logo


Alga Hijau, Masa Depan Energi Alternatif Dunia

29 September 2014 02:31 WIB

ISTIMWWA
ISTIMWWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Masa depan energi dunia mulai mengalami tanda-tanda perubahannya. Dimulai dari krisis energi dunia yang diakibatkan oleh bertambahnya jumlah penduduk dunia yang tidak berbanding lurus dengan ketersediaan cadangan dunia, menyebabkan para pakar energi harus berpikir keras untuk mengganti sumber energi konvensional menuju energi baru terbarukan.

Belakangan ini, para insinyur di US Department of Energy`s Pacific Northwest National Laboratory (PNN) tengah mengembangkan energi baru terbarukan dengan memanfaatkan tumbuhan alga hijau menjadi bahan bakar minyak (BBM).

Dalam Jurnal Algal Research yang dipublikasikan oleh para peneliti yang berbasis di Utah, Amerika Serikat ini menyebutkan, bahwa Dengan penyulingan konvensional tambahan minyak mentah alga dapat diubah menjadi avtur, bensin, atau solar. Bahkan, air limbah hasil penyulingan dapat diproses lebih lanjut menjadi gas bakar dan zat seperti kalium yang juga bermanfaat untuk menumbuhkan lebih banyak lagi ganggang.


Arnold Schwarzenegger Bangun PLTS Nias Utara

Para peneliti membuktikan bahwa Alga menawarkan banyak manfaat dibanding sumber energi terbarukan lain seperti jagung dan kedelai yang digunakan sebagai bahan baku biofuel. Dari berbagai hasil penelitian lain juga semakin menguatkan pendapat bahwa alga adalah sumber energi alternatif terbaik di dunia. Saat ini, dengan bantuan banyak peneliti dari universitas lain, informasi mengenai kemungkinan menghasilkan energi alternatif dari alga, besaran biaya produksinya, produk-produk sampingan yang dihasilkan dan dampaknya terhadap lingkungan telah tersedia.

Keuntungan lain dalam pemanfaatan tumbuhan yang banyak terdapat di Indonesia ini adalah alga bisa tumbuh di segala jenis air, bahkan air limbah. Alga hanya memerlukan sinar matahari untuk tumbuh dan hanya perlu waktu beberapa jam untuk bisa memroduksi kembali energi. Namun bukannya tidak memiliki kelemahan, dalam penggunaan alga sebagai energi alternatif masih terkendala biaya produksi yang kurang ekonomis.

"Biaya adalah hambatan besar untuk bahan bakar berbasis ganggang," kata penelitian tim PNNL Douglas Elliott seperti dikutip Daily Mail.

Menurutnya, masih membutuhkan waktu hingga puluhan tahun kedepan untuk menurunkan biaya produksi minyak hijau tersebut, sehingga dapat diproduksi secara massal.

Para peneliti saat ini terus bekerja keras untuk mewujudkan potensi-potensi tersebut untuk mengurangi ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil yang tidak hanya mencemari dunia dan merusak lingkungan namun juga memicu perubahan iklim dan pemanasan global.

 

Pemerintah Puas Selesaikan Renegosiasi 107 KK Pertambangan

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan, Vicky Anggriawan