logo


Pekerja Freeport Ancam Mogok Sebulan

Aksi mogok dipicu lantaran manajemen PT Freeport Indonesia ketidakpuasan pekerja

28 Oktober 2014 14:41 WIB

Istimewa
Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pekerja PT Freeport Indonesia yang tergabung dalam Serikat Pekerja Kimia, Energi dan Pertambangan - Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PUK SPKEP-SPSI) mengancam akan mogok bekerja pada tanggal 6 November 2014 hingga 6 Desember 2014.

Aksi mogok dipicu lantaran manajemen PT Freeport Indonesia ketidakpuasan pekerja atas respon manajemen menanggapi kecelakaan kerja di Big Gossan pada 14 Mei 2013 lalu.

"Kepemimpinan (manajemen, red) yang cenderung semakin semena-mena dan memicu ketidak-percayaan Pekerja terhadap jajaran Pimpinan PTFI (Manajemen PTFI)," ujar Ketua SPKEP-SPSI PT FI, Sudiro melalui keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (28/10).


Hitung-hitungan Inalum, 2023 Puncak Pendapatan Freeport Indonesia Sebesar…

Berikut alasan-alasan dan tuntutan SPKEP-SPSI PT FI :

1. Bahwa sejak Tragedi Big Gossan pada 14 Mei 2013 yang menewaskan 28 Pekerja di PTFI, Kecelakaan Maut di Tambang Terbuka Grasberg pada 27 September 2014 yang menewaskan empat orang, cidera berat dua orang dan cidera ringan tiga orang Pekerja di PTFI dan serangkaian kecelakaan maut dan kecelakaan cidera lainnya di lingkungan kerja PT Freeport Indonesia.

"Dari rangkaian kejadian tersebut, Pekerja menilai oknum-oknum Manajemen PTFI telah GAGAL mengelola Sistem Manajerial dan K3LLP di lingkungan PTFI yang sampai saat ini belum jelas siapa yang bertanggung jawab dan dikenakan sanksi secara hukum atas kegagalan tersebut," kata Sudiro, seperti yang dikutip dari keterangan tertulisanya di Jakarta, Selasa (28/10/2014).

2.  kegagalan manajemen di lingkungan PTFI dalam mengelola sistem Manajerial dan K3LLP telah menimbulkan keprihatinan dan reaksi keras dari Pekerja di lingkungan PTFI dalam bentuk aksi spontanitas sebagai wujud atas kekecewaan yang mendalam terhadap buruknya kepemimpinan dan perlakuan jajaran manajemen terhadap Pekerjanya.

3. Bahwa akibat dari kegagalan-kegagalan yang sangat drastis akhir-akhir ini dan pola serta tata-cara kepemimpinan yang cenderung semakin semena-mena dan memicu ketidak-percayaan Pekerja terhadap jajaran Pimpinan PTFI (Manajemen PTFI) sehingga protes berkembang menjadi suatu aksi spontanitas secara bersama-sama oleh seluruh Pekerja di wilayah PTFI.

4. Bahwa perilaku-perilaku oknum maupun kelompok dalam Jajaran Manajemen di lingkungan PTFI dinilai telah berubah menjadi kebiasaan buruk atas sikap dan tingkah-laku (attitude) mereka terhadap pelaksanaan Hubungan Industrial di lingkungan PTFI sehingga tidak sesuai dengan semangat dalam membangun Kemitraan, membangun Freeport Baru yang lebih baik (Visi-Misi PTFI) dan keta’atan terhadap azas (taat azas) serta norma-norma Kemanusiaan (HAM) sebagai sesama anak Bangsa (Bangsa Indonesia dalam kedaulatan NKRI).

5. Bahwa Pekerja di Lingkungan PTFI memiliki semangat Pembaharuan dan Perubahan menuju tatanan Perusahaan yang lebih mencerminkan budaya bangsa Indonesia yang berdaulat dalam bingkai NKRI dan Pekerja Indonesia merupakan anak bangsa yang membela dan memperjuangkan harkat dan martabat Pekerja serta kedaulatan hukum di wilayah kerja PTFI sehingga Pekerja di PTFI menentang pola, tata-cara dan perilaku kepemimpinan yang telah gagal tersebut.

6. Kegagalan kepemimpinan Manajemen PTFI juga berimbas kepada buruknya tata-kelola perusahaan perusahaan lainnya, seperti di PT. Kuala Pelabuhan Indonesia (PT KPI) dan PT. Puncakjaya Power (PT.PJP), sehingga memicu aksi protes dan penolakan oleh Pekerja di perusahaan-perusahaan tersebut. Kegagalan- kepemimpinan di kedua perusahaan tersebut juga mendapat reaksi keras dari Pekerja Anggota SPKEP SPSI terutama kegagalan pada proses penyelesaian permasalahan-permasalahan hubungan industrial, seperti pada PT Puncakjaya Power yang telah diperselisihkan sejak Mei 2014.

IUPK untuk Freeport Belum Keluar, Ini Pertimbangan KESDM

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan,