logo


High Cost, Hight Technology dan High Risks Tantangan Migas 2015

Dalam dua tahun terakhir ini tidak ada hasil menggembirakan dari eksplorasi migas nasional.

29 Oktober 2014 06:00 WIB

ISTIMEWA
ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ada empat kata yang dapat menggambarkan industri migas nasional. Keempat kata itu adalah high cost, high technology, long term dan high risks. Inilah sejatinya tantangan sekaligus peluang industri migas nasional di 2015. Seperti apakah gambarannya? Berikut jitunews menganalisanya

Kondisi sektor migas nasinoal sejatinya tidak berbeda jauh dengan apa yang terjadi sepanjang 2014. Bahkan kondisi tersebut sebenarnya sudah terjadi juga di tahun 2013.  Tantangan dan peluang dalam melakukan eksplorasi migas semakin berat. Apalagi eksplorasi yang berada di lepas pantai dan laut dalam.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, terutama dalam dua tahun terakhir belakangan ini tidak ada hasil menggembirakan dari eksplorasi migas nasional. Hasilnya adalah masih belum ditemukan lahan eksplorasi baru baik eksplorasi di daratan maupun lepas pantai sejak penemuan cadangan minyak di Cepu yang merupakan cadangan minyak besar di Indonesia.


Peluang Ekspor Akar Gingseng Jepang (Gobo) Terbuka Lebar

Praktis dengan kondisi tersebut membuat kegiatan ekplorasi migas seringkali tidak menemukan hasil maksimal alias tidak ada cadangan minyak yang terkandung dalam kegiatan eksplorasi tersebut. Padahal untuk satu kegiatan ekplorasi atau mengebor sumur itu membutuhkan biaya ratusan miliar dengan teknologi yang paling mutakhir. Belum lagi jika mengebor di laut dalam harus menggunakan drillship yang khusus dimana hanya beberapa gelintir perusahaan dunia yang memilikinya seperti Transocean. Itupun belum tentu membuahkan hasil meski resikonya sangat tinggi karena mengebor di laut dalam.

Saat ini kondisi cadangan migas kita lebih banyak didominasi sumur-sumur kering dan sumur tua. Hanya cadangan seperti Genting Oil di Papua yang belakangan juga baru ditemukan. Genting Oil ini berada di wilayah timur Indonesia.

Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Gde Pradnyana mendorong KKKS untuk mulai melakukan kegiatan eksplorasi di timur Indonesia. Menurutnya, Indonesia Timur akan menjadi lumbung baru sumber daya energi nasional. Pasalnya, diperkirakan potensi gas bumi yang tertanam mencapai 55 TSCF (Trillions of Standard Cubic Feet) sedangkan potensi minyak bumi sebesar 656 MSTB.

"Kelak, ketika wilayah eksplorasi migas sudah bergeser ke kawasan Indonesia timur, Indonesia akan lebih banyak memproduksi gas bumi," katanya.

Namun bukan tanpa soal, dengan kondisi alam di timur Indonesia yang banyak memiliki laut dalam diperkirakan biaya investasinyapun akan jauh membengkak ketimbang di bagian barat.

"Eksplorasi migas di wilayah Indonesia timur bukan perkara yang mudah. Salah satu tantangannya ialah kedalaman eksplorasi di laut dalam yang mencapai lebih dari 1.000 meter di bawah permukaan laut," katanya

Namun sekali lagi tantangan menemukan sumur baru tidak mudah. Sebab saat ini yang terjadi adalah banyaknya sumur-sumur tua yang sudah tidak bisa lagi dieksplorasi. Akibat banyaknya sumur kering (dryhole) membuat perusahaan besar seperti Marathon Oil, Niko Resources asal Kanada seringkali gigit jari. Mereka rugi besar padahal harapannya bisa menemukan cadangan minyak disana dan sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Padahal kalaupun ada cadangan minyak di dalamnya, perusahaan tersebut tentu bisa mengklaim biaya eksplorasinya melalui skema cost recovery.

Berdasarkan data SKK Migas untuk sekali eksplorasi saja diperlukan US $ 800 juta. Besaran angka eksplorasi ini diperkirakan akan sama di tahun 2015 meskpun mereka belum mengeluarkan angka secara resmi.

Tingginya biaya eksplorasi itu pada akhirnya membuat perusahaan migas Perancis Total E&P Indonesie rela merogoh kocek lebih dalam yaitu sekira US $ 2,5 sampai US $ 3 miliar demi untuk mengembangkan Blok Mahakam. Seperti diketahui pengembangan Blok Mahakam kembali dilakukan untuk mempertahankan produksinya mengingat blok tersebut sudah termasuk sumur tua.

Seperti kita ketahui, Blok Mahakam itu sudah berproduksi selama 40 tahun lebih. Praktis sudah hampir 80 % cadangan minyak bumi di dalam sumur tersebut dieksploitasi. Karena itu Total E&P melakukan proses pengeboran dengan menggunakan teknologi tingkat tinggi yang belum dimiliki perusahaan minyak nasional sekelas Pertamina.

Kalau mau melihat target produksi minyak bumi di 2015 yang sudah ditetapkan dalam APBN besarannya mencapai 900.000 barel per hari. Target tersebut mengalami kenaikan dari tahun 2014 yang memasang angka 818.000 barel per hari. Tentu saja target tersebut berat dilakukan mengingat kondisi sumur kita yang banyak didominasi sumur tua.

Pengamat energi dari Petrominer Institute, Komaidi Notonagoro saat berbincang dengan Jitunews.com, menilai angka 900 ribu bph dalam target lifting APBN 2015 adalah "PR" besar untuk pemerintahan Jokowi - JK. "Itu sudah biasa terjadi di dinamika DPR, mereka sering kali pasang target besar yang pada ujungnya direvisi sendiri," katanya.

Karena itu untuk dapat mengejar target produksi tersebut, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah mesti menggandeng perusahaan migas kelas dunia yang memiliki teknologi tinggi demi menggapai asa produksi tersebut. Beberapa proyek seperti Blok East Natuna harus dikerjakan bersama dengan perusahaan migas global. Inpex yang mengembangkan Blok Masela juga bermitra dengan Shell dan Energi Mega Persada meskipun kini Energi Mega sudah ganti kepemilikan pasca penjualan saham perusahaan tersebut beberapa waktu lalu.

Demikian juga pada pengembangan Blok Mahakam, yang kontraknya berakhir 2014. Publik dan pelaku industri beharap Blok Mahakam tetap berlanjut karena blok tersebut sudah menyuplai 80 % pasokan gas ke LNG Bontang. Keinginan operator lama (Total E&P) untuk tetap mengelola blok tersebut dan kemungkinan masuknya pemain baru layak dipertimbangkan.

Untuk memuluskan kerjasama itu, pemerintah harus mendorongnya dari sisi perijinan, birokrasi yang bagi sebagain investor migas dianggap masih sangat pelik. Belum lagi ditambah soal kepastian hukum atau kasus korupsi migas yang belakangan terungkap.

Senada hal tersebut, Komaidi melihat bahwa soal kepastian hukum industri migas adalah persoalan yang akan dihadapi di tahun 2015. DPR menurutnya harus bekerja cepat menyelesaikan revisi Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi. Dengan adanya UU Migas baru Komaidi memproyeksikan akan banyak investor yang masuk

Selain kepastian hukum, masalah perizinan juga masih menjadi hambatan utama kegiatan eksplorasi migas. Pasalnya, selama ini untuk mengurus kegiatan usaha di bidang minyak dan gas hampir mencapai 300 jenis perizinan. "Yang mungkin bisa dilakukan oleh pemerintahan baru adalah melakukan penyederhanaan perizinan, sehingga investor mudah untuk melakukan kegiatan hulu migas," tambah Komaidi.

 

Melon Granat, Primadona Baru Buah Melon?

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan, Ali Hamid