logo


Kemenko Maritim Bantah Tuduhan Faisal Basri Soal Blok Masela

Kemenko Maritim berikan bantahan terkait bagi hasil dan pembangunan pipa gas jika memakai skema onshore

3 Maret 2016 11:29 WIB

Mantan Ketua Tim Reformasi dan Tata Kelola Migas, Faisal Basri. (Istimewa)
Mantan Ketua Tim Reformasi dan Tata Kelola Migas, Faisal Basri. (Istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Tenaga Ahli Bidang Energi Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya (Kemenko Maritim dan SD), Haposan Napitupulu, menampik semua tuduhan yang dilayangkan oleh Mantan Ketua Tim Reformasi dan Tata Kelola Migas, Faisal Basri, terkait pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela, Maluku.

Seperti diketahui sebelumnya, Faisal Basri menyebut, bagi hasil (split) antara Pemerintah dan investor adalah 70 persen dan 30 persen. Namun selaku Tenaga Ahli Bidang Energi Kemenko Maritim, Haposan menampiknya secara tegas.

"Perihal Blok Masela, bersama ini perlu kami luruskan bahwa bagi hasil atau split Blok Masela adalah 60/40 atau 60% untuk Pemerintah dan 40% untuk Kontraktor setelah dikurangi cost recovery," ungkap Haposan kepada media melalui keterangan resminya, Jakarta, Kamis (3/3).


Ini Alasan Shell Ngotot Bangun Kilang Laut di Blok Masela

Faisal Basri juga sempat menyinggung pembangunan pipa gas yang akan dilakukan jika pengembangan Blok Masela menggunakan skema darat (onshore). Selain akan ada proyek pengadaan pipa yang akan memberikan untung besar kepada pihak tertentu, menurut Faisal, pembangunan pipa gas tersebut akan menjadi proyek pembangunan pipa terbesar sepanjang sejarah Indonesia, yakni sepanjang 800 kilometer (km).

Akan tetapi, Haposan pun membantahnya. Haposan menegaskan, sebelumnya sudah ada proyek pembangunan pipa yang lebih besar dari yang disebutkan Faisal Basri tersebut.

"Jalur pipa yang akan dibangun di skenario Kilang LNG Darat adalah dari Lapangan Abadi ke Pulau Selaru sepanjang 90 kilometer. Proyek ini bukan merupakan proyek pipa terbesar di Indonesia, karena sebelumnya juga pernah dibangun jalur pipa gas laut. Jenis pipa yang akan dipergunakan untuk transportasi gas di laut merupakan jenis pipa khusus yang dapat menahan tekanan kedalaman air sekian ribu meter. Sampai saat ini, jenis pipa dengan spek tersebut belum diproduksikan di Indonesia, artinya masih diimpor," tegasnya.

Haposan pun merincikan pembangunan pipa-pipa tersebut, yakni North Bali ke Gresik/Jawa Timur sepanjang 370 km, Lapangan Kakap/Natuna ke Singapura sepanjang 500 km, Lapangan Koridor Jambi ke Singapura sepanjang 248 km, dan Lapangan Kepodang ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tambaklorok di Semarang sepanjang 100 km.

Blok Masela Terlalu Menjanjikan, Inpex Tak Akan Berani Hengkang

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin