logo


Yuk Budidaya Udang Windu

Selain rasanya yang nikmat, ternyata udang windu memiliki nilai protein yang tinggi

24 Oktober 2014 12:11 WIB

istimewa
istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Spesies udang windu atau Penaesu Monodon termasuk ke  dalam kelas Crustacea. Udang merupakan salah satu bahan makanan sumber protein hewani yang bermutu tinggi. Bagi Indonesia udang merupakan primadona ekspor non migas. Permintaan konsumen dunia terhadap udang rata‐rata naik 11,5% per tahun. Walaupun masih banyak kendala, namun hingga saat ini negara produsen udang yang menjadi pesaing baru ekspor udang Indonesia terus bermunculan.

Syarat  Budidaya Udang Windu
Udang windu adalah merupakan hewan yang sangat  cocok dipelihara pada lahan tambak di daerah sepanjang pinggir pantai dengan tekstur tanah liat atau tanah liat berpasir supaya dapat menahan air. Suhu air berkisar antara 26 sampai 30 derajat Celcius, salinitas 15-30 ppt dan bebas dari pencemaran bahan kimia.Lokasi tambak harus memiliki saluran air dan saluran keluar yang terpisah.Selain itu syarat budidaya udang windo harus mendapatkan sarana produksi yaitu benur, pakan, pupuk, obat-obatan yang memadai.

Persiapan Lahan Tambak Udang Windu
Untuk persiapan tambak Udang Windu bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan,dan produktivitas lahan, dengan mengeliminasi faktor-faktor yang tidak dapat mendukung kelangsungan hidup udang dan mengoptimalkan beberapa faktor yang memberikan dukungan bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang windu.

Konstruksi tambak udang windu diupayakan mampu menahan air, mampu membuang air limbah, mampu memelihara kualitas air, dan tambak dapat dikeringkan dengan mudah dan sempurna.Tanah dasar tambak harus dalam kondisi yang sesuai untuk kehidupan dan pertumbuhan udang.Hal ini karena sebagian besar waktu hidup dan mencari makan udang berada di tanah dasar tambak.Karena itu lahan tambak harus diolah dengan cara mengangkat lumpur agar sisa-sisa kotoran udang dan pakan dapat keluar dengan sempurna. Pengeluaran lumpur dapat dilakukan dengan disedot atau dicangkul.

Kemudian pembalikan tanah dengan cara dibajak atau dicangkul untuk membebaskan gas-gas beracun (H2S dan Amoniak) yang terikat pada partikel tanah. Kemudian lakukan pengapuran yang bertujkuan untuk menetralkan keasaman tanah dan membunuh bibit-bibit penyakit.Pengapuran dilakukan dengan kapur zeolite dan dolomit dengan dosis 1 ton/ha.

Lakukan pengeringan setelah tanah dikapur biarkan tanah menjadi kering dan pecah-pecah, untuk membunuh bibit penyakit. Berikan pupuk organik untuk mengembalilkan kesuburan lahan serta mempercepat pertumbuhan pakan alami/plankton dan menetralkan senyawa beracun.

Setelah dibiarkan selama 3 hari baru air dimasukan ke dalam tambak.Pemasukan air yang pertama setinggi 10-25 cm dan biarkan beberapa hari untuk memberi kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh setelah dipupuk dengan pupuk organic.Setelah itu air dimasukan hingga minimal 80 cm. Perlakuan saponen bisa dilakukan untuk membunuh ikan yang masuk ke dalam tambak. Untuk menyuburkan plankton sebelum benur ditebar air bisa dikapur dengan Dolomit dan Zeolit dengan dosis 600 kg/hektar.

Penebaran Benur
Setelah tambak terisi air dan plankton mulai tumbuh, barulah benur bisa ditebar. La kukan dengan hati-hati karena benur masih lemah dan mudah stress di lingkungan yang baru. Sebelum ditebar, benur terlebih dulu melakukan beberapa adaptasi. Pertama adaptasi terhadap suhu dengan cara merendam plastic berisi benur selama 15-30 menit agar terjadi penyesuaian suhu. Kedua adaptasi terhadap udara dengan cara membuka plasstik dan biarkan terapung selama 15-30 menit agar terjadi pertukaran udara bebas.

Ketiga adalah dengan melakukan adaptasi kadar garam. Caranya adalah dengan memercikan air tambak ke dalam plastik selama 10 menit.Setelah tahapan itu dilakukan barulah benur bisa ditebar caranya dengan memasukan ujung plastic ke air tambak.Biarkan benur keluar sendiri sisa benur yang tidak bisa keluar sendiri dapat dimasukan ke tambak dengan hati-hati.

Pemberian Pakan
Pakan udang ada dua macam, yaitu pakan alami yang terdiri dari plankton, siput-siput kecil, cacing kecil, anak serangga dan detritus (sisa hewan dan tumbuhan yang membusuk). Pakan yang lain adalah pakan buatan berupa pelet.

Pada budidaya yang semi intensif apalagi intensif, pakan buatan sangat diperlukan. Karena dengan padat penebaran yang tinggi, pakan alami yang ada tidak akan cukup yang mengakibatkan pertumbuhan udang terhambat dan akan timbul sifat kanibalisme udang.

Pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.
a. Umur 1-10 hari pakan 01
b. Umur 11-15 hari campuran 01 dengan 02
c. Umur 16-30 hari pakan 02
d. Umur 30-35 campuran 02 dengan 03
e. Umur 36-50 hari pakan 03
f. Umur 51-55 campuran 03 dengan 04 atau 04S
(jika memakai 04S, diberikan hingga umur 70 hari).
g. Umur 55 hingga panen pakan 04, jika pada umur 85 hari size rata-rata mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen.

Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor adalah 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Mulai umur tersebut dilakukan cek ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang diberikan. Waktu angkat ancho untuk size 1000-166 adalah 3 jam, size 166-66 adalah 2,5 jam, size 66-40 adalah 2,5 jam dan kurang dari 40 adalah 1,5 jam dari pemberian.

Panen Udang Windu
 
Udang panen disebabkan karena tercapainya bobot panen normal yang biasa dilakukan kurang lebih dari 120 hari dengan ukuran normal 40-50 dan panen emergency yang dilakukan jika udang terserang penyakit ganas seperti SEMB atau bintik putih, dan jika tidak segera dipanen maka udang akan habis dan mati.Udang windu dapat dipanen pada usia sekitar 4 bulan.

Panen udang sebaiknya dilakukan pada malam hari agar udang yang dipanen tidak cepat rusak karena suhu tinggi.Udang yang mempunyai mutu yang baik adalah udang yang berukuran besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh yang lengkap, dan masih hidup serta segar. Dan untuk penangkapan udang pada saat akan panen dapat dilakukan dengan menggunakkan jala tebar atau jala tarik lalu diambil menggunakan tangga. (berbagai sumber)

 

Jajaki Bisnis Peternakan, Mayjen (Purn) Suharno Belajar Hingga ke Negeri Orang

Halaman: 
Penulis :