logo


Perputaran Uang di Kampung Bebek Mencapai Ratusan Juta Per Hari

Sutrisno: Bisnis bebek sungguh memutar roda perekonomian desa, dampaknya saya rasakan sendiri

18 Maret 2016 14:41 WIB

Peternakan bebek di Kampung Bebek. (dok. beritadaerah.co.id)
Peternakan bebek di Kampung Bebek. (dok. beritadaerah.co.id)

SIDOARJO, JITUNEWS.COM – Budidaya bebek yang berlangsung sejak lama di Desa Kebonsari, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, secara perlahan namun pasti telah memberikan dampak postitif terhadap kehidupan warga Desa. Karena telah menjadi penopang roda ekonomi masyarakat. Jangan salah, perputaran uang dari bisnis bebek tidak bisa dipandang remeh.

Bayangkan saja, dengan asumsi harga telur mentah Rp 2.600 s/d Rp 2.800 per butir, dan produksi telur sebanyak 40.000 butir, maka jumlah uang yang beredar di Kampung Bebek itu bisa mencapai Rp 104 juta per hari.

“Sehari saya bisa dapat Rp 25.000 hingga Rp 30.000 dari upah kerja membantu pelihara bebek. Istri saya juga kerja jualan telur di warung-warung buat menambah penghasilan,” kata Suttrisno, buruh angon bebek di Kampung Bebek.


Pemkab Sidoarjo Canangkan Kampung Bebek Jadi Desa Wisata

Kendati bekerja sebagai buruh angon bebek, dalam kesehariannya Sutrisno tidak pernah benar-benar angon atau menggiring bebek dari sawah ke sawah. Ini karena semua peternak memelihara bebeknya di dalam kandang sebagai salah satu syarat model peternakan binaan Pemkab Sidoarjo, yang bertujuan agar bebek bisa menghasilkan telur berkualitas.

Sutrisno menjelaskan, pada musim kemarau, yakni pada periode April – September, perputaran uang dari penjualan telur bebek saja mencapai Rp 280 juta per hari. Uang beredar di Kampung Bebek semakin tinggi apabila ditambah hasil penjualan bebek potong yang harganya Rp 25 ribu per ekor.

Selain membuka peluang usaha bagi peternak dan produsen telur asin, Kampung Bebek Desa Kebonsari juga membuka lapangan kerja bagi tenaga tak berpendidikan. Dari jumlah peternak yang mencapai 100 orang, masing-masing mempekerjakan 2 – 5 orang pemelihara bebek.

“Bisnis bebek sungguh memutar roda perekonomian desa, dampaknya saya rasakan sendiri. Keluarga jadi bisa makan, bisa belanja kebutuhan pokok dan kehidupan saya semakin membaik,” pungkas Sutrisno.

Soal Penyebab Kematian Sapi di NTT, Ini Klarifikasi Dirjen PKH Kementan

Halaman: 
Penulis : Aditya Kurniawan, Riana