logo


Yuk, Budidaya Keong Sawah!

Selain diolah sebagai makanan lezat, tutut juga bisa dijadikan pakan untuk ternak ikan dan unggas

30 Oktober 2014 09:01 WIB

ISTIMEWA
ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Jika dulu keong sawah atau disebut tutut hanya dijadikan makanan khas pembuka puasa (bulan Ramadhan) di beberapa daerah, kini tutut banyak dijajakan di pinggir jalan sampai restoran Eropa pada bulan-bulan biasa. Biasanya yang dijajakan di pinggir jalan berupa tutut rebus yang disajikan dengan aneka bumbu. Selain diolah sebagai makanan lezat, tutut juga bisa dijadikan pakan untuk ternak ikan dan unggas.

Semula keong memang merupakan hama pengganggu bagi para petani padi, tetapi kini karena diketahui banyak manfaat dari hewan ini, maka mulai banyak yang mengusahakan hingga mendatangkan untung. Misalnya untuk daging segarnya bisa dikonsumsi manusia sebagai lauk (makanan) yang bermanfaat untuk penambah nafsu makan dan mengurangi gangguan penyakit liver. Selain itu dijadikan sebagai pakan ternak mulai dari ternak sidat, lele, ayam dan bebek. Olahan daging keong berupa tepung juga bisa dijadikan pakan ternak. Cangkangnya sendiri bisa dijadikan pupuk dan tepung karena banyak mengandung phosfor dan kalsium.

Lantas, bagaimana teknis budidaya keong sawah ini?


KKP: Asuransi Pembudidaya Lindungi Saat Bencana Alam

Persiapan Kolam. Kolam yang digunakan bisa berupa kolam semen atau kolam tanah. Ibo menggunakan kolam ukuran 8 meter x 10 meter. Sebaiknya bagian bawah kolam dibuat secara landai, agar keong nantinya dapat merambat ke permukaan kolam ketika terjadi perubahan suhu air. Gunakan air sungai, air sumur atau air dari mata air pegunungan untuk membudidaya keong, sebab keong tidak tahan dengan air limbah. Buat saluran keluar dan masuknya air agar nantinya terdapat aliran air dalam kolam. Selama persiapan kolam, tak perlu diberi tambahan pupuk seperti halnya pada kolam ikan. Tetapi air dapat langsung dialirkan pada kolam yang sudah ada. Letakkan beberapa ranting bercabang atau bambu yang nantinya bisa digunakan keong sebagai tempat memanjat dan menempel. Biasanya pada malam hari keong akan naik ke permukaan air, sedangkan pada pukul 8 atau 9 pagi, keong masuk kembali ke dalam air kolam. Alirkan air dengan kedalaman 50-100 cm.

Tabur Tutut. Tangkap tutut dari rawa dengan menggunakan jaring besi. Masukkan dalam karung dan siram karung tersebut agar tetap lembab. Tutut siap dipindahkan ke kolam. Saat dijaring, dengan sendirinya keong tersebut telah tersortir, sehingga ukuran tutut yang terjaring bersamaan bisa satu kelompok. Setelah air dialirkan, tutut dapat langsung diletakkan dalam kolam. Keong dapat hidup di dalam air dingin maupun hangat. Dari satu kolam dengan ukuran 8 meter x 10 meter, bisa diisi tutut sebanyak 400-500 kg.

Pemeliharaan. Pakan yang diberikan bisa berupa daun-daunan hijau berbentuk lebar, misalnya daun pepaya, daun talas, sente, daun singkong dan sebagainya. Berikan pakan pada pagi dan sore hari. Untuk satu kolam ukuran 8 m x 10 m bisa diberikan pakan berupa dedaunan sebanyak ½ karung atau seberat 5 kg. Dalam waktu 30 menit, pakan tersebut akan habis dimakan hewan lunak bercangkang tersebut.

Tutut yang siap bertelur biasanya telah mencapai ukuran diameter tubuh 5 cm. Dari satu ekor indukan akan menghasilkan tutut sebanyak 30 ekor. Masa bertelur keong tidak mengenal musim. Telur berbentuk granul dengan warna pink akan menetas dalam waktu sebulan.

Tidak ada penyakit tertentu yang menyerang keong. Yang terpenting agar keong tidak terkena penyakit sebaikya menjaga kondisi air. Agar terhindar dari kematian, kondisi keong juga perlu dicek. Misalnya dengan mengaduk air, kemudian lihat apakah ada keong yang menyembul ke atas dan mengapung. Keong yang menyembul itulah yang merupakan keong mati. Segera pindahkan keong tersebut agar tidak menyebar ke keong lainnya.

Panen. Setelah dua minggu, keong bisa dipanen. Baik kecil maupun besar bisa dipanen karena sesuai permintaan. Yang besar biasanya dikonsumsi manusia, sedangkan yang kecil bisa digunakan sebagai pakan ternak. Umumnya dari 1 kolam berukuran 8x10 meter bisa dipanen keong baik keong mas  maupun tutut dengan penambahan berat keong sekitar 10% setelah dipelihara selama 2 minggu. Gunakan serokan ketika panen kemudian segera masukkan keong ke karung plastik kosong. Dalam satu karung umumnya berisi sekitar 50 kg keong. Ketika diangkut, jangan lupa menyiram karung plastik tadi dengan air, agar air dapat masuk ke karung secara perlahan serta bertujuan menjaga kelembaban udara di dalam karung.

 

 

Siap Beroperasi, Ini Manfaat Embung Pangandaran yang Dibangun KKP

Halaman: 
Penulis : Riana,