logo


Berapakah Padat Tebar Lele yang Ideal Dalam Akuaponik Bioflok?

Menurut salah satu periset Seatomo Biotrop, kepadatan yang pas berkisar antara 500 – 900 ekor/ m persegi

26 April 2016 14:49 WIB

Budidaya lele sistem bioflok.
Budidaya lele sistem bioflok. dok. Jitunews

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Dengan menggunakan teknologi akuaponik bioflok yang ditemukan oleh Dr. Nur Bambang Priyo Utomo, periset di Seamo Biotrop, produksi ikan dapat terdongkrak hingga 10 kali lipat. Namun berdasarkan penelitiannya itu, dibutuhkan padat tebar yang tepat untuk mempertahankan keseimbangan komposisi serapan bioflok dan nutrisi untuk tanaman yang pas.

Bambang mengatakan kepadatan yang pas untuk lele yang dikembangkan pada teknologi akuaponik bioflok yaitu pada kisaran 500 – 900 ekor per m². Bambang menambahkan bagi pemula sebaiknya mencoba dengan menyesuaikan lahan yang tersedia.

Teknologi akuaponik bioflok sendiri merupakan cara penggabungan budidaya sayur dan ikan di wadah yang sama dengan memadukan dua teknik pertanian dan peternakan termutakhir sebagai tujuan untuk meningkatkan produksi ikan.


Kelompok Pakan Ikan di Probolinggo Berhasil Kembangkan Pakan Berbasis Bahan Baku Lokal

Ia juga menambahkan, sebagai patokan ukuran luas yang ideal yaitu 1 m³ dengan kepadatan 1.000 ikan lele. Lain halnya dengan sistim budidaya konvensional yang hanya mampu menampung 100 ekor untuk setiap 1 m³. Untuk menunjang produksi lele, selain padat tebar keberadaan mesin aerator juga sangat diperlukan.

“Mesin aerator itu berfungsi untuk meniupkan udara ke dalam kolam air. Setelah kolam jadi, yaitu menyiapkan air untuk pembesaran benih lele,” kata Bambang.

Menurut peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta, Dr. Yudi Sastro, pembuatan sarana akuaponik bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk ukuran kebutuhan keluarga, cukup dengan kolam bervolume air 5 kubik dan padat tebar 300 ekor bibit ukuran 10 cm dengan luasan tanam sayuran 4 m². Namun jika untuk keperluan bisnis maka luasan pertanaman sayuran harus melebihi 1.000 m².

Anggota komunitas Belajar Akuaponik Indonesia, Kaftari Fiscer mengatakan sejatinya tidak ada pakem yang mengikat dalam ber-akuaponik. Tujuan tercetusnya bertani dan berbudidaya ikan secara akuaponik sendiri dikatakan Kaftari tak lain untuk memanfaatkan lahan yang ada dengan memanen dua komoditi yang berbeda.

“Para pemain akuaponik ada yang lebih mengutamakan ikan atau tanaman saja bahkan intensif untuk keduanya,” kata Kaftaru.

Menurut Kaftaru keunggulan sistim akuaponik nyaris tanpa limbah, ditambah dengan ditemukannya teknologi akuaponik bioflok ia percaya produktifitas ikan dapat meningkat akibat padat tebar yang lebih rapat karena keunggulan bioflok yang dapat mengubah kotoran menjadi pakan ikan.

Era Industri 4.0, KKP Dorong Digitalisasi UMKM Kelautan dan Perikanan

Halaman: 
Penulis : Aditya Kurniawan, Agung Rahmadsyah