logo


Tak Mampu Bayar Utang, Perusahaan Batu Bara Terbesar Dunia Bangkrut

Kesulitan membayar utang tersebut muncul sejak mengambil alih perusahaan tambang lainnya

14 April 2016 12:46 WIB


LONDON, JITUNEWS.COM - Perusahaan tambang batu bara swasta terbesar di dunia yang berkantor di Amerika Serikat (AS), Peabody Energy, baru saja mengajukan proteksi atas kebangkrutan.

Harga batu bara yang anjlok membuat raksasa tambang ini tidak bisa membayar utang-utang. Pihak Peabody menyatakan, pengajuan proteksi kebangkrutan ini guna mengurangi utang dan juga agar produksi tambang serta kantornya dapat terus beroperasi.

"Ini adalah keputusan yang sulit, namun ini langkah yang tepat bagi Peabody ke depannya," ungkap CEO Peabody Energy, Glenn Kellow, seperti dikutip dari BBC News, Kamis (14/4).


Warga Desa Sungai Bemban Pertanyakan Izin Tambang Galian C

Masalah utang Peabody tersebut mulai muncul sejak memutuskan untuk mengambil alih perusahaan tambang pesaingnya, yakni MacArthur. Peabody membayar 5 miliar Dollar Australia untuk membeli MacArthur pada tahun 2011. Akan tetapi, harga batu bara yang kian merosot dan menurunnya permintaan membuat Peabody kesulitan melunasi utang.

Langkah yang diambil Peabody ini adalah satu dari gelombang kebangkrutan yang dialami industri tambang. Perusahaan-perusahaan tambang harus bergumul dengan kombinasi rendahnya harga energi, regulasi lingkungan yang makin ketat, dan pergeseran ke penggunaan gas alam.

"Faktor-faktor yang mempengaruhi industri batu bara global dalam beberapa tahun tidak bisa dihindari. Industri tertekan dalam beberapa tahun terakhir karena turunnya harga bau bara metalurgi, lemahnya ekonomi China, overproduksi gas serpih domestik, dan tantangan regulator," tulis Peabody dalam dokumen kebangkrutannya.

Dokumen kebangkrutan Peabody adalah salah satu yang terbesar di sektor industri komoditas batu bara sejak harga energi dan metal terpuruk pada pertengahan 2014 hingga kini. Penurunan harga yang secara tersebut lantaran permintaan di negara-negara emerging markets seperti Brazil dan China mulai melambat.

Kondisi Pasar Membaik, HBA Agustus 2019 Dipatok USD 72,67 per Ton

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin