logo


KOPTI: Kita Masih Bergantung Pada Kedelai Impor

Ketersediaan kedelai lokal yang masih belum stabil membuat para produsen tahu dan tempe mengandalkan kedelai impor

26 April 2016 12:49 WIB

Pembuatan tempe di pabrik rumahan olahan tempe.
Pembuatan tempe di pabrik rumahan olahan tempe. JITUNEWS/Johdan A.A.P

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) Aip Syarifuddin mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya masih sangat bergantung pada kedelai impor, pasalnya keberadaan kedelai lokal saat ini belum bisa memenuhi permintaan para produsen tahu dan tempe tanah air yang setiap harinya terus mengalami peningkatan.

"Hingga saat ini ketersediaan kedelai lokal masih belum stabil, sementara kebutuhan akan kedelai ini terus meningkat," demikian kata Aip Syarifuddin saat dihubungi Jitunews.com, Selasa (26/4).

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa ketersediaan kedelai lokal yang masih belum stabil membuat para produsen tahu dan tempe mengandalkan kedelai impor dalam upaya untuk melanjutkan usahanya.


Peran Pemuda Majukan Pertanian di Indonesia Makin Nyata

"Kalau kedelai lokal ketersediaannya sudah baik dan stabil pasti kami akan menyerap kedelai lokal tersebut," demikian katanya.

Namun, ia juga mengatakan bahwa selain ketersediaan yang masih belum stabil, kualitas kedelai impor masih jauh lebih bagus dibandingkan dengan kedelai lokal. Selain soal kualitas, rupanya kedelai impor harganya jauh lebih murah dibandingkan kedelai lokal.

"Kedelai lokal berdasarkan penetapan HPP Rp 7.600, sementara untuk kedelai impor harganya hanya Rp 6000," demikian katanya.

Sementara itu, ia juga tidak mengecilkan kualitas kedelai lokal yang juga memiliki keunggulan pada tingkat kandungan protein yang jauh lebih baik dibandingkan kedelai impor. Kemudian, kulit kedelai lokal jauh lebih tipis sehingga mudah untuk diproduksi menjadi tahu dengan rasa yang lebih enak.

Namun kualitas kedelai lokal ini masih terhitung sedikit bila dibandingkan dengan banyaknya mutu dan kualitas dari kedelai impor, yang juga didukung dengan harga yang terjangkau dan ketersediaan yang terus stabil.

"Ketersediaan kedelai lokal yang masih belum stabil, makanya para pelaku usaha masih mengandalkan kedelai impor untuk kelangsungan usahanya," demikian tungkasnya.

Periode Maret 2018: Harga Menguat, BK CPO Nol, BK Kakao 5%

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Syukron Fadillah