logo


WCC: Kasus Pemerkosaan dan Pembunuhan Yuyun Seharusnya Mendunia

Tujuannya untuk membuat para pelaku jera

4 Mei 2016 05:30 WIB

Ilustrasi pemerkosaan
Ilustrasi pemerkosaan Ist

BENGKULU, JITUNEWS.COM- Terkait dengan kejadian pemerkosaan yang berujung tewasnya Yuyun, siswi SMPN 5 Kecamatan Padang Ulak Tanding, pengurus lembaga swadaya masyarakat Women Crisis Center (WCC) Kabupaten Rejanglebong, Provinsi Bengkulu, meminta agar para pelaku dijatuhi hukuman maksimal.

Bahkan, Mardiani, pengurus WCC Kabupaten Rejanglebong, menyebut bahwa kasus pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun ini, seharusnya mendunia sehingga membuat para pelaku jera.

"Dukungan dari media massa untuk memberitakannya sangat kami harapkan, sehingga kasus ini tidak bias," kata Mardiani, Selasa (3/5), usai menyaksikan sidang kasus Yuyun di Pengadilan Negeri Curup, Bengkulu.


Hari Ini Sidang Kasus e-KTP Hadirkan 8 Saksi

Kasus yang dialami Yuyun itu, lanjut Mardiani, seharusnya menjadi perhatian semua pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Rejanglebong dan masyarakat luar guna mendorong agar kasus ini tidak terulang kembali.

"Akan kami upayakan agar Komnas Perlindungan Anak datang ke Rejanglebong, sedangkan untuk pejabat dari pemerintah daerah dan istri Bupati, Wakil Bupati, dan istri pejabat lainnya sudah datang ke rumah duka guna memberikan dorongan semangat, agar keluarga korban dapat tabah dan tidak trauma," ujar Mardiani.

Kasus pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun (14) terjadi pada 2 April 2016. Kejahatan itu dilakukan oleh 14 tersangka. 12 orang tersangka berhasil ditangkap petugas Polsek Padang Ulak Tanding.

Tujuh di antaranya berstatus anak-anak yaitu D alias J (17), A (17), FS (17), S (17), DI (17), EG (16), dan S (16), tercatat sebagai kakak kelas korban di SMPN 5 Padang Ulak Tanding.

Sedangkan 5 tersangka lainnya berinisial Tom (19) alias Tobi, Suk (19), Bo (20), Fa alias Pis (19), dan Za (23). Para pelaku semuanya berasal dari Dusun V Desa Kasie Kasubun.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, 7 tersangka yang berstatus anak-anak dituntut Jaksa dengan ancaman 10 tahun penjara karena melanggar pasal 80 ayat 3 dan pasal 81 ayat 1 junto pasal 76d UU No.35/2014 tentang Perlindungan Anak.

 

Rumah Faye, 'Senjata' untuk Perang Melawan Perdagangan Anak

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro