logo


Serunya Observasi Orangutan di Hutan Punggualas

Orangutan itu dikenal ramah, tidak takut sekaligus tidak agresif terhadap manusia

24 Februari 2016 16:11 WIB

Ilustrasi orangutan. (google)
Ilustrasi orangutan. (google)

KATINGAN, JITUNEWS.COM – Keberadaan orangutan di habitat aslinya yang terus menjadi korban alih fungsi hutan merupakan indikasi bahwa keberadaanya tengah terancam akibat pembalakan liar.

Melihat hal tersebut, sekelompok anak muda yakni Andi, Lala, Ipul, Robi dan Restu, yang merupakan pribumi asli Desa Karuing, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah, tergerak untuk turun langsung membantu mengidentifikasi keberadaan orangutan kini.

Dikutip dari harian Kompas, Minggu (22/2) lalu, secara rutin mereka melakukan tugas observasi selama 10 hari, lalu bergantian dengan tim lain. Ada beberapa tim yang mengamati orang utan seharian penuh, sejak bangun hingga tidur lagi. 

Tim ini semula bertugas membantu para peneliti dan misi pelestarian orangutan oleh World Wild Life Fund (WWF). Belakangan, mereka kembali intensif melakukan observasi untuk kebutuhan pengembangan ekowisata Punggualas disamping untuk melestarikan keberadaan hewan tropis tersebut.


Unik, Tim Mahasiswa Ini Ciptakan Parfum dari Feses Domba!

Salah satu anggota tim, Restu, mengatakan kerap berjumpa dengan Brown, makhluk kecil yang selalu membuat hatinya deg-degan. Brown merupakan nama orangutan berusia 30 tahun. Ia mulai teridentifikasi sejak Mei 2015 oleh tim observasi orangutan yang beranggotakan warga Desa Karuing. 

“Orangutan itu dikenal ramah, tidak takut sekaligus tidak agresif terhadap manusia,” papar Restu.

Untuk mengamati orang utan, Restu bersama tim pun harus melewati jalan setapak dari kayu yang dibangun secara swadaya di kawasan penelitian Hutan Punggualas seluas 400 hektar yang masuk ke dalam Taman Nasional Sebangau. Diketahui, hingga febuari 2016 ada 29 orangutan yang teridentifikasi dan terdata yang melintas atau menetap di area ini.

Selama melakukan pengamatan, Restu kembali berhasil bertemu beberapa orangutan selain Brown, namun ia tidak bisa mengamatinya terlalu dekat karena sifat orangutan yang tidak mau turun pohon jika mengendus keberadaan manusia. 

“Dua orangutan yang kami temui berjenis kelamin betina, satu orangutan lain berjenis kelamin jantan namun masih kecil  sehingga selalu menempel pada ibunya,” kata Restu.

Sang induk berusia 25 tahun sedangkan anaknya diperkirakan 3 tahun. Sementara satu orangutan yang baru teridentifikasi sehari sebelumnya oleh tim belum diketahui hubungan persaudaraannya dengan orangutan lain. 

Menurut Restu, ketiga orangutan tersebut selalu berpindah dari satu pohon ke pohon lain lalu menetap dan kembali berpindah, tak lain untuk memburu ranting kayu jelutung sebagai camilan utamanya yang memiliki rasa getah manis.

“Sampai dengan saat ini kami telah berhasil mengidentifikasi sedikitnya 4 ekor orangutan. Pergerakan orangutan itu selalu mengikuti musim buah. Jika mereka berhasil menemukan buah tutup kebali mereka bisa makan enam jam nonstop sampai semua buah habis,” pungkas Restu.

Wow, Ternyata Anjing Dapat Mengendus Kanker Lho!

Halaman: 
Penulis : Aditya Kurniawan, Riana