logo


Menyerok Rupiah di Kampung Lele

Kampung Lele digawangi 3 Kelompok Tani, yakni Kelompok Tani Karya Mina Utama, Mina Usaha Tani dan Karmina, yang kesemuanya fokus membudidayakan lele

15 Maret 2016 14:26 WIB

Kolam pembudidayaan ikan lele. (Jitunews/Aditya Kurniawan)
Kolam pembudidayaan ikan lele. (Jitunews/Aditya Kurniawan)

BOYOLALI, JITUNEWS.COM – Suasana Kampung Lele yang terletak di selatan Kabupaten Boyolali tak ubahnya seperti suasana perkampungan nelayan tambak. Sejauh mata memandang, terlihat kolam-kolam lele bertebaran hampir disetiap sudut jalan. 

Menurut Naryanto, Kepala Bidang Perikanan Kabupaten Boyolali, Kampung Lele mulai berdiri sejak tahun 2003 di atas lahan seluas 45 hektar yang meliputi 2 kecamatan di Kabupaten Boyolali, yakni Kecamatan Teras dan Sawit.

 “Dari total wilayah seluas 45 hektar, luasan kolam yang ada hanya 20 hektar saja,” ucap Naryanto ketika ditemui JITUNEWS.COM digelaran acara Presstour yang diadakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan beberapa waktu lalu.

Lanjut Naryanto, Kampung Lele sendiri digawangi oleh 3 Kelompok Tani, yakni Kelompok Tani Karya Mina Utama, Mina Usaha Tani dan Karmina, yang kesemuanya fokus membudidayakan lele. 


Usung Teknologi Bioflok dan Akuaponik, KKP Ajak Santri Beternak Lele

Adapun lele yang dibudidayakan ialah jenis lele sangkuriang, dumbo dan yang terbaru ialah jenis lele mutiara, singkatan dari Mutu Tinggi Tiada Tara hasil pengembangan Balitbang KKP.

Naryanto mengatakan, rata-rata kolam lele yang ada dimiliki perorangan yang sudah tergabung dengan Kampung Lele sehingga keuntungan dari hasil panen langsung masuk rekening pribadi si pembudidaya. 

Per harinya, Kampung Lele dapat memanen hingga 35 ton dengan harga jual terendah Rp 15 ribu per kilogram.

“Bayangkan saja, dari luasan lahan 5 kali 10 meter dimana padat tebar 15 ribu benih, dalam tiga bulan petani dapat memanen sebanyak 1,5 ton dengan mengantongi omzet bersih Rp 7 juta jika harga jual normal Rp 17 ribu per kilogram. Ini bukan hanya memanen lele, tapi memanen rupiah,” ujar Naryanto bangga.

Naryanto menambahkan, lancarnya pemasaran ke sejumlah daerah di Yogjakarta membuat suasana Kampung Lele semakin bergairah dan tak pernah sepi kehadiran tengkulak yang setiap pagi hilir mudik memboyong lele di dalam kemasan plastik oksigen.

 “Lele di sini sebagain besar dikirim ke Yogyakarta, berapapun jumlahnya selalu diterima. Kata orang Yogyakarta, lele Boyolali itu enak, kalau digoreng bentuknya tidak melengkung, selalu lurus. Makanya restoran dan rumah makan di Yogjakarta senang lele Boyolali,” pungkas Naryanto seraya promosi.

 

 

KKP Realisasikan Lele Bioflok Masuk Pesantren

Halaman: 
Penulis : Aditya Kurniawan, Riana