logo


Mengintip Kebiasaan Orangutan di Habitat Aslinya

Berdasarkan pengamatan, orangutan akan terbangun di pagi hari sekitar pukul 05.00 karena suara jangkrik hutan

24 Februari 2016 13:38 WIB

Orangutan. (net)
Orangutan. (net)

KATINGAN, JITUNEWS.COM – Selain warga Desa Karuing, Kecamatan Kamipang, Kalimantan Tengah yang rajin mengidentifikasi orangutan, Okta Simon, Koordinator Divisi Restorasi Taman Nasional Sebangau WWF Indonesia juga tak mau kalan melakukan pengamatan dan identifikasi orangutan demi kepentingan kelestarian makhluk berbulu cokelat tersebut.

Okta melakukan pengamatan di Kawasan Hutan Penelitian Punggualas seluas 400 hektar yang masuk ke dalam Taman Nasional Sebangau. Menurut Okta, sebanyak 60-70 persen waktu orangutan di habitat aslinya dihabiskan untuk makan. 

Selain bergelantungan dari dahan pohon ke dahan pohon lain, mereka juga kerap turun ke tanah untuk mencari makan. Misalnya, mencari semut di tanah atau memakan rayap yang mereka bongkar dari kayu yang lapuk, terkadang mereka juga makan lumut dengan cara menghisapnya.


Unik, Tim Mahasiswa Ini Ciptakan Parfum dari Feses Domba!

“Orangutan turun ke tanah bukan karena di pohon kehabisan makanan, lebih dari 70 persen pohon disini bisa dikonsumsi orangutan seperti bagian daun, buah dan rantingnya,” kata Okta, dikutip dari harian Kompas, Minggu (21/2).

Okta selalu mengikuti pergerakan orangutan dengan menembus hutan gambut dimana tekstur tanahnya tergenang air berwarna cokelat kehitaman seperti teh. Tanah gambut tersusun dari tumpukan dedaunan atau vegetasi pepohonan selama ribuan tahun namun tidak terurai sempurna karena selalu terendam air. Kerapatan pohon juga menjadi tantangan tersendiri bagi Okta untuk bisa mengamati orangutan.

Berdasarkan pengamatannya, orangutan akan terbangun di pagi hari sekitar pukul 05.00 karena suara yang ditimbulkan oleh karariyang atau jangkrik hutan. Mereka akan turun dari sarang dan mulai mencari makan. Pada siang hari kebiasaan orangutan ialah beristirahat sebelum kembali mencari makan. Pergerakan orang utan di atas dahan dapat diamati dari dahan-dahan yang bergoyang dengan ritme tertentu.

“Orangutan jantan dalam sehari bisa bergerak 2-4 kilometer sedangkan yang betina rata-rata satu kilometer. Mereka akan terus makan hingga jam 5 sore ketika karariyang kembali berbunyi memberi tanda untuk membangun sarang untuk tidur,” jelas Okta.

Sarang dibangun dengan menjalin ranting-ranting diatas pohon. Setelah kawin, orangutan jantan akan meninggalkan betina. Induk orangutan akan kawin 9 tahun setelah anaknya besar. Menurut Okta, orangutan bisa hidup hingga usia 50 tahun.

“Informasi ini kami peroleh dari tim warga desa Kariung, mereka hafal perilaku orangutan dan pergerakan mereka dari waktu ke waktu,” kata Okta.

Taman Nasional Sebangau termasuk kantong orangutan, satu dari empat kera besar di dunia. Hutan ini menjadi gerbang dari jantung Kalimantan. Dari hampir 100 ribu orangutan yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan, 54 ribu ekor berada di Kalimantan dan khususnya 39 ribu berada di Kalimantan Tengah. Hasil survei WWF Indonesia dan Taman Nasional Sebangau tahun 2015 memperkirakan ada 5.800 di Sebangau atau meningkat 7,8 persen dalam 10 tahun terakhir.

 

Wow, Ternyata Anjing Dapat Mengendus Kanker Lho!

Halaman: 
Penulis : Aditya Kurniawan, Riana