran global akan perluasan dampak Ebola meluas. Adapun kekhawatiran tersebut terhadap harga kakao dilandasi oleh potensi perluasan wilayah wabah ke Ghana maupun Pantai Gading yang merupakan negara-negara penghasil kakao terbesar global.

Dampak dari sentimen Ebola tersebut bahkan dapat menutup sentimen negatif kuat dari indikasi pelemahan demand kakao di pasar Eropa. Data pengolahan kakao untuk kuartal 3 yang turun 1,1% bila dibandingkan periode yang sama tahun 2013 ke level 327.866 memberi indikasi kuat demand kakao yang lesu.

 

Meski Terkendala, Petani KTNA Antusias untuk Menanam

Halaman: 
Penulis : Ali Hamid