logo


Marcell Siahaan: Kalau Ditanya Peran Kru dan Manajemen, Suka Membuat Mata Saya Berair

Cita-cita saya adalah ikut merancang ekosistem hiburan yang sehat, termasuk regulasi upah minimum dan jam kerja kru

8 Maret 2016 19:41 WIB

Marcell Siahaan. (dok. Millionaires Club Artist Management)
Marcell Siahaan. (dok. Millionaires Club Artist Management)

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Tiga tahun silam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengesahkan Hari Musik Nasional (HMN) jatuh pada tanggal 9 Maret (berdasarkan pada tanggal kelahiran W.R Supratman) melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013.

Dengan adanya HMN diharapkan dapat meningkatkan apresiasi lebih terhadap musik nasional. Pertanyaan selanjutnya, sudahkan harapan itu terwujud?

Pada awal Maret lalu, Jitunews berkesempatan berbincang dengan salah satu musisi tanah air yang namanya semakin melambung lewat lagu yang berjudul "Semusim". Namun sepertinya tak banyak orang yang tahu, bahwa pria yang akrab disapa Marcell Siahaan ini mengawal karirnya di ranah musik rock sebagai drummer dari salah satu band legendaris, Puppen. 

Marcell yang ditemui usai latihan untuk sebuah hajatan jazz internasional, menuangkan banyak hal perkara musik sidestream dan mainstream. Tak hanya itu saja, ia pun memiliki harapan dan mimpi yang tersemat namun cukup membara di relung hatinya. Ia bercerita kepada Jitunews dengan gayanya yang lugas, bahkan menjerumus blak-blakan. 


Sambil Bergoyang Zumba, Taiwan Pamerkan Produk Unggulan Nan Inovatif

Ingin tahu apa saja uneg-uneg musisi yang saat ini juga menuangkan nafsu menggebuk perangkat drumnya lewat band rock bernama Konspirasi? Berikut petikan wawancaranya.

Jitunews.com: Kenapa terkesan gusar dengan istilah mainstream dan sidestream. Ada alasan?

Marcell Siahaan: Begini, beberapa pihak sebenarnya sudah muak sekali membicarakan pertentangan antar mainstream dan sidestream. Mereka pikir itu sudah usang, tapi kenyataannya tidak seusang seperti yang dipikirkan oleh mereka, karena kadang masih ada orang yang enggak ngerti kok. Contoh kecil: masih ada orang yang memanggil saya mantan pemain drum underground. Underground itu apa? Saya akuin saya main musik rock, musik hardcore tapi kalau musik underground itu apa enggak jelas. Ternyata kan masih ada yang enggak tahu. Trus ada yang masih mempertentangkan musik mainstream dan sidestream.

Saya merasa sepertinya musisi mainstream udah cukup 'sibuk' dengan bagaimana caranya  jualan , di satu sisi musisi sidestream garis keras berpikir gimana caranya supaya tidak 'komersil' (baca: tidak jualan). Ketika sebagian orang sidestream garis keras berfikir bahwa musisi mainstream terlalu ramah terhadap kapitalisme, selling out, terlalu cinta dengan yang namanya jualan, tapi nyatanya musisi sidestream ini harus jualan juga kan? Kadang aneh, enggak masuk akal pertentangan ini.

Hemat saya, sidestream pasarnya lebih kecil dari mainstream. Tapi kan suatu saat jika pasar mereka menggelembung dan membesar lambat laun mereka akan jadi mainstream baru lagi juga, logikanya kan begitu. Jadi menurut saya enggak usah sok-sok ekslusiflah. Intinya bikin lagu enak, aransemen musik yang bagus, manggung yang keren. Dan kenapa Indie tuh enggak boleh kedengeran enak dan nggak boleh terkesan jualan dan harus 'aneh'? Menurut saya ini adalah pola pikir aneh. Jika musisi sidestream garis keras ini bilang bahwa musisi mainstream tidak tulus karena selling out, mereka juga membuat musik hanya demi terdengar beda dan aneh itu juga sama tidak tulusnya.

Jitunews.com: Pandangan tentang musik Indie itu apa?

Marcell Siahaan: Menurut pengalaman saya pribadi, musisi independen itu adalah musisi DIY (do it yourself). Semua sendiri, modal sendiri, ngeband sendiri tanpa dukungan siapa-siapa. Pokoknya bener-bener berangkat dari bawah. Kalau saya bilang ini lebih kepergerakannya, movement-nya, bukan genre musik. Sekarang kan ada  festival musik indie, indie-nya belah mana, DIY-nya sebelah mana? Mereka ada sponsor rokok, kita dulu bikin festival enggak ada sponsor sama sekali, door to door nyarinya. Maka akhirnya banyak orang berpikir festival musik indie ini untuk membedakannya dengan festival musik mainstream. Jadinya ujungnya genre juga kan? Padahal bukan.

Terus ada sebagian yang berfikir, oh kita indie, beda sama mainstream. Padahal bukan lain, tapi emang musiknya aja yang enggak enak jadi enggak diterima sama label, atau positifnya belum ketemu label yang sevisi dengan mereka. Akhirnya mereka lari bersembunyi dibalik imej eksklusif indie sidestream buatan mereka sendiri seolah-olah berfikir oh lagu gua eksklusif sih, lagu gua lain. Padahal mungkin emang lagunya enggak enak atau mungkin manggungnya jelek juga.

Yuk, Nikmati Kemewahan Nonton di Flix Cinema dengan Lebih Mudah

Halaman: 
Penulis : Hartati, Agung Rahmadsyah