logo


Terindikasi Cadangan Baru, PLTP Mataloko Akan Dikembangkan Lagi

Pasalnya, PLN menemukan cadangan terduga sebesar 60 MW di sekitar sumur PLTP Mataloko.

25 Februari 2016 12:04 WIB

Turbin di PLTP Mataloko. (Foto: dok. plnntt)
Turbin di PLTP Mataloko. (Foto: dok. plnntt)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Terindikasi memiliki potensi panas bumi yang cukup besar di wilayah Mataloko, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko akan terus dikembangkan.

Upaya tersebut dilakukan seiring dengan ditemukannya cadangan terduga sebesar 60 Mega Watt (MW) di sekitar sumur (existing) PLTP Mataloko. Sehingga, PT Perusahaan Listrik Negara/PLN (Persero) Tbk perlu segera melakukan kajian mengenai temuan tersebut.

"Menurut studi geosaint yang telah dilakukan kementerian ESDM, di sekitar sumur existing PLTP Mataloko terdapat 60 MW cadangan terduga, hal inilah yang nantinya akan direview oleh PLN terkait cadangan terduga tersebut," ungkap General Manager PLN Wilayah NTT, Richard Safkaur, melalui keterangan persnya di Ngada, NTT, Kamis (25/2).


Ini Daftar Korban Kecelakaan Kerja PLTA Wampu

Sementara itu, PLTP Mataloko saat ini telah berhasil masuk ke sistem Bajawa sejak 2010 lalu, dan telah memberikan pasokan listrik sebesar 1x2,5 MW dengan pemakaian sendiri untuk pengoperasian internal PLTP sebesar 300 Kilo Watt (KW).

Richard mengatakan, melalui program pembangunan pembangkit 35.000 MW, rencananya PLN akan mengembangkan PLTP Mataloko dengan penambahan kapasitas 2x10 MW yang dijadwalkan akan selesai pada 2019 mendatang.

"PLN akan bergerak cepat untuk proses pengembangan PLTP Mataloko, hal ini untuk meningkatkan rasio elektrifikasi Bajawa dan sekitarnya, dengan tetap memperhatikan setiap detail pengerjaannya," ujarnya.

Seperti yang diketahui, beban puncak di wilayah Ngada sebesar 5,5 MW pada malam hari, yang disuplai dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Faobata dan PLTP Mataloko.

Ini Kronologi Kecelakan Kerja PLTA Wampu Versi Civil Engineering

Halaman: 
Penulis : Citra Fitri Mardiana, Deni Muhtarudin