logo


Kondisi Green House di Rusun Marunda Memprihatinkan

Kondisi tersebut telah berlangsung sejak Febuari lalu ketika atap green house dihantam hujan lebat disertai angin kencang

15 April 2016 14:52 WIB

Rumah hidroponik di Rusun Marunda. (Jitunews/Aditya Kurniawan)
Rumah hidroponik di Rusun Marunda. (Jitunews/Aditya Kurniawan)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Sejak dicanangkannya program pertanian kota oleh Pemprov DKI Jakarta pada April 2014 lalu di rumah susun (rusun) Marunda, Jakarta Utara, kini keberadaan green house di rusun tersebut memprihatinkan. 

Dari pantauan JITUNEWS.COM bersama rombongan mahasiswa pertanian Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, sebagian besar atap green house seluas 16 x 40 meter persegi itu terbuka, beberapa modul hidroponik pun tampak kosong kendati masih ada sayuran yang tengah tumbuh.

Menurut Easter, anggota Kelompok Tani Rusunawa Marunda RW 10 Cluster A, kondisi tersebut telah berlangsung sejak Febuari lalu ketika atap green house dihantam hujan lebat disertai angin kencang. Keluhan Easter semakin menjadi ketika pertumbuhan sayuran hidroponiknya tak dapat lagi maksimal karena berkuranggnya sarana penunjang.


Dokter Spesialis: Penderita Maag Jangan Makan Nangka!

“Tanaman hidroponik itu kan tidak boleh kena sinar matahari dan air hujan secara langsung karena dapat mengakibatkan pertumbuhan sayur kurang maksimal. Dulu satu lubang bisa menghasilkan 1 kg sayur, bahkan kerap ada konsumen yang datang membeli sayur hanya untuk ditaruh di vas  bunga karena kanopi dari sayur tersebut bagus, rimbun dan hijau. Sekarang dengan kondisi seperti ini agak susah,” jelas Easter kepada JITUNEWS.COM.

Easter mengatakan, ia sendiri telah melaporkan kondisi green house ke Dinas Pertanian dan Dinas Perumahan DKI Jakarta selaku pihak yang bertanggung jawab, namun hingga detik ini Easter mengaku belum mendapat respon dan tindak lanjut untuk merehabilitasi green house

Secara mekanis, sejatinya green house Rusun Marunda terbilang cukup menunjang sarana bercocok tanam hidroponik, berpondasi baja ringan, berdinding kawat dan beratap terpal bening tebal yang berfungsi meredam sinar matahari menyengat permukaan tanaman.

“Sebenarnya green house ini berdiri bukan dari dana pemerintah tapi dari tabungan pribadi Pak Jokowi (Gubernur DKI Jakarta kala itu), nilainya ratusan juta. Tapi dalam pelaksanaan bilangnya dari dana pemda. Sempat ada warga yang diimpikan Jokowi lagi marah-marah karena petani disini membiarkan green house kurang terurus, tapi mau bagaimana dana untuk memperbaikinya tidak ada,” bisik Easter.

Bupati Sragen Ajak Warga Bercocok Tanam di Halaman Rumah

Halaman: 
Penulis : Aditya Kurniawan, Riana