logo


Ironi Anjloknya Harga Garam

Harga garam pada Agustus 2014 adalah Rp600/kg. Oktober 2014 harganya Rp 250/kg

31 Oktober 2014 16:04 WIB

Tambak garam di Indonesia.(wikimedia)
Tambak garam di Indonesia.(wikimedia)

JAKARTA, JITUNEWS.COM Garam rasanya asin. Tetapi kalau harga garam jatuh, saat itulah usaha tani garam terasa begitu pahit. Ironi inilah yang lebih sering tampil dalam aktivitas garam di negeri ini. Tak terkecuali bagi petani garam di Kabupaten Cirebon Jawa Barat yang mengeluhkan jatuhnya harga garam menjelang masa panen. Diyakini, jatuh nya harga ini diduga karena permainan harga yang dilakukan oleh tengkulak.

Harga garam di tingkat petani wilayah pesisir Jawa Barat (Cirebon-Indramayu) pada Agustus 2014 lalu berada di kisaran Rp600/kg dan memasuki Oktober 2014 harganya hanya Rp250/kg.

Ketua Ikatan Petani Garam Indonesia Kabupaten Cirebon Mohch Insyaf Supriadi mengatakan berdasarkan HPP yang telah ditetapkan pemerintah untuk harga garam kualitas I Rp750/kg, kualitas II Rp550/kg dan kualitas III Rp450/kg.


Menteri Koperasi dan UKM Minta Petani Garut Berkoperasi dan Produksi Komoditas Unggulan

Insyaf mengatakan, anjloknya harga garam saat ini disebabkan oleh ulah tengkulak. Menurutnya, tengkulak mempermainkan harga garam dengan menakuti-nakuti petani seolah-olah akan terjadi kelebihan stok. Akibatnya, petani rela menjual ga ramnya dengan harga rendah kepada tengkulak karena khawatir harga garam akan terus jatuh.

Anjloknya harga garam membuat petani menjerit, tetapi mereka tidak punya pilihan Permainan tengkulak biasanya menjustifikasi garam milik petani tidak masuk pada kualitas yang telah ditetapkan pemerintah sehingga harganya cendrung jatuh bahkan pada level yang paling rendah, paparnya.

Direktur Lembaga Pengembangan Bisnis Harmoni Idrus Zen, mengatakan permasalahan tersebut disebabkan karena pemerintah tak serius menangani urusan garam. Ada sejumlah persoalan mendasar yang menyebabkan harga garam petani rendah. Pertama karena terlalu panjangnya rantai perdagangan garam yang menjadi salah satu penyebab harga garam di tingkat petani rendah. Kedua, pascakrisis moneter pemerintah membuat kebijakan impor bebas dengan bea masuk 0 persen. Harga garam pun jatuh. Pernah Rp 25 per kg.

Masalah ketiga, terkait kebijakan impor garam. Lemahnya kontrol kebijakan pemerintah dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 Tahun 2005 tertanggal 30 September 2005 yang mewajibkan importir produsen (IP) beryodium dan pedagang sebagai importir terdaftar (IT) menyerap garam petani untuk mendapatkan alokasi impor. Keempat, lemahnya posisi tawar petani garam membuat mereka tidak berdaya saat harga beli ditekan. Apalagi industri memanfaatkan para tengkulak untuk mendapatkan harga garam murah. Petani pun tidak berdaya karena terdesak kebutuhan.

Dalam beberapa kasus, lemahnya kontrol dalam pemberian alokasi impor garam mengakibatkan penyerapan garam petani sebagai syarat alokasi impor tidak berjalan semestinya. Manipulasi terjadi sehingga kerap terjadi oversupply garam yang menyebabkan harga jatuh, kata Idrus.

Selain empat hal di atas, masalah yang tak kalah penting adalah lambatnya upaya restrukturisasi dan modernisasi usaha tani garam. Pemilihan lokasi sentra produksi garam juga tidak tepat, berada di daerah dengan curah hujan tinggi seperti di Jawa.

PKB: Ya Memang Lucu, Sumber Daya Kita Melimpah Tapi Impor

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin, Ali Hamid