logo


Tommy Winata Tutup Tambang Timahnya di Babel

Tomy Winata menegaskan, pihaknya akan mendukung Pemerintah Indonesia mengurangi emisi.

24 Februari 2016 09:36 WIB

Tambang timah Babel. (Istimewa)
Tambang timah Babel. (Istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Berkomitmen untuk menjaga lingkungan dan mendukung kebijakan Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC), PT Refined Bangka Tin (RBT) memutuskan untuk menutup tambang timah dan operasi pemasarannya.

"Semua pemegang saham Indonesia dan mitranya di Singapura telah sepakat untuk menghentikan operasi. Kawasan itu akan dijadikan area konservasi," ungkap Chairman Artha Graha Network, Tomy Winata, kepada media dalam sebuah pernyataan tertulisnya baru-baru ini di Jakarta.

Seperti diketahui, belakangan ini ada isu yang beredar bahwa RBT telah menutup operasi tambang dan pemasarannya. Dalam pernyataannya, Tomy Winata membenarkan bahwa pihaknya telah menghentikan operasi PT RBT.


Harga Batu Bara Kalori Tinggi Menurun, PT Bukit Asam Tetap Pertahankan Target Produksi

"Ini yang bisa saya sampaikan, RBT adalah bagian dari Artha Graha Network. Beberapa kali, laporan audit menyatakan bahwa tingkat ramah lingkungan di sana tidak mencapai apa yang saya harapkan," ujar Tomy.

Tomy menegaskan, pihaknya akan mendukung penuh Indonesia memenuhi komitmen di UNFCCC untuk mengurangi emisi dan pemanasan global. Untuk komitmen tersebut, maka operasi PT RBT pun dihentikan.

"Kawasan itu akan dijadikan area konservasi, kilang tidak akan dijual, peralatan-peralatan akan dihancurkan," tegasnya.

Sekadar informasi, PT RBT yang merupakan bagian dari Artha Graha Network merupakan perusahaan swasta yang didirikan sejak tahun 2007 dan memiliki wilayah operasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). RBT menjadi salah satu produsen logam timah yang terbesar di Indonesia, dengan kapasitas 2.000 ton setiap bulan.

RBT memang dibangun untuk memenuhi peningkatan permintaan ekspor timah dunia dengan kualitas terbaik. RBT memiliki pertambangan timah terintegrasi mulai dari kegiatan eksplorasi, penambangan, pengolahan hingga pemasaran.

Dengan memiliki standar yang tinggi dalam tahapan produksi timah, demi memenuhi kualitas produk sesuai permintaan pasar dunia, RBT sukses berkembang menjadi perusahaan produsen pengolahan timah terbesar di Indonesia dengan kapasitas 2.000 ton setiap bulan.

RBT telah menjangkau pasar-pasar besar dunia seperti Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Spanyol, Tiongkok, Taiwan, Hongkong, dan Pakistan.

Jalankan Restrukturisasi, Krakatau Steel Ingin Kinerja Kembali Sehat

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin