logo


Ariantono Kantongi Untung Berlipat dari Minapadi

Dengan minapadi, pemakaian pupuk dan pestisida jadi berkurang

14 Maret 2016 16:26 WIB

Saat ini Ariantono tergabung dalam Kelompok Mina Makmur yang beranggotakan 30 orang. Ia pun mengelola sistem budidaya minapadi di lahan seluas 6 hektar. (Foto: Jitunews/Aditya Kurniawan)
Saat ini Ariantono tergabung dalam Kelompok Mina Makmur yang beranggotakan 30 orang. Ia pun mengelola sistem budidaya minapadi di lahan seluas 6 hektar. (Foto: Jitunews/Aditya Kurniawan)

SLEMAN, JITUNEWS.COM – Berkat diperkenalkan dengan sistem budidaya ikan minapadi oleh Dinas Perikanan Kabupaten Sleman DIY dan mendapat dukungan dari FAO (Food Agriculture Organization) sejak 2015 lalu, Ariantono, warga Dusun Kandangan, Kelurahan Margodadi, Kecamatan Seyegan, Sleman, Yogjakarta kini mengaku mendapat untung berlipat setiap kali panen.

Sebelumnya Ariantono merupakan seorang pembudidaya ikan air tawar, namun sejak kenal minapadi ia pun tertarik bergelut dengan dunia pertanian. Menurut Ariantono, berkat minapadi, setiap kali panen dirinya tidak hanya mendapatkan ikan melainkan juga dapat memanen padi.

“Pertama saya dibantu oleh KKP Sleman dan mendapat suport diawal oleh FAO sebesar 60%. Semua itu tak lain untuk infrastuktur menunjang mina padi,” ujar Ariantono ketika ditemui JITUNEWS.COM pada kegiatan presstour yang diadakan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) KKP, beberapa waktu lalu.


Isi Masa Transisi Peralihan Cantrang, KKP Lakukan Hal Ini

Saat ini Ariantono tergabung dalam Kelompok Mina Makmur yang beranggotakan 30 orang. Ia pun mengelola sistem budidaya minapadi di lahan seluas 6 hektar. Sebagai informasi, minapadi merupakan sistem tanam dengan cara tumpang sari, dimana ikan, dalam hal ini ikan nila merah hidup di dalam wadah atau area yang sama dengan tanaman padi. Sistem minapadi ini dalam perjalanannya tidak saling mengganggu, justru saling menguntungkan.

“Dengan minapadi, pemakaian pupuk berkurang, pestisida juga sama. Pemupukan hanya dilakukan di awal tanam saja sebagai pupuk dasar, pakai urea dan ponska. Biaya penyiangan juga berkurang 50% karena lahan terendam air terus jadi pertumbuhan rumput lambat. Pokonya semua biaya perawatan berkurang 50%,” ungkap Ariantono.

Sampai dengan saat ini, diakui Ariantono, keuntungan hasil minapadi ini dibagi rata sesuai kepemilikan lahan per orang dalam 1 kelompok. Dengan minapadi panen dapat dilakukan 5 kali dalam 2 tahun, dari 1 hektar sawah mampu menghasilkan 6 -7 ton padi dan 1,3 ton ikan nila. 

“Kalau dulu tiap kali panen saya cuma dapat ikan, sekarang juga dapat padi. Sistem minapadi tentu mendongkrak keuntungan kami,” pungkas Ariantono.

KKP Klaim Realisasi Kinerja Pembangunan Perikanan Budidaya Triwulan I Tahun 2017 Berjalan Positif

Halaman: 
Penulis : Aditya Kurniawan, Riana