logo


Awas !! Bahaya Dibalik Terlalu Sering Makan Mie Instan

2 Oktober 2014 10:23 WIB


JITUNEWS.COM – Menyantap mie instan dengan telur dan potongan cabai serta sawi sangat begitu menggoda. Bahkan, Rizky (24 tahun), mahasiswa semester akhir di Universitas Moestopo, Jakarta,  menyantapnya saban pagi sebelum berangkat beraktifitas.

Tak heran mie instan menjadi makanan paling favorit karena mudah dalam penyajiaannya. Namun, perlu diingat bahwa makan 2 hingga 3 kali dalam seminggu justru akan meningkatkan resiko penyakit sindrom kardiometabolik. Sindrom ini bisa membuat seseorang beresiko tinggi terkena penyakit jantung, stroke dan diabetes.

Seperti dirilis dailymail, sebuah penelitian soal mie dan kesehatan yang dipimpin oleh Dr Hyun Joon Shin telah dipublikasikan dalam Journal of Nutrition. “Resiko tertinggi terkena sindrom ini adalah para perempuan,” ungkap Shin.
 
Dr Shin yang memimpin studi soal Jantung dan Vascular pada Rumah Sakit Baylor di Texas, AS, menambahkan bahwa, mie instan dan juga ramen sangat merusak kesehatan perempuan. “Ini lebih karena perbedaan biologis semata, antara laki-laki dan perempuan,” papar Shin.

Penelitian yang dilakukan Dr Shin lebih difokuskan di Korea Selatan karena negara ini merupakan pelahap mie instan dan juga ramen tertinggi di dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir justru ditemui peningkatan jumlah masalah kesehatan, terutama jantung dan persoalan obesitas. Inilah yang menjadi acuan penelitian Dr Shin untuk mengetahui kaitan antara konsumsi mie instan dan kesehatan.

Mie instan ternyata mengandung kadar garam yang cukup tinggi. Pola makan dengan kandungan tinggi mineral inilah yang bisa meningkatkan resiko terkena penyakit jantung dan stroke.

Sementara itu, pada awal tahun ini sebuah penelitian juga dilakukan oleh Braden Kuo, ahli kesehatan pencernaan pada Massachusetts General Hospital, Boston. Kuo justru menggunakan bantuan kamera mini untuk melihat apa yang terjadi pada organ pencernaan setelah seseorang makan mie instan dan ramen.

“Kebanyakan mie instan dan ramen mengandung zat kimia tertiary-butyl hydroquinone (TBHQ), sejenis pengawet makanan produk biobutane, yang sering digunakan dalam industri peminyakan,” tegas Kuo.

Kuo menambahkan, dalam percobaan ini yang menarik adalah setelah satu atau dua jam, mie instan dan ramen tidak mudah dipecah oleh usus dibanding dengan mie buatan sendiri.

“Harapan saya adalah penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk penelitian di masa depan tentang efek kesehatan dari konsumsi mie instan.”

 

Cokelat Ternyata Cegah Obesitas

Halaman: 
Penulis : Tommy Ismaya