logo


Teknologi Geomembran Masih Belum Diminati Petani Garam

Masih mahalnya biaya dari teknologi ini menjadi salah satu faktor kurang peminat

24 Oktober 2014 14:33 WIB

Tekonologi Geomembran.(Istimewa)
Tekonologi Geomembran.(Istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Keberadaan teknologi geomembran masih belum terlalu diminati oleh para petani garam di sejumlah daerah. Pasalnya untuk menerapkan teknologi tersebut harganya relatif mahal.

Selain itu masa panen garam juga lebih lama daripada cara tradisional. Bila menggunakan teknologi geomembran panen garam butuh waktu sepekan sementara bila dengan cara tradisional petani  bisa panen tiga hari sekali.

“Jangka waktu panen lebih lama sehingga meski produksi bisa naik petani belum tergerak. Teknologi ini juga baru dikenalkan tahun lalu, petani masih mau melihat hasilnya,” kata Petani garam asal Kecamatan Losarang, Indramayu, Sarli seperti dikutip dari bisnis.com


Crowde Kini Jadi Solusi Petani dalam Urusan Pembiayaan

Seperti diketahui, teknologi geomembran merupakan lembaran untuk menampung air laut bahan garam. Lembaran tersebut dihamparkan di tambak tradisional, lantas dimasukkan air laut ke dalamnya.

Sarli menguraikan penggunaan geomembran membuat masa panen garam perlu sepekan. Sedangkan bila dengan cara tradisional petani biasa memanen setiap tiga hari sekali.

Perbedaan masa panen, kata dia, membuat petani belum tertarik mengadopsi teknologi ini. Meski secara nyata produksi garam di tambak tradisional yang semula 70 ton-80 ton per hektare bisa meningkat hingga 100 ton per hektare saat menggunakan geomembran.

Petani garam asal Kecamatan Tangkil, Pati, Jawa Tengah, Rokib menambahkan petani di daerahnya belum tertarik mengadopsi geomembran karena persoalan biaya. Pemasangan geomebran memerlukan biaya Rp24 juta.

“Tapi memang airnya bisa panas, malam juga, sehingga penguapan lebih baik,”  jelasnya petani yang mengelola 10 hektare tambak ini. Dari jumlah itu baru 0,5 hektare yang dipasangi geomembran.

Menurutnya bila ada skema pembiayaan lebih ringan bisa saja petani diarahkan mengadopasi teknologi tersebut. Pembiayaan menjadi penting karena ini terkait mengubah kebiasaan panen tiga hari sekali menjadi sepekan sekali.

Petani, kata dia, juga sudah sadar untuk meningkatkan harga jual garam maka kualitas harus lebih baik. Penggunaan teknologi pengolahan diamini jadi salah satu cara.

"Namun kesadaran itu terbentur kebutuhan, sehingga perlu skema meringankan untuk modernisasi petani garam ini," tegasnya.

Pengamat Sebut Sinkronisasi Penerapan Teknologi Pertanian Butuh Waktu 15 Tahun

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin, Riana
 
×
×