logo


Rocket Atlas 5 Antarkan Eksperimen Ragi dan Padi Anak SMA RI ke Luar Angkasa

Eksperimen itu berupa perangkat micro-lab

28 Maret 2016 06:00 WIB

Rocket pembawa eksperimen anak SMA Republik Indonesia (Ist)
Rocket pembawa eksperimen anak SMA Republik Indonesia (Ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Salut dan bangga! Karya anak bangsa kini mampir ke luar angkasa. Adalah eksperimen berupa perangkat micro-lab ragi dan padi karya anak-anak SMA Republik Indonesia yang dibawa ke luar angkasa oleh rocket Atlas 5. Eksperimen itu dihasilkan oleh tim gabungan SMA dari Jakarta, Bandung, Jayapura, dan Sumatera.

J.W Saputro, salah satu pembina, mengatakan, pada Sabtu sekitar pukul 17.51 waktu setempat, Cygnus (kapal kargo) yang mengangkut 2,5 ton beban termasuk perangkat eksperimen micro-lab anak didiknya berhasil ditangkap lengan robot yang berasal dari International Space Station (ISS). 

Cygnus itu, terang Saputro, diterbangkan oleh rocket Atlas 5, tiga hari lalu dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat. “Penelitian ilmiah ini yang pertama dilakukan oleh Indonesia di luar angkasa. Dan hebatnya, justru penelitian ini dilakukan oleh para peneliti bertaraf SMA,” jelas Saputro, dikutip CNN, Senin (28/3). 


Istimewanya Crowde, Platform Penghubung Petani dan Investor

Setidaknya ada dua jenis eksperimen yang diangkasakan oleh rocket Atlas 5. Yang pertama adalah eksperimen yang mempelajari tentang pertumbuhan ragi di luar angkasa (dalam keadaan nol gravitasi). Eksperimen yang pertama ini adalah karya dari siswa SMA Unggul Del di Laguboti, Sumatera Utara.

"Sedangkan yang eksperimen yang kedua mempelajari pertumbuhan padi di luar angkasa. Yang mempersiapkan adalah tim gabungan SMA dari Jakarta, Bandung, Jayapura. Kedua kelompok siswa ini menyiapkan lab mikro eksperimen dalam waktu 6 bulan," ungkap Saputro. 

Perangkat micro-lab yang dirancang murid-murid SMA itu dilengkapi kamera digital, sensor, dan micro-controller, sehingga pertumbuhan ragi dan padi selama eksperimen berlangsung dapat diamati dari bumi atau di mana pun asalkan terhubung dengan Internet. Hal itu bisa dilakukan dengan mengunduh foto-foto dari micro-lab yang dipancarkan dari ISS ke bumi.

Soal biaya, kata Saputro, upaya tersebut memakan biaya miliaran rupiah. "Biasanya kirim barang ke luar angkasa normal itu Rp 4 miliar per kilogram. Tapi kita ini dapat diskon. Untuk dana kami dapat dari para donatur. Dan ini juga karena kolega saya yang merupakan pensiunan NASA," paparnya menambahkan.

Bagi Saputro keberhasilan ini merupakan langkah awal pihaknya dalam berinvestasi buat masa depan. Ia melihat mayoritas penemuan ilmiah ditemukan para peneliti luar negeri. Ia ingin melihat suatu hari nanti anak negeri bisa membuat Indonesia bangga dengan menemukan penelitian yang berguna bagi manusia. "Kita perlu banyak peneliti lagi, khususnya untuk sektor pangan di dalam negeri. Ini penting untuk masa depan," tutup Saputro.

Beli Beras Sachet Rp 2.500, Bisa Kenyang Satu Hari!

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro