logo


Tatan Tarjuna Kantongi Rp 200 Juta/Bulan dari Budidaya Sayuran Jepang

Modal awal sekitar Rp 10 juta digunakan untuk membeli kebutuhan benih sekitar 1 kg

3 November 2014 08:25 WIB

Istimewa
Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Sayuran merupakan makanan sehat yang sebaiknya sering dikonsumsi, baik untuk kesehatan tubuh dan kecantikan kulit. Diantara jenis sayuran di dunia, sayuran jepang paling banyak jenisnya dan sangat beragam. Hal ini membuat peluang budidaya sayuran jepang sangat cerah karena bernilai jual tinggi.
 
Berawal dari mengikuti program magang ke Jepang selama setahun di tahun 2000 yang diadakan oleh Dinas Pertanian setempat, Tatan Tarjuna banyak mendapatkan ilmu bertani sayuran jepang. Setelah mengikuti program magang yang diadakan secara rutin tiap tahun, ia pun kembali ke Indonesia dan memutuskan untuk fokus memulai usaha budidaya sayuran jepang. Sebab harga sayuran jepang terbilang  tinggi, bisa 3-5 kali lipat harga sayuran lokal. Tentu saja produk ini sangat cocok untuk dilempar ke pasar modern. Tahun 2001, Tatan Tarjuna mulai menjalankan usaha budidaya sayuran jepang di bawah bendera CV. Yan’s Fruit & Vegetables di Lembang, Bandung Barat.

Tatan mengaku cukup senang membudidayakan sayuran jepang, karena di samping cara budidayanya secara umum hampir sama dengan sayuran lokal, biaya produksinya juga hampir sama. Bahkan ada beberapa jenis sayuran jepang yang lebih rendah biaya produksinya mengingat sayuran ini lebih cepat panen. Rasa sayuran jepang juga lebih enak dari sayuran lokal.

Awalnya, Tatan membawa oleh-oleh dari magang di Jepang berupa bibit Asparagus dan Bayam Jepang (Horenso). Ia berpikir lahan di Lembang sangat mendukung untuk menanam Asparagus dan Bayam Jepang, dan setelah dicoba ternyata hasilnya cukup memuaskan. Ia pun menggerakkan petani di sekitar lingkungannya untuk membudidayakan Asparagus dan Bayam Jepang di lahan seluas setengah hektar milik para petani. Kini Tatan juga menanam sayuran jepang selain Asparagus dan Bayam Jepang dengan total lahan saat ini seluas 5 ha, dimana 2 ha merupakan milik sendiri dan sisanya bermitra dengan petani setempat, dengan membeli hasil panen dari petani tersebut.

Modal awal sekitar Rp 10 juta digunakan untuk membeli kebutuhan benih sekitar 1 kg dan bahan pendukung lain seperti pupuk. Saat itu harga benih Asparagus mencapai Rp 200 ribu/20 gram dan Bayam Jepang Rp 80 ribu/10 gram. Bahan lain seperti pupuk diperoleh dari kotoran domba/ayam dari peternak penduduk setempat. Harga benih sayuran Jepang cukup mahal karena benih masih harus impor. Karena itu, Tatan juga berupaya membibitkan jenis sayuran Jepang non hibrida seperti Terong Jepang (Nasubi), Asparagus Jepang, Tomat Jepang dll.
Menurut Tatan, peluang budidaya sayuran jepang sangat terbuka karena kebutuhan sayuran jepang semakin tinggi. Apalagi masyarakat cenderung lebih menyukai berbelanja di pasar modern.

Selain harganya yang sangat menguntungkan, sayuran jepang lebih potensial dibudidaya di daerah iklim tropis seperti Indonesia karena bisa dipanen sepanjang tahun. Masa panen sayuran jepang di daerah iklim tropis juga lebih cepat ketimbang di daerah subtropis. Jika ditanam di daerah subtropis, sayuran jepang tidak bisa dipanen sepanjang tahun karena terkendala pergantian musim.


Kiat Sukses Raup Laba Besar dari Bisnis Souvenir Pernikahan

Bicara persaingan, menurut Tatan usaha sayuran jepang belum terlalu ketat. Bahkan Tatan selama hampir 12 tahun menggeluti selalu merasa kewalahan dalam memenuhi permintaan di wilayah Bandung dan Jakarta saja. Tatan menjelaskan hasil panen sayuran Jepang dari CV. Yan’s Fruit & Vegetables yang ia kelola baru bisa memenuhi 60% permintaan yang datang dari Bandung dan Jakarta.

Harga Tinggi. Sayuran Jepang hasil budidaya Tatan langsung dijual ke konsumen yang sudah bekerjasama seperti supermarket dan restoran Jepang yang ada di Bandung dan Jakarta. Sayuran Jepangnya dihargai cukup tinggi karena terjamin kualitasnya. Asparagus Hijau Jepang harganya Rp 40-45 ribu/kg, Bayam Jepang/Horenso Rp 15-20 ribu/kg, Nasubi atau Terong Jepang seharga Rp 15-18 ribu/kg, Okra Rp 20-23 ribu/kg, Labu Jepang/Zuchini Rp 9-10 ribu/kg, Baby Zuchini Rp 20-22 ribu/kg, Tomat Cherry Rp 17-20 ribu/kg, Zungiku seharga Rp 14-16 ribu/kg, Basil/Kemangi Jepang Rp 40-45 ribu/kg, Timun Jepang/Kyuri Rp 10-12 ribu/kg, Lobak Jepang/Daikon Rp 6-8 ribu/kg, Kabocha Rp 9-10 ribu/kg, Sawi Jepang Rp 5-7 ribu/kg, Toge Jepang Rp 20-25 ribu/kg dan masih banyak lagi.

Dari semua jenis sayuran jepang yang dibudidayakan Tatan, paling banyak permintaan adalah Bayam Jepang/Horenso. Dalam sehari CV. Yan’s Fruit & Vegetables bisa memanen sayuran jepang sebanyak 1-1,5 ton, dan diantaranya untuk Bayam Jepang bisa dipanen sekitar 150-200 kg/hari. Agar pasokan bisa terus-menerus tersedia, Tatan bekerjasama dengan mitra petani yang ada di Lembang, yakni sekitar 50 mitra. Selain itu dilakukan penjadwalan tanam bergilir di lahan seluas 5 hektar, sehingga bisa panen setiap hari. Teknik budidaya sayuran Jepang ini memang masih belum organik, tetapi penggunaan pestisida dan pupuk kimia selalu terkontrol dan diminimalisir.

Dalam sebulan CV. Yan’s Fruit & Vegetables bisa meraih omset di atas Rp 200 juta dengan keuntungan sebesar 40% dari hasil panen 20-30 ton. Rencananya Tatan juga akan memperluas areal penanaman guna mengejar permintaan yang datang dengan mengajak semua masyarakat di sekitar lokasi usahanya untuk menanam sayuran jepang. Sejauh ini, yang kerap menjadi kendala pada saat musim pancaroba sayuran mudah terkena serangan hama berupa kutu yang membuat daun berlubang. Biasanya untuk pencegahan/pengobatan cukup disemprot dengan pestisida Curacron dosis 1-2 ml per 5-10 liter air.

 

Tawarkan Kemitraan, Mellfayo Takoyaki Jamin Mitra Bakal Balik Modal 6 Bulan

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro, Hasballah