logo


Inilah Tanaman Hias Amerika Tropis yang Menjadi Hama di Indonesia

Genjer sendiri bukan tumbuhan asli Indonesia, melainkan berasal dari Amerika Tropis.

28 Maret 2016 17:19 WIB

Tanaman genjer. (Ist)
Tanaman genjer. (Ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Genjer (limnocharis flava) dikenal sebagai salah satu hama bagi petani karena biasa tumbuh di areal persawahan yang dapat menggangu pertumbuhan padi. Pasalnya, tumbuhan ini memiliki siklus pertumbuhan dengan cepat dan massif dan kerap dianggap mengganggu. 

Genjer sendiri bukan tumbuhan asli Indonesia, melainkan berasal dari Amerika Tropis (Amerika Tengah dan Selatan). Tanaman ini masuk ke Indonesia, dibawa oleh bangsa Portugis, dan Belanda, sebagai tanaman hias. 

Daun genjer yang berwarna hijau kekuningan, memang tampak seperti berlapis beludru halus. Tanaman ini lantas biasa disebut Yellow velvetleaf.


Danrem 074/Warastratama Ajak MAsyarakat Tanam 5.000 Bibit Jambu Kristal

Selain daunnya yang menawan, bunga genjer yang berwarna kuning, juga dianggap eksotis bagi masyarakat Eropa abad XVI, dan XVII. Maka mereka pun membawanya dari Amerika Tropis ke Asia, dan juga Afrika. Sama dengan eceng gondok (Eichhornia crassipes), yang mereka datangkan dari Afrika sebagai tanaman hias, dan kemudian menyebar sebagai gulma air.

Tumbuhan genjer pernah menjadi persoalan serius di Indonesia. Persoalan tersebut tak berkaitan sama sekali dengan kandungan nutrisi maupun cara hidup genjer.

Tumbuhan gulma tersebut identik sebagai soundtrack Partai Komunis Indonesia (PKI). Genjer kerap terlantun dalam lagu "Genjer-genjer".

Menurut beberapa literatur, seperti Wikipedia, lagu ini tercipta sekitar tahun 1942 dari tangan Muhammad Arif, seorang seniman angklung. Lagu "Genjer-Genjer" diangkat dari lagu dolanan rakyat Banyuwangi yang berjudul “Tong Alak Gentak” yang diberi syair baru.

Syair lagu Genjer-Genjer dimaksudkan sebagai sindiran atas pendudukan jepang di indonesia. Setelah kemerdekaan, lagu “Genjer-genjer” menjadi sangat populer setelah banyak dibawakan penyanyi-penyanyi dan disiarkan di radio Indonesia.

Kemiskinan dan kekurangan pangan membuat rakyat akhirnya mengkonsumsi genjer yang banyak tumbuh di sawah-sawah di kawasan Banyuwangi, Jawa Timur.

Genjer juga biasa dikenal dengan nama lain. Pada beberapa daerah di Indonesia, orang mengenal tumbuhan genjer dengan sebutan paku riskan. Penamaan tersebut sesungguhnya tidak tepat mengingat genjer bukanlah anggota tumbuhan paku.

Penamaan lainnya, tanaman genjer dikenal juga sebutan haleyo (Batak), eceng (melayu), saber (sunda), atau centongan (jawa). Bahkan di luar negeri, genjer sering disebut dengan nama limnocharis, flower rush, lettuce, velvetleaf, yellow bur-head, atau cebolla de chucho.

Genjer memang dikenal sebagai ”sayur orang miskin”. Meski begitu, genjer ternyata memiliki kandungan cukup banyak usur gizi yang berguna untuk kesehatan, seperti kalori, vitamin B1, lemak, protein, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, kardenolin, flavonoida, dan polifenol.

Genjer juga adalah salah satu jenis tanaman yang kaya akan serat. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila genjer bermanfaat untuk tubuh manusia selain dapat di proses sebagai bahan sayuran untuk membuahkan masakan yang lezat.

(Berbagai Sumber)

Danrem 074 Warastratama Tanam 5.000 Bibit Sirsak Madu Bersama Masyarakat

Halaman: 
Penulis : Aditya Wardhana, Syukron Fadillah