logo


Program JKN Diharapkan Bisa Membantu Pasien Kanker di Indonesia

Kanker bukan hanya mematikan, tetapi juga memiskinkan keluarga penderita.

11 April 2016 14:09 WIB

Ilustrasi foto. (shutterstock)
Ilustrasi foto. (shutterstock)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Selama ini kanker merupakan penyakit yang dikenal menakutkan dan sanggup memiskinkan keluarga penderita. Data WHO menunjukkan bahwa kematian dini kurang dari 70 tahun akibat kanker menepati urutan kedua yaitu 27% setelah kardiovaskular (37%). 

Di dunia, penyakit kanker merengut 8,2 juta nyawa. Jumlah lima kanker terbanyak mematikan adalah kanker paru (1,6 juta jiwa), kanker hati (745 ribu jiwa), kanker lambung (723 ribu jiwa), kanker kolon (694 ribu) dan kanker payudara (521 ribu). 

Kanker bukan hanya mematikan, tetapi juga memiskinkan keluarga penderita.


Nggak Usah Panik, Berikut Tips Menghindari Penularan Virus Corona Menurut WHO

Dikatakan oleh Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyrakat, Universitas Indonesia, Prof. dr. Hasbullah Thabrany,MPH,DrPH, pada tahun 2012, diperkirakan terdapat 299.700 kasus kanker baru yang muncul dan sebanyak 194.500 kematian karena kanker di Indonesia. 

Jumlah pengidap kanker diperkirakan terus meningkat lebih dari 60% pada tahun 2030 dengan prediksi jumlah penderita 489.800 orang per tahun. Data klaim BPJS Kesehatan di tahun 2014 terdapat 315.580 klaim penyakit kanker dan di tahun 2015 mencapai 500.000 klaim.

"Menurut data BPJS pengindap kanker semakin meningkat. Penderita kanker peserta JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) menghabiskan dana Rp 1,7 Triliun di tahun 2014 dan sekitar Rp 2,5 Triliun di tahun 2015," ucap Prof Hasbullah kepada jitunews di Aula Siwabessy, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta Selatan (11/4) siang tadi.

Lebih lanjut, Prof Hasbullah mengatakan, pergeseran pola penyakit di Indonesia telah menimbulkan beban ganda bagi pemerintah, dimana upaya mengatasi penyakit menular masih menjadi prioritas. Namun kini juga harus mengantipasi makin meningkatnya kejadian penyakit tidak menular tetapi memerlukan perhatian besar seperti kanker. 

Pelaksanaan program JKN sejak awal 2014 harus diapresiasi sebagai bentuk komitmen pemerintah untuk memberikan perhatian lebih atas masalah kesehatan. Dalam konteks studi ACTION yang pengambilan datanya dilakukan sebelum program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diluncurkan.

"Sangat diharapkan agar program kesehatan JKN ini bisa memberikan peningkatan akses terhadap layanan penatalaksanaan kanker yang sesuai standar,"ungkapnya.

Prof Hasbullah juga menyoroti beberapa permasalahan terkait dengan kanker di Indonesia. Menurutnya, kanker tidak saja menjadi fatal terutama akibat keterlambatan diagnosis dan penanganan karena rendahnya kesadaran masyarakat sehingga umumnya pasien datang terlambat serta keterbatasan infrastruktur dan tenaga ahli, tetapi juga menimbulkan bencana keuangan bagi sebagian besar pasien. 

Ditekankannya bahwa keberadaan program JKN harus mampu mengurangi dampak negatif akibat kanker dan pasien diharapkan mendapatkan akses memadai mulai dari layanan primer dan sekunder untuk pengobatan dan diagnosa hingga layanan terapi sesua dengan standar medis.

WHO: Pemakaian Masker di Daerah yang Kekurangan Air atau Kondisi Tinggal Berdekatan

Halaman: 
Penulis : Suciati, Syukron Fadillah