logo


Prospek Komoditas Rumput Laut Masih Cerah di 2015

Untuk menggenjot produktivitas diperlukan road map yang jelas dan kemudahan perijinan

2 Oktober 2014 15:43 WIB

ISTIMEWA
ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM –  Komoditas rumput laut Indonesia masih tetap cerah di 2015. Produktivitas rumput laut yang tinggi membuat Indonesia berhasil menjadi produsen rumput laut terbesar di dunia terutama untuk rumput laut gelondongan.

Hal inilah yang membuat bisnis rumput laut masih menjanjikan. Dari ratusan jenis rumput laut yang tersebar di perairan Indonesia, terdapat 4 jenis rumput laut bernilai ekonomis tinggi yaitu dari marha  Gracilaria, Gelidium, dan Gelidiella yang digunakan untuk bahan baku agar-agar kemudian ada marga Hypnea serta Eucheuma sebagai penghasil carrageenan.

Gracilaria sp saat ini merupakan salah satu jenis rumput laut yang banyak diminati dunia.  Tercatat terdapat beberapa negara yang merupakan importir tetap produksi rumput laut Indonesia, diantaranya Jepang, Hongkong, Korea Selatan, USA, Inggris, Perancis, Denmark, Spanyol, Taiwan, China, Malaysia dan Chili.  


Melon Granat, Primadona Baru Buah Melon?

Bila mau disimak, kenaikan nilai ekspor, pada tahun 1985 adalah sebanyak 5.445,678 ton dan pada tahun 1986 meningkat menjadi 6.560,770 ton. Produksi  rumput laut meningkat lebih tinggi pada tahun  1990, yakni mencapai 119.276 ton dan pada  tahun 1994 produksi rumput laut mengalami penurunan menjadi 110.462 ton (BPS 1994).

Tahun 2013 total volume ekspor rumput laut mencapai 182 ribu ton. Nilai ekspor tersebut meningkat 17,8 % dibandingkan 2012. Tahun 2014 total volume ekspor diperkirakan meningkat 20 % bila dibandingkan tahun 2013. Tentunya tahun 2015 proyeksi pertumbuhannya juga tidak akan jauh berbeda.

Dari total produksi rumput laut di Indonesia sebagian besar dihasilkan di perairan Maluku dan Nusa Tenggara Timur.  Sisanya tersebar di Riau, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat,  dan Sulawesi. Sedangkan di Jawa produksi rumput laut dikembangkan salah satunya di Indramayu. Total ada 5 kabupaten di Indramayu yang sanggup memproduksi rumput laut sekira 1280 ton.

Tingginya  animo masyarakat pesisir dalam membudidayakan rumput laut menandakan bahwa budidaya ini sangat mudah dilakukan. Dan selain itu sangat menguntungkan penambak dan masyarakat Indramayu secara keseluruhan.  Penambak juga tidak terlalu kuatir bila terjadi penurunan produksi sebab biasanya penurunan itu terjadi karena dipengaruhi kondisi panen yang  tidak tepat waktu petik.

 

Ada beberapa keunggulan bisnis rumput laut diantaranya peluang pasar ekspor yang terbuka luas, harga relatif stabil, juga belum ada batasan atau kuota perdagangan bagi rumput laut; teknologi pembudidayaannya sederhana, sehingga mudah dikuasai; siklus pembudidayaannya relatif singkat, sehingga cepat memberikan keuntungan; kebutuhan modal relatif kecil; merupakan komoditas yang tidak tergantikan, karena tidak ada produk sintetisnya; usaha pembudidayaan rumput laut tergolong usaha yang padat karya, sehingga mampu menyerap tenaga kerja.

Selain itu permintaan rumput laut meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan pertumbuhan industri berbasis rumput laut, serta kecenderungan masyarakat dunia untuk kembali kepada produk-produk hasil alam. Diperkirakan, dalam kurun waktu lima tahun ke depan kebutuhan produk olahan rumput laut terus meningkat.

Berdasarkan kecenderungan ekspor dan impor produk olahan rumput laut selama periode 1999-2004. Diperkirakan pasar dunia produk olahan rumput laut meningkat sekitar 10 persen setiap tahun untuk karaginan semirefine (SRC), agar, dan alginat untuk industri (industrial grade). Adapun alginat untuk makanan (food grade) meningkat sebesar 7.5 persen dan karaginan refine sebesar 5 persen. Meski permintaan meningkat Indonesia baru sebatas menyuplai bahan mentah berbentuk gelondongan.

Dan biasanya Indonesia mengimpor kembali rumput laut tersebut dalam bentuk produk olahan, karena Indonesia merupakan salah satu pasar potensial yang kebutuhan konsumsi rumput laut olahannya cukup besar.  Oleh karena itu, pemerintah Indonesia sedang mengupayakan untuk mengembangkan pabrik-pabrik pengolah lokal yang diharapkan dapat mensuplai kebutuhan lokal rumput laut olahan.  

Walaupun perairan pantai Indonesia mempunyai potensi sebagai penghasil rumput laut, tetapi masih kalah jauh dengan produksi rumput laut dari Filipina. Hal ini disebabkan karena produksi rumput laut Indonesia selama ini masih tergantung dari hasil panen dari alam, sedangkan di Filipina sudah dibudayakan secara intensif. Usaha budidaya rumput laut di Indonesia baru dilakukan di beberapa daerah seperti Bali, Sulawesi Tenggara dan itupun masih terbatas pada jenis Eucheuma.

Meski produktivitas tinggi namun penyerapan rumput laut oleh industri nasional baru sekitar 30 % dari produktivitas. Rendahnya produktivitas yang dilakukan oleh industri lokal dikarenakan pihak investor masih memiliki banyak kendala dalam berbisnis rumput laut.

Bayangkan saja industri dalam negeri masih mengeluh dengan tingginya harga bahan baku sehingga sulit bersaing dengan pelaku ekspor. Selain itu sistem perijinan untuk mendirikan industri pengolahan juga cukup ribet. “Perlu 14 surat ijin yang dikeluarkan oleh kementerian dan lembaga. Panjangnya proses ini jelas memakan biaya besar dan tidak efisien,” katanya.

Persoalan masih belum selesai sampai disitu. Sebab dari sisi logistik hingga pemasaran rumput laut juga menemui banyak kendala. Ibaratnya sudah menjadi benang kusut yang perlu penanganan serius pemerintah.

Karena itu untuk menggenjot produksi rumput laut di tahun 2015 diperlukan roadmap atau perencanaan yang matang. Hal ini dilakukan agar lebih terstruktur dan optimal. Roadmap juga bisa menjadi acuan bagi pola pengembangan industri yang lebih bisa dipertanggungjawabkan.“Saat ini pengembangan bisnis rumput laut masih sporadic. Karena itu perlu dipikirkan cara agar lebih terarah,” tandadsnya.

Aziz juga menyayangkan kalau sampai saat ini belum ada platform kerjasama antara beberapa kementerian. Hal ini membuat bisnis ini sulit untuk dikembangkan. Padahal pengembangan industri rumput laut sudah diamanatkan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 27/ 2012 tentang Industrialisasi Kelautan dan Perikanan.

Yang jelas meski masih amburadul, setidaknya sampai kini sudah ada 22 pabrik pengolah rumput laut, yaitu terdiri dari 12 pabrik pengolah agar, 8 pabrik karagenan, 1 pabrik alginat dan 1 pabrik pengolah sun chlorella.  Diharapkan ke-22 pabrik pengolah ini dapat mensuplai kebutuhan rumput laut olahan dalam negeri.  Pabrik-pabrik pengolah tersebut diantaranya tersebar di Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara dan Sulawesi Selatan.  

Akan tetapi, sampai saat ini kendatipun potensi pasarnya besar, namun produksi dari pabrik pengolah tersebut masih relatif kecil yaitu sekitar 6.295 ton per tahun.  Khusus untuk pengolah agar-agar, produk yang dihasilkan baru mencapai 888 ton per tahun.  

 

Mie Ramen dan Gerobak Sushi Sesaki Kaki Lima di 2015

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin, Riana