logo


Harga BBM Jangan Diturunkan Terlalu Besar, Ini Alasannya

Pasalnya, penurunan harga yang terlalu banyak dikhawatirkan akan berdampak buruk untuk jangka panjang.

10 Maret 2016 10:41 WIB

Ilustrasi bbm. (dok. Jitunews)
Ilustrasi bbm. (dok. Jitunews)

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Anggota Komisi VII DPR, Kurtubi mengungkapkan, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jangan diturunkan terlalu besar. Pasalnya, jika harga minyak mentah dunia menguat kembali, maka potensi kenaikan harga BBM juga akan tinggi.

Menurutnya, rendahnya harga minyak dunia, tetap menjadi momen yang tepat untuk menurunkan BBM melalui instrumen kebijakan harga. "Meski demikian, penurunan itu tidak sebanyak yang disuarakan berbagai kalangan seperti di bawah Rp5.000 per liter," ungkap Kurtubi kepada media melalui keterangan tertulisnya, Jakarta, Rabu (9/3) kemarin.

Ia menilai, tidak pas jika ada yang membandingkan harga BBM di Indonesia dengan Singapura atau Malaysia. Menurutnya, jika dilihat dari kondisi geografis dan luas wilayahnya saja, Indonesia jauh lebih besar dan luas dibandingkan kedua negara tersebut.


Meski Tangki Balongan Terbakar, Pertamina Pastikan Pasokan BBM dan LPG Di Jabar, DKI, Banten Aman

Dengan demikian, Kurtubi melanjutkan, tentu saja biaya angkut di Indonesia jauh lebih mahal dibandingkan Singapura dan Malaysia. "Tidak aple to aple membandingkan Indonesia dengan negara tetangga. Indonesia sangat luas dan terdiri atas ribuan pulau. Tentu ongkos untuk membawa BBM ke berbagai wilayah tersebut sangat mahal. Di Indonesia perlu pesawat untuk mengangkut BBM, sedangkan Singapura, misalnya, sangat murah karena cukup mempergunakan truk," lanjut Kurtubi.

Sementara itu sepakat dengan Kurtubi, Dewan Pakar Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Benny Lubiantara juga menyampaikan, penurunan harga BBM yang diterapkan hendaknya jangan terlalu besar.

Benny menyebutkan, penurunan harga yang terlalu banyak dikhawatirkan akan berdampak buruk untuk jangka panjang. Menurutnya, jika tingkat harga domestik BBM terlalu rendah maka tingkat konsumsi BBM menjadi sangat boros.

Jika kondisinya demikian, Benny melanjutkan, tentu sangat berbahaya bagi ketahanan energi nasional. Pasalnya, Benny menambahkan, saat ini sisi suplai justru mengalami penurunan.

"Konsumsi akan jorjoran karena harga yang terlalu murah. Ini sangat berbahaya karena berimplikasi pada kesenjangan hilir dan hulu yang cukup signifikan," tutupnya.

Heran Ahok Tak Persoalkan BBM Premium, Banggar: Kalah Sama Importir?

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin