logo


Petani Menjerit HBP Kedelai Belum Ideal

Pemerintah memutuskan untuk mempertahankan level HBP kedelai seharga Rp7.600/kg

31 Oktober 2014 10:12 WIB

ISTIMEWA
ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga beli petani (HBP) kedelai untuk kuartal IV/2014 dinilai belum cukup memenuhi harapan para petani dan tidak mampu menekan ketergantungan impor komoditas bahan baku tahu dan tempe tersebut.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan memutuskan untuk mempertahankan level HBP kedelai seharga Rp7.600/kg dari periode Juli-September ke periode Oktober-Desember tahun ini. Keputusan itu tertuang dalam Permendag No.62/2014.

Ketua Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifudin menjelaskan HBP kedelai pada level tersebut sebenarnya belum cukup mampu menjadi insentif bagi produsen, sehingga minat menanam kedelai pun belum terpantik. “Kalau hanya Rp7.600/kg, itu tidak akan merangsang petani untuk menanam kedelai,” jelasnya. Dia berpendapat HBP kedelai idealnya bernilai Rp9.000/kg dengan asumsi produksi setara dengan 2,5 ton/hektare.


Kesejahteraan Petani Menurun, Mentan Siap Melawan Usaha Alih Fungsi Lahan

Saat ini, lanjutnya, produksi kedelai di dalam negeri baru mencapai sekitar 1,4 ton/hektare. Dia juga berpendapat pemerintah gagal memperhitungkan masalah gangguan produksi dan tekanan nilai tukar. Faktor-faktor tersebut memengaruhi pembengkakan ongkos produksi, sehingga sudah seharusnya HBP kedelai dinaikkan. “Sekarang dengan adanya kemarau di Indoensia dan kurs dolar AS yang naik tinggi, pasti memengaruhi produksi dan harga kedelai. Alasan Kemendag apa? Kasihan petani kedelai lokal, mereka pasti lebih terpuruk lagi,” klaimnya.

Senada dengan Aip, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menilai penetapan HBP yang ideal untuk para petani seharusnya berada pada kisaran Rp9.000-Rp10.000. Selain itu, bea impor kedelai perlu dinaikkan sehingga harga kedelai petani mampu bersaing dengan kedelai impor.

“Bila kebijakan terkait kedelai masih seperti sekarang, maka tidak akan pernah ada perbaikan. Indonesia masih akan tetap impor kedelai dalam jumlah besar dan tidak terjadi peningkatan kesejahteraan petani kedelai,” jelasnya.

Di lain pihak, pemerintah beralasan HBP kedelai tidak dinaikkan karena tidak ada faktor produksi yang berubah dalam analisis biaya usaha tani kedelai untuk triwulan terakhir tahun ini. Meski demikian, pemerintah mengaku memang ada tuntutan untuk menaikkan HBP.

Kemendag optimistis dengan masih diberlakukannya HBP kedelai pada level tersebut, upaya mengurangi ketergantungan impor kedelai masih dapat tercapai. Selain itu, HBP tersebut dinilai sudah cukup berfungsi sebagai insentif untuk mendorong minat tanam petani.

“Melalui kebijakan harga pembelian kepada petani kedelai ini, semangat mereka untuk menanam kedelai akan tetap terpelihara. Nantinya, ini akan menstimulasi peningkatan produktivitas kedelai,” kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Srie Agsustina seperti dikutip dari laman Kemendag.

Srie berharap, dengan kebijakan harga pembelian kedelai kepada petani saat ini, semangat para petani untuk menanam kedelai akan tetap terpelihara, yang pada gilirannya akan dapat menstimulasi peningkatan produktivitas tanaman kedelai.

Badan Pusat Statitik (BPS) melaporkan produksi kedelai pada 2013 hanya mencapai sekitar 780.160 ton biji kering, turun 7,47% atau 62.990 dari pencapaian produksi pada tahun sebelumnya. Adapun, jumlah kebutuhan kedelai impor mencapai 2,4 juta-2,5 juta ton/tahun.


 

 

Menteri Koperasi dan UKM Minta Petani Garut Berkoperasi dan Produksi Komoditas Unggulan

Halaman: 
Penulis : Ali Hamid
 
×
×