logo


Polemik Produksi Buah Nusantara

Manajemen rantai pasokan buah Nusantara saat ini masih semrawut, mahal, dan kurang efisien

24 Oktober 2014 13:04 WIB

ISTIMEWA
ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Salah satu isu sentral sektor pertanian Indonesia beberapa tahun terakhir ini yang sangat memprihatinkan adalah tingginya impor produk hortikultura, khususnya buah-buahan segar.

Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB Agus Purwito mengatakan, berdasarkan hasil analisis Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB, secara keseluruhan nilai impor produk buah dan sayur Indonesia termasuk olahannya pada tahun 2011 mencapai lebih kurang Rp 17,61 trilliun. “Nilai ini lebih tinggi dari impor Indonesia untuk komoditas beras senilai Rp 10,6 trilliun, jagung Rp 8,61 trilliun , kedelai Rp 9,38 trilliun, dan gandum Rp 17,02 trilliun,” terang Agus kepada JITUNEWS.

Berdasarkan data dari BPS, volume impor Indonesia tahun 2011 mencapai lebih kurang 832 ribu ton dan menghabiskan devisa lebih kurang Rp 8,5 trilliun dengan tingkat pertumbuhan impor rata-rata tahun 2007-2011 sebesar 17,98 % per tahun. “Sedangkan untuk ekspor buah segar Indonesia pada tahun dan periode yang sama baru mencapai volume 223 ribu ton, dengan nilai devisa yang diraih mencapai Rp 2,2 trilliun,” kata dia.


Jagung Transgenik, Produk Bioteknologi Pengundang Kontroversi

Hasil kajian yang dilakukan terhadap data yang ada menunjukan bahwa pada periode 2007-2011 total produksi buah-buahan nasional mencapai angka 17,56 juta per tahun dengan tingkat pertumbuhan sebesar 3,07% per tahun. Sementara konsumsi mencapai 12,7 juta per tahun dengan tingkat pertumbuhan 3,54% per tahun. Sekilas terlihat seolah Indonesia telah swasembada buah dan bisa ekspor kelebihannya, namun faktanya tidak.

Menurut Kepala Pusat Kajian Buah Tropika IPB, Sobir, Phd mengatakan, ke depannya pasar buah itu akan semakin besar. “Pasar buah dunia itu menunjukkan kenaikan terus tiap tahunnya. Jadi kalau kita tidak mengisinya, maka akan diisi oleh orang lain,” pungkas Sobir.

Persoalan produksi buah nusantara pertama adalah tingkat kerusakan yang cukup tinggi mulai dari pada saat produksi di kebun (on farm) maupun pasca panen (off farm). Tingkat kerusakan mencapai angkat 30-60%. Hal ini terjadi karena lebih dari 90% produksi buah-buahan Nusantara tumbuh di lahan pekarangan, dengan jumlah kepemilikan rata-rata per petani hanya beberapa pohon saja.

Kedua, pengelolaan rantai pasok (supply chain management/SCM) yang meliputi perencanaan, implementasi, koordinasi dan pengawasan yang terintegrasi dalam melakukan bisnis proses untuk memproduksi dan menyalurkan produk sesuai dengan permintaan pasar seefisien mungkin.

Perbaikan manajemen rantai pasokan (SCM) akan menentukan kualitas, kontinuitas, dan konsistensi kehadiran buah Nusantara di pasar domestik dan internasional, yang pada gilirannya akan menentukan nilai tambah dan daya saing buah Nusantara.

Manajemen rantai pasokan (SCM) buah Nusantara saat ini dinilai masih semrawut, mahal, dan kurang efisien, sehingga dibutuhkan perbaikan.

Untuk membangun SCM buah nusantara yang berkualitas, khususnya untuk tujuan pasar domestik modern, keberadaan luasan produksi skala perkebunan (> 500 ha) dan kebun (antara 5 Ha – 50 Ha per hamparan) dan penangangan pasca panen di sentra-sentra produksi menjadi keharusan. Demikian juga keberadaan infrastruktur logistik dan teknologi distribusi. Hampir seluruh negara saat ini mempersyaratkan penerapan GAP (Good Agricultural Pratices) pada proses produksi buah, GHP (Good Handling Practices) pada proses penangangan pasca panen dan GMP (Good Manufacturing Practices).

“Dalam menyiasati agar produksi buah yang diekspor tetap bagus, ada baiknya para pembudidaya buah untuk komoditi ekspor menggandeng petani-petani kecil untuk menciptakan manajemen rantai pasokan di pasar ekspor. Sehingga meski produksi turun, namun bisa terus menjaga konsistensi kualitas ekspor, konsistensi harga, serta membangun komitmen rantai pasokan berkelanjutan. Pembudidaya juga harus dibekali  pembinaan agar menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) agar produk terus diterima di pasar ekspor,” tutur Sobir.

Semua upaya perbaikan tersebut memerlukan kerjasama seluruh pelaku terkait pengembangan buah nusantara, yang pada dasarnya bertumpu kepada kebijakan yang kondusif, penerapan teknologi, struktur pasar yang adil, koordinasi antar pelaku usaha dan kebijakan, tatakelola perusahaan yang berorientasi kebutuhan konsumen, dan ketersediaan sarana pendukung usaha.

 

Teknologi Jitu Robot Khusus Pemanggil Walet

Halaman: 
Penulis : Riana,