logo


Wanita Ini Diagnosa Gangguan Reproduksi Ternak Lewat USG

Butuh lima elemen pendukung yakni ternak, pakan, peternak, kandang, dan petugas

25 Februari 2016 18:11 WIB

Dwi Sulistyorini, seorang dokter hewan kreatif. (dok kuntadi/Sindo)
Dwi Sulistyorini, seorang dokter hewan kreatif. (dok kuntadi/Sindo)

KULON PROGO, JITUNEWS.COM- Dwi Sulistyorini, dokter hewan yang bertugas di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Galur, Kulon Progo, Yogyakarta, menerapkan sebuah ide kreatif di sektor peternakan. Dwi begitu ia akrab disapa, memanfaatkan alat Ultrasonografi (USG) untuk mendiagnosa penyakit reproduksi pada ternak, khususnya sapi. 

Dikatakan Dwi, USG masih menjadi alat baru bagi perkembangan dunia ternak. Alat ini bahkan baru sekitar 1,5 tahun muncul dan jumlahnya masih terbatas. Di Kulon Progo saja, terangnya, baru ada satu unit dan di Sleman tiga unit. 

"Reproduksi kan berhubungan dengan perkembangbiakkan sebuah populasi, mengingat Indonesia memerlukan banyak kuota sapi sebagai pemenuh kebutuhan daging nasional," ungkapnya, dikutip sindonews, Kamis (25/2). 


Mahasiswa IPB Ciptakan Robot untuk Bantu Pekerjaan Petani

Dahulu, kata Dwi, untuk memeriksa masalah reproduksi sapi hanya bisa dilakukan dengan perectal (melihat dari anus). Namun, dengan adanya kemajuan teknologi, hadirlah USG yang akan semakin memudahkan.

Selama mengunakan alat tersebut, Dwi telah banyak melakukan pemeriksaan. Bahkan, dari diagnosa yang ada, permasalahan reproduksi sapi ini sudah bisa diatasi. Sapi-sapi itu bahkan bisa bunting dan melahirkan anak. "Harapan saya ketika sapi itu bisa bunting, akan berdampak pada populasi yang meningkat. Karena di Kulon Progo cenderung menurun," jelasnya.

Dia mengakui, untuk bisa menyelesaikan permasalahan kesehatan ternak, termasuk reproduksi, butuh lima elemen pendukung yakni ternak, pakan, peternak, kandang, dan petugas. "Kadang sapi yang tidak bunting dan sudah ditangani malah dijual. Padahal, menjual sapi betina itu harganya murah," tukas Dwi.

Terapkan Teknologi TE, Kementan Berhasil Kembangkan Sapi Belgia Blue

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro