logo


FLNG Petronas di Malaysia Berbeda Dengan FLNG Blok Masela

Pasalnya, lapangan migas milik Petronas jauh lebih dan cadangannya migasnya pun jauh lebih sedikit.

11 Maret 2016 15:24 WIB

FLNG Petronas. (net)
FLNG Petronas. (net)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Fasilitas kilang terapung (Floating Liquefied Natural Gas/FLNG) yang telah dibangun lebih dulu oleh Petronas, Malaysia, tidak bisa disamakan dengan FLNG atau skema offshore yang sedang dipertimbangkan untuk mengembangkan Blok Masela di Maluku.

Tenaga Ahli Bidang Energiā€Ž Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya (Kemenko Maritim dan SD), Haposan Napitupulu mengatakan, meski Petronas telah lebih dulu membangun kilang terapung di Malaysia, namun skala kilang yang dimiliki Petronas jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang akan dibangun di Blok Masela.

Selain itu, menurutnya, Petronas tidak memiliki pilihan lain seperti skema darat berupa pipanisasi, mengingat kecilnya lapangan untuk membangun fasilitas tersebut. Sehingga dirasa tidak terlalu ekonomis.


Akhirnya! Pertamina-Petronas Sepakat Sinergi Bisnis

"Petronas katanya membangun FLNG. Ya betul Petronas membangun FLNG dengan justifikasi bahwa lapangan yang dibangun Petronas itu adalah kecil dan tidak termanfaatkan selama ini," ungkap Haposan saat ditemui di Kantor Kemenko Maritim dan SD, Jakarta, Jum'at (11/3).

Haposan menilai, tidak ekonomisnya pilihan skema onshore tersebut dikarenakan aliran gas hanya dapat terpakai 3-5 tahun. Dengan demikian Petronas memilih skema FLNG yang menurut mereka lebih ekonomis.

Pasalnya, saat cadangan gas di satu lapangan telah habis maka FLNG bisa berpindah dengan mudah ke lapangan lainnya. Ini yang kemudian dianggap Haposan sebagai kondisi yang tidak sama dengan Blok Masela.

"Karena kalau dialirkan ke darat, lapangannya itu kecil dan diproyeksikan cuma 3-5 tahun. Dan kalau bangun pipa ke darat yang jauh, cuma 3-5 tahun terlalu mubazir. Jadi dibangun pakai kapal, sehinga jika migasnya sudah habis pindah lagi ke lapangan yang kecil-kecil," tutupnya.

Mantap! Per Februari 2018, 40 KKKS Gunakan Skema Gross Split

Halaman: 
Penulis : Citra Fitri Mardiana, Deni Muhtarudin