logo


Bunga Firdaus: Bermodal Kardus Mie, Sukses Merangkai Usaha WO

Untuk mengatasi persaingan, ia memutuskan untuk fokus ke konsep tradisonal dan islami

24 Oktober 2014 13:35 WIB

ISTIMEWA
ISTIMEWA

JITUNEWS.COM - Siapa yang tak ingin momen hari bahagianya berjalan lancar. Mengingat momen bahagia seperti pernikahan diharapkan menjadi hal terbaik sekali dalam seumur hidup. Namun bila tak pandai mengaturnya, satu acara pernikahan bisa menjadi petaka tak membahagiakan yang akan dikenang seumur hidup.

Kerumitan dan harapan penyelenggaraan satu perayaan pernikahan yang khidmat, indah, dan lancar inilah yang kemudian membuka peluang usaha untuk mewujudkan mimpi tersebut. Adalah Bunga Firdaus (32), pemilik Bunga Wedding Organizer yang cukup lama malang melintang di dunia tata kelola pernikahan di dalam maupun luar Jakarta.

Dalam memulai jejak usahanya, pemilik Bunga Wedding Organizer ini mengaku tidak memerlukan modal besar. Hanya kardus indomie yang menjadi kantornya. Ya, kardus ini merupakan tempat untuk menyimpan file para klien. Selain modal, jumlah karyawan dan promosi yang dilakukan pun nyaris minim.


8 Cara Jitu untuk Jadi 'Morning Person'

Total keseluruhan sekitar 18 orang. “Yang mengurus keuangan dan marketing manajer, saya mempercayai suami saja. 2 orang lagi tim ini saya, selebihnya adalah pekerja lepas,” ujarnya. Untuk promosi sendiri, Bunga lebih aktif melakukan promosi lewat mulut ke mulut yang dinilai lebih ampuh menggaet klien.

 Meski terlihat “tidak serius’ dalam memulai usahanya, namun karena adanya kerjasama tim yang baik, kini nama Bunga Wedding Organizer telah berhasil menggeser beberapa nama pesaing di industry WO.

Kiat menghadapi persaingan dan pemasaran. Dengan begitu banyaknya persaingan di industri WO, Bunga pun berusaha memutar otak agar usahanya bisa tetap berjalan. Ia pun memutuskan untuk fokus ke konsep tradisonal dan islami. Strategi ini dinilai berhasil membuat nama Bunga WO semakin dikenal, di tengah persaingan yang ketat.

"Jadi kami tidak pernah menangani yang bergaun dan bridal, jadi itu sudah mengeliminasi ke kompetisi kami dengan WO universal atau yang internasional. Beberapa kali memang kita menangani klien yang ekspatriat tapi dengan outlook, outfit yang tradisional juga," tutur wanita kelahiran 2 Oktober 1982 ini.

Berkaitan dengan pendapatan, Bunga enggan mengungkapkan detail. Pastinya, dia mengaku bisa memegang 10 sampai 12 acara dalam sebulan."Kalau bicara nominal, kami itu memang masih di bawah, masih standar dibandingkan WO yang memang sudah sangat tersohor, tetapi kami Alhamdulillah diberikan kepercayaan oleh klien-klien kami untuk menangani banyak sekali event," tambah dia.

Suka duka. Bukanlah usaha jika tak ada suka dan duka. Menggeluti usaha WO juga ikut bermain perasaan. Sebab menurut Bunga, ini melibatkan keinginan bukan hanya sang pengantin tetapi masuk keluarga besarnya. Konflik internal keluarga kerap menjadi bumbu untuk diselesaikan."Pernah yang paling ekstrim adalah menjelang pernikahan si calon suami selingkuh, lalu kemudian curhatnya ke aku, dan itu sangat drama, ada yang ingin bunuh diri segala, dan aku mau tidak mau terlibat di situ," ungkap dia.

Sukanya bagi Bunga adalah, pada saat semua konflik itu mencapai klimaksnya dan kemudian berakhir di pelaminan dengan senyuman. Bahkan Tim Bunga kerap terharu menangis pada saat ijab Kabul dibacakan karena mereka menilai sukses membuat pasangan pengantin memperjuangkan cintanya.

Khusus target ke depan, Wanita lulusan Universitas Indonesia ini sedikit demi sedikit memberikan pengertian kepada masyarakat yang masih menganggap wedding tradisional kuno. "Kami tetap konsisten di tradisional, karena wedding tradisional itu sangat kompleks, sangat ngejelimet, lebih ngejelimet daripada wedding internasional, itulah sebetulnya kebutuhan wedding planner, wedding organizer itu dibutuhkan. Jadi target aku ke depan, di dalam satu acara itu kita bisa mengedukasi keluarga besar maupun hadirin, mengenai pentingnya nilai tradisional," tandas Bunga.

6 Alasan Mengapa Sebagian Orang Bisa Lebih Sukses Ketimbang yang Lain

Halaman: 
Penulis : Hasballah