•  

logo


Bertemu Presiden, Said Sebut Pemerintah Tak Tegas Hadapi LGBT

Said juga sampaikan keluhannya kepada presiden dengan menyebut pemerintah tak berani tegas menghadapi LBGT.

31 Maret 2016 14:54 WIB

Ketua PBNU Said Aqil Siraj (Ist)
Ketua PBNU Said Aqil Siraj (Ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hari ini, Kamis 31 Maret 2016 melangsungkan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Jakarta.

Agenda utama dalam pertemuan tersebut ialah membahas tentang rencana mengumpulkan para pemimpin Islam yang tidak memiliki ketidakberpihakan dalam acara International Summit of the Moslem Moderate Leader di Jakarta Convention Center (JCC) pada 9 Mei 2016.

Di luar hal tersbeut, PBNU juga membahas tentang isu-isu hangat yang mewarnai pemberitaan beberapa waktu terakhir, seperti penyanderaan 10 warga negara Indonesia (WNI) oleh kelompok Abu Sayyaf dan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua PBNU Said Aqil Siraj dengan menyampaikan bahwa pertemuan dengan Jokowi salah satunya membicarakan tentang 10 WNI yang ditawan kelompok Abu Sayyaf.


MUI DKI Bentuk Mujahid Cyber, PBNU: Tujuan Politis Harusnya Dihindari

"Kami pun mendukung pemerintah menangani sandera di Filipina," ujar Said di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (31/3).

Kemudian, Said pun menyampaikan juga keluhannya kepada presiden dengan menyebut bahwa pemerintah tak berani tegas dalam menghadapi kaum LBGT.  Mengingat kaum berorientasi seks bermasalah itu jelas-jelas terus mempropagandakan diri agar diakui pemerintah.

"Mengusulkan pemerintah tegas lagi menolak LGBT karena sikap NU sudah jelas, tegas, dan keras menolak LGBT. Pemerintah malah kurang tegas dalam hal ini. RRC (Republik Rakyat China) sudah melarang, Singapura melarang, Indonesia harus tegas melarang LGBT," pungkasnya.

Soal Promo Holywings, PBNU: Melukai Perasaan Umat Islam

Halaman: 
Penulis : Syukron Fadillah